/ 2018-06-27

ASAPMU DI DADAKU

Kau yang mengasapi, aku yang tersakiti.

A post shared by KBR.id (@kbr.id) on

Ketika saya melihat banner lomba blog di KBR ini, saya tergugah untuk membongkar masa lalu saya yang sedikit lebih berwarna dari sekedar lampu lalu lintas. Ada sepasang paru - paru yang siap menggetarkan pita suara ini untuk bercerita bagaimana ia mampu bertahan dari gempuran kabut nikotin selama lima tahun. Ada pula selusin pakaian yang sudah berlubang siap menjadi saksi bisu bagaimana rokok mengubah hidup saya; terperosok dalam keterpurukan serta bangkit dari kesengsaraan.

Prakata
Saya menulis cerita ini dalam perasaan yang tercampur. Hampir seluruh peran--yang berkaitan dengan produk tembakau ini--pernah saya jalani. Mulai dari masa kecil saya yang sempat menjadi perokok pasif, masa muda yang pernah saya jalani sebagai perokok aktif, berhasil berhenti merokok tetapi terjerat lagi, tinggal di daerah yang masuk ke dalam 5 besar penghasil tembakau terbaik di Indonesia, bekerja dalam naungan perusahaan rokok multinasional, hingga akhirnya sukses memproklamirkan diri sebagai sebenar - benarnya mantan perokok. Ada yang ingin anda tanyakan?

Saya tergelitik pada para blogger senior yang telah terlebih dahulu terpilih menjadi juara pada periode sebelumnya; 4 periode 12 pemenang dan hanya satu blogger laki - laki. Wow, rupanya mayoritas perempuanlah yang paling keras memecut para perokok agar berhenti membakar rokok. See?. Saya adalah lelaki; jangan terlalu berekspektasi pecutan saya akan seperih lidah ibu - ibu. Apalagi jika anda membuka buku sejarah saya yang telah disebutkan di atas.

Jalan Dua Arah | Sumber disini
I can tell story in both ways. I want you to understand. Saya tidak dapat menampar satu pipi saja; saya ingin membuat mereka merah semua.

Mode 'Perokok', Aktivasi: On
Saya sendiri lupa persisnya kapan saya mulai berani membeli sekotak sigaret itu dengan uang sendiri. Saya perkirakan itu terjadi sekitar tahun 2009, saat masih tercatat sebagai mahasiswa di kampus negeri terbesar di Yogyakarta. Jauh dari orang tua dan memang ingin mencoba adalah faktor terbesar yang mendorong saya menjadi seorang yang gemar merokok. Saya pun masih ingat betul 'komitmen' saya saat mulai coba - coba: cukup 3 batang sehari. Namun, dua tahun kemudian, harus saya akui bahwa satu bungkus pun bisa habis dalam tempo kurang dari satu hari. Kebiasaan menyedot asap itu juga bertolak belakang dengan hobi saya mengapung di dalam kolam renang. Belum lagi soal keuangan.

Sebenarnya jauh dalam ruang hati sudah timbul sepercik cahaya untuk berhenti. Saya sengaja tidak membuang kotak segi empat pembungkus rokok yang telah kosong dan menumpuknya pada bagian atas dari rak buku; untuk mengingatkan bahwa kecanduan ini sudah cukup untuk dilanjutkan. Apa daya, akibat lemahnya sorot pengawasan orang tua membuat saya semakin terlena dalam lautan nikotin. Hingga akhirnya saya terwisuda dan kembali ke rumah, saya tetap berpesta asap bahkan berani melakukannya di beranda rumah. Semangat ingin mengakhiri pun akhirnya semakin meredup ketika saya mulai mengenangan seragam kerja dengan logo perusahaan rokok multinasional yang terbordir besar di punggungnya.

Stop Merokok: Susah Payah.
Bapak ibu dan saudara sekalian. Saya pribadi berani menyatakan: omong kosong apabila seorang pecandu rokok dapat berhenti tanpa sebab. Saya sudah mengalami hal tersebut: bahwa lepas dari jeratan asap rokok adalah hal super berat yang pernah saya alami. Walau akal berkata berhenti, mulut ini masih tetap mencari; ya terpaksa membakar lagi. Dan saya sangat paham jika saat ini anda, yang masih candu pada rokok, juga berpikir pesimis sebab saya pun sudah pernah menjadi orang yang sangat putus asa untuk bisa berhenti merokok. Saran, himbauan, larangan, bahkan perintah pun hanya menjadi barisan kata - kata yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

I Can't Hear You | Sumber disini

Saya bahkan sudah merasakan bagaimana rokok itu kembali menjerat ketika saya sudah berhasil melepas batang rokok itu selama 3 bulan. Saya merasa sangat mengkhianati diri sendiri.

Hidayah.
Akhirnya, sayapun berhasil lepas dari dekapan benda bercukai itu pada tahun 2014; tepat saya berada dipuncak karir sebagai pegawai perusahaan tembakau. Saya tidak pernah berencana bahkan bertekad kuat sebelumnya untuk menyudahi mengkonsumsi rokok; kalau hanya sekadar niat ya memang sudah tercipta sejak lama.

Mabuk Laut | Sumber disini
Allah Swt. memberikan saya kesempatan untuk melaksanakan niat itu dengan hanya menurunkan satu penyakit yang cukup ringan: kepala pusing akibat kurang tidur saat pulang liburan menyeberang ferry pada trip Bali - Lombok. Sederhana saja, rasa pusing dan mual itu hanya hilang timbul setiap jam sepanjang hari. Penyakit itu memaksa saya untuk rehat sejenak dalam menyedot produk olahan tembakau. Pernah suatu ketika saya sudah tidak tahan, bibir saya berontak. Cukup dua kali sedotan dan saya langsung tidak mampu berlama - lama berdiri; mengetik laporan harian pun saya tidak sanggup. Akhirnya, selama 5 hari saya cenderung mengurung diri pada ruang kerja saya ber-AC; agar tidak terbesit keinginan menyulut api kembali.

Sejak saat itu, bibir dan silinder filter rokok tidak pernah bertemu lagi.

Apa Kata Paramedis tentang Stop Merokok.
Dalam salah halaman meetdoctor.com, saya menangkap bahwa memang BERAT untuk memulai berhenti merokok. Jangankan berhenti, efek samping dari rokok tersebut masih melekat hingga 3 bulan pasca putus hubungan dengan rokok.

Salah satu dokter mengatakan: "Gejala putus nikotin dapat muncul pada 4 jam pertama, memuncak pada hari ke-3 sampai hari ke-5 dan biasanya jauh berkurang setelah 2 minggu. Anda juga mungkin masih merasa tidak nyaman dengan kebiasaan baru Anda (kebiasaan bebas rokok) hingga 2 - 3 bulan kemudian (pada beberapa orang, dapat berlangsung hingga 6 bulan). Gejala putus nikotin biasanya berupa: sakit kepala, mual, gelisah, berkeringat, serta sangat menginginkan rokok."

Say No Again | Sumber disini
Is that true? Sebagai salah satu korban yang pernah merasakan bagaimana sakaunya kepala bagian belakang saat mulai kehilangan asupan nikotin; so, i cannot disagree. Siapa yang tidak pesimis melihat fakta ini: betapa kuatnya kail zat yang memiliki rumus senyawa C10H14N2 ini menjerat sang pecandu.

#selamatkanJKN #kelompokmiskin #rokokharusmahal
Tiga hashtag di atas lantas membuat dahi saya berkerut: mengapa tiga hal ini 'mendadak' saling berhubungan. Dari program radio Ruang Publik KBR yang live mengudara pada tanggal 20 Juni 2018 itu, saya mendapatkan gambaran singkat bahwa penyakit akibat rokok mendominasi pasien BPJS dan salah satu yang menyebabkan peningkatan jumlah perokok adalah harga yang murah. Menaikkan harga rokok sehingga tak lagi terjangkau oleh kelompok miskin diyakini akan mengurangi prevalensi perokok di kelompok ini yang akhirnya akan memangkas beban dari JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

A post shared by KBR.id (@kbr.id) on

Prof Dr. Hasbullah Thabrany, M.P.H., Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI menyampaikan bahwa terdapat tiga hubungan antara JKN, kelompok miskin, dan perokok yang terhubung dalam kata 'mayoritas' di antara adalah (1) mayoritas peserta JKN adalah perokok, (2) mayoritas peserta yang ekonominya kurang mampu juga perokok, dan (3) mayoritas peserta yang disebut PBPU (peserta bukan penerima upah), misalnya tukang ojek, petani, pekerja kasar, serta pekerja lain yang tidak memiliki 'kantor' juga doyan mengkonsumsi rokok dan klaim PBPU di BPJS adalah yang paling tinggi nilainya. Beliaupun turut berpendapat bahwa apabila harga rokok naik maka konsumsi akan turun namun tidak serta merta akan berhenti karena konsumen rokok sudah terjerat dalam candu. Dengan metode ini konsumsi rokok akan lebih terkontrol dalam 20 - 30 tahun dengan kata lain untuk jangka panjang.

Sementara itu, Yurdhina Meillissa, Planning and Policy Specialist pada Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) mengatakan bahwa 22% dari pendapatan kapita mingguan masyarakat miskin dipergunakan untuk keperluan konsumsi rokok. Meillissa atau Mbak Ica menambahkan berkaca pada data yang telah dihimpun sejak tahun 1997 hingga 2014 pada keluarga yang dimana bapak atau kepala rumah tangganya adalah perokok didapatkan hasil analisis bahwa ketika harga rokok mengalami kenaikan maka terjadi penurunan konsumsi daging  dan ikan, sehingga disimpulkan bahwa terjadinya subtitusi konsumsi yang sebelumnya dipergunakan untuk membeli kebutuhan pangan menjadi pengeluaran untuk konsumsi rokok.

Saya kemudian dapat menarik garis yang sejajar dalam informasi yang disampaikan oleh Prof Thabrany dan mbak Ica, bahwa kata 'candu' memberikan kontribusi dalam kasus ini. Seberapa ajaibnya kah rokok ini?

Sekilas Golongan Rokok
Beberapa tahun bekerja dengan belasan varian rokok membuat saya sedikit paham tentang jenis rokok. Terdapat tiga golongan sigaret yang mainstream beredar di Indonesia. (1) Sigaret Kretek Tangan yang selanjutnya saya sebut sebagai SKT, (2) Sigaret Kretek Mesin yang selanjutnya saya sebut sebagai SKM, dan (3) Sigaret Putih Mesin yang selanjutnya saya biasa sebut sebagai Rokok Putih. Ketiga golongan ini yang menurut saya memiliki pangsa pasar terbesar di Indonesia mengingat empat perusahaan raksasa rokok Indonesia fokus beriklan untuk jenis produk olahan tembakau dalam golongan tersebut.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) RI Nomor 146/PMK.010/2017 tetang Tarif Cukai Hasil Tembakau juga disebutkan tentang golongan produk olahan tembakau lainnya, seperti tembakau rajang dan cerutu. Saya, dengan latar belakang Petugas Pengawas Barang dan Jasa, pernah turut serta dalam tim pengamanan barang beredar bersama Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi, pihak Kepolisian, dan Bea Cukai. Kami bersama - sama turun menuju beberapa pasar tradisional di Pulau Lombok. Saya menyaksikan bagaimana rekan - rekan dari Bea Cukai mengamankan puluhan kantong plastik yang berisi tembakau iris yang dijual tanpa cukai. Sehingga dapat saya akui, disamping produk rokok, masih terdapat jenis lain yang terjual di pasaran; meskipun memiliki pangsa yang tidak besar.

Berdasarkan lampiran III dalam Peraturan Menterti Keuangan tersebut dapat terlihat bahwa tarif cukai untuk tiga golongan mayoritas tersebut terdapat pada rentang Rp. 100,- hingga Rp. 625,- per batang dengan golongan SKP sebagai yang terbesar cukainya. Golongan SKT sendiri memiliki tarif cukai tertinggi hanya Rp. 365,- per batang untuk harga rokok yang dijual lebih dari Rp. 1.260 per batang.

Grafik Ilustrasi Perbandingan Cukai Rokok

Golongan Rokok dan Peranannya
Sebagian non-perokok mungkin hanya memahami bahwa rokok hanyalah sebatang produk dengan asap sebagai residunya. Ya, tapi 'kan semua rokok asapnya mengganggu kami si calon perokok pasif. Jika anda memahami golongan serta efek dari masing - masing golongan, anda akan paham mengapa mereka terus membakar rokok.

Cengkeh sebagai salah satu amunisi dalam rokok kretek | Sumber disini
Anda juga harus memahami bahwa setiap golongan memiliki 'rasa' dan sensasi yang berbeda. Hal yang sangat terasa adalah antara rokok putih dan varian kretek (SKM dan SKT) dimana pada kretek terdapat campuran 'saus cengkeh', sementara rokok putih tidak. Dulu, saya sangat lekat dengan jenis kretek. Jangankan suka, rokok putih bagi saya adalah bencana. Tenggorokan kering, bahkan dua kali hisap saja sudah bikin batuk.

Tar, karbon monoksida, serta nikotin adalah senyawa - senyawa yang dihasilkan pada pembakaran potongan - potongan daun tembakau dalam satu linting rokok. Jika anda perhatikan lebih seksama, masing - masing brand rokok memiliki label kandungan tar dan nikotin dengan nominal yang berbeda - beda. Namun, anda dapat menarik satu kelompok data dimana tiap - tiap golongan memiliki jumlah tar dan nikotin yang tidak jauh berbeda di antara brand yang ada di dalamnya.

Kelompok rokok putih misalnya dimana mayoritas anggotanya sepakat bahwa golongan rokok putih memiliki nikotin yang tidak lebih dari 1,0 mg dan tar yang tidak lebih dari 15 mg. Varian kretek berada di atasnya; bahkan tidak jarang angka yang tertera bikin geleng - geleng kepala. Dalam jurnal yang dimulat pada National Center for Biotechnology Informasi (NCBI), Guidotti dkk. menyatakan bahwa varian kretek menghasilkan senyawa tar pada rentang 34 s/d 65 mg, karbon monoksida pada rentang 18 s/d 28 mg, serta nikotin dalam rentang 1,9 s/d 2,6 mg.

Seiring perkembangannya, golongan SKM terpecah dalam dua kategori yakni full flavor (FF) dan low tar low nikotin (LTLN). LTLN, yang mengusung tema 'mild', menawarkan kandungan yang lebih ringan mendekati rokok putih namun tidak meninggalkan identitasnya sebagai rokok dengan campuran cengkeh. Berdasarkan pengamatan di lapangan, dapat dinyatakan bahwa SKM-LTLN memiliki kandungan tar yang berada dalam rentang 12 s/d 18 mg dan nikotin pada 1,0 s/d 1,2 mg. Sementara itu, dalam kategori SKM-FF berdasarkan merk - merk yang hari ini banyak beredar, kandungan tar berada dalam rentang 25 s/d 32 mg dengan nikotin yang berada pada 1,4 s/d 1,8 mg.

Golongan SKT menduduki posisi teratas sebagai pengandung tar dan nikotin terbanyak. Golongan yang cenderung tidak menggunakan filter ini memiliki tar yang berada dalam rentang 32 s/d 39 mg sementara nikotin berada pada nominal 2,2 s/d 2,4 mg. Angka kandungan ini nampaknya tidak jalan seirama dengan nilai beban cukainya.

Perbandingan antar golongan dan jenis rokok terhadap kandungan nikotinnya

Efeknya
Telah banyak penelitian yang melibatkan nikotin dan tar sebagai objeknya. Apakah nikotin menyebabkan kecanduan? Nation Institute on Drug Abuse dalam halamannya drugabuse.org menegaskan bahwa mayoritas perokok mengonkonsumsi tembakau secara reguler karena mereka sudah tercantol candu nikotin. Guidotti dkk. menyebutkan perokok remaja sering melaporkan bahwa merokok jenis kretek dapat menimbulkan efek euforia atau kegembiraan dalam tingkatan yang ringan. Sebagai rokok yang cenderung mengandung banyak nikotin, maka dimungkinkan kretek memiliki peranan yang lebih terkait efek euforia tersebut.

Selain nikotin, terdapat zat yang disebut sebagai eugenol yang memiliki pharmacologic  dan toxicological effect seperti anesthetic, sensitization, hingga hypertension. Neurotoxic effect dari eugenol cenderung menarik karena banyak perokok yang berpikir bahwa asap dari rokok kretek memiliki kandungan efek psikotropika yang ringan. Dalam penelitian yang dilakukan Amanati dan Murni terhadap kandungan tar dan nikotin rokok di pabrik dan pasar dapat terlihat bahwa dalam seluruh sampel yang diuji baik tar, nikotin, serta eugenol selalu memiliki nominal kandungan yang dinyatakan dalam mg. Bahkan untuk mendapatkan nilai kandungan tar, eugenol hadir dalam rumusan perhitungan sebagai faktor pengurang.

Mari Mulai Mabuk Angka
Berdasarkan data WHO, 80% perokok berada pada negara dengan pendapaan rendah hingga menengah. Dalam laporan yang berjudul The Global Tobacco Crisis, WHO mencatat di Mesir, orang miskin membelanjakan 10% kebutuhan rumah tangga mereka hanya untuk rokok. Di Indonesia lebih parah lagi, keluarga miskin di negeri ini menghabiskan 15% pendapatannya untuk asap rokok. Hal yang sama juga terjadi di Meksiko, 11% kebutuhan rumah tangga orang yang paling miskin juga habis untuk barang yang dianggap buruk bagi kesehatan ini. [tirto.id].

Persentase belanja rokok dalam pendapatan rumah tangga miskin

Menteri Kesehatan Nila Moeloek saat membuka Indonesian Conference on Tobacco or Health di Balai Kartini, Jakarta, Senin, 15 Mei 2017 menyatakan bahwa lebih dari sepertiga atau 36,3 persen penduduk Indonesia saat ini menjadi perokok. Merujuk data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Nila menyebut jumlah perokok Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di dunia, di bawah Cina dan India. Bahkan 20 persen remaja usia 13-15 tahun di Indonesia adalah perokok [tempo.co].

#kelompokmiskin dan rokok
Ada apa dengan kelompok ini? Ada kaitan apa kelompok ini dengan rokok? Apa salah rokok hingga harus segera diceraikan dari kelompok miskin?

Ketua Pengurus Harian YKLI Tulus abadi menyatakan bahwa pada rangkuman data Badan Pusat Statistik menunjukkan setiap tahunnya alokasi anggaran rumah tangga miskin nomor dua adalah untuk membeli rokok, yakni 12,4 persen. "Artinya, uang dan pendapatan mereka dihabiskan untuk membeli rokok," ujar Tulus. Menurut Tulus, persentase tersebut masih jauh di atas alokasi untuk kebutuhan lauk pauk dan pendidikan. Biaya konsumsi rokok sebesar 4,4 kali lipat dari biaya pendidikan, dan 3,3 kali lipat dari biaya kesehatan [tempo.co].

Sementara itu, dari halaman theconversation.com, Soewarta Kosen selaku peneliti kebijakan pada Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa belanja rumah tangga kelompok masyarakat miskin untuk rokok, menempati urutan ketiga tertinggi setelah makanan siap saji dan beras, di atas pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan.

Pada halaman katadata.co.id, didapatkan data bahwa jumlah penduduk miskin di desa lebih banyak dibandingkan di kota. Trend ini kontinu terjadi sejak tahun 1993. Pada tahun 2017 persentase penduduk miskin di desa berjumlah 26,58 juta jiwa (13,47%), sementara di kota berjumlah 10,27 jiwa (7,26%). Dalam data lain disebutkan bahwa pada tahun 2015 terdapat 53,3 persen penduduk yang bermukin di daerah perkotaan. Pemerintah sendiri memprediksi persentase penduduk kota dapat mencapai 60% [tribunnews.com]. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsentrasi penduduk miskin berada di wilayah pedesaan.

Sebuah riset yang dilakukan pada Kota Semarang pada kelompok responden siswa SMK didaptkan hasil dimana persentase responden yang tidak merokok di kota lebih tinggi (65%) dibandingkan dengan desa (53%). Sementara responden yang menjadi perokok di desa lebih tinggi (47%) dibandingkan di kota (35%).[Dwijayanti dkk]

Data yang dihimpun pada infodokterku.com menyebutkan bahwa prevalensi merokok lebih tinggi terjadi di pedesaan dengan persentase sebesar 37,4% dibandingkan dengan perkotaan yang hanya sebesar 32,3%. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa prevalensi perokok aktif di pedesaan berjumlah dua kali dibandingkan di perkotaan [theconversation.com]. BPS, dalam infografis pada tirto.id, menganalisis rata - rata jumlah batang rokok yang dihabiskan selama satu minggu per orang/perokok dimana perokok di pedesaan mampu menghabiskan sebanyak 80 batang rokok. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perokok yang berada di kota yang menghabiskan 76 batang rokok dalam satu minggunya.

Perbandingan antara perokok di desa dan kota

Data - data di atas rasanya cukup sejalan dengan pernyataan Prof. Thabrany di atas. Terlihat juga bagaimana rokok yang notabennya adalah konsumsi non kalori justru menghabisi income suatu rumah tangga bahkan jauh di atas pengeluaran untuk pendidikan. Harga rokok dan biaya kesehatan tidak mengenal si kaya dan si miskin. Penduduk kota atau desa akan tetap mengeluarkan biaya yang 'sama' ketika ingin mengkonsumsi rokok; karena produk - produk tersebut sudah sukses terpasarkan secara nasional dalam harga yang sama. Dan apabila timbul problem kesehatan pun, paramedis akan memberikan penanganan yang tidak berbeda. Tetapi perlu digaris bawahi, kelompok miskin mungkin tidak siap dan tidak memiliki cadangan dana yang lebih untuk mencover biaya kesakitan yang diakibatkan oleh konsumsi tembakau.

Hal menarik lainnya adalah kuat asumsi dimana pasar rokok kretek terutama golongan SKT dan SKM full flavor terbesar adalah wilayah pedesaan. Pendapat ini didukung dengan massive-nya iklan - iklan rokok bergolongan tersebut yang tersebar pada pedesaan. Tentu saja pendapat ini akan memperburuk kondisi dimana masyarakat kelompok miskin justru mengkonsumsi produk yang mengandung senyawa berbahaya tertinggi di kelasnya.

#JKN dan Batang - Batang Rokok
Hisap rokok, lantas sakit, kemudian klaim BPJS? Hidup itu indah, bukan begitu?

Hasil Riskesdas Kementerian Kesehatan tahun 2013 mendapatkan hasil dimana rata - rata perokok membakar 12,3 batang dalam kurun waktu 24 jam [okezone.com]. Angka yang cukup tinggi dimana 1 pak sigaret kretek kecil isi 12 batang dapat habis dalam waktu sehari saja. Agak beruntung jika sebungkus itu tergolong dalam SKM low tar low nikotin. Namun justru akan berbalik menjadi mematikan apabila 12 batang itu adalah golongan SKT yang kaya akan kandungan nikotin.

Staf Ahli Menteri bidang Hukum Kesehatan Tritarayati mengatakan beban biaya, khususnya penyakit tidak menular akibat paparan asap rokok sangat besar. Jantung ginjal, stroke, semua ini menyedot lebih dari 70 persen dana yang dikelola BPJS. 8 dari 10 penyakit tidak menular yang paling menyebabkan kematian dipicu oleh pola hidup mengonsumsi rokok.

Beban anggaran BPJS

Permasalahan lainnya adalah prevalensi konsumsi tembakau baik pada laki-laki maupun perempuan cenderung meningkat dan masih menunjukkan pola yang sama pada tahun 2013. Pada perempuan, peningkatan prevalensi lebih banyak dibanding laki-laki dari 1,7 persen pada tahun 1995 menjadi 6,7 persen pada tahun 2013, sedangkan laki-laki dari 53,4 persen pada tahun 1995 menjadi 66 persen pada tahun 2013 (berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dirilis tahun 2014). Dengan terus menerus mengalami kenaikan jumlah perokok, maka angka persentase penggunaan dana BPJS akibat efek samping rokok tersebut sangat memungkinankan untuk terus membengkak.

Guidotti dkk dalam jurnalnya 'Clove Cigarettes, The Basis for Concern Regarding Health Effects' bahkan lebih spesifik menyebutkan penyakit yang berkaitan dengan sigaret, khususnya golongan kretek. Merokok jenis sigaret kretek telah dikaitkan pada 13 kasus penyakit yang serius di Amerika Serikat, di antaranya adalah hemorrhagic pulmonari edema (pembengkakan paru akibat pendarahan), pneumonia, bronchitis, dan hemoptisis (batuk darah). Digambarkan tentang seorang pasien, dimana ia telah merokok golongan kretek, yang didapati komplikasi infeksi paru dengan pembentukan abses pada paru - parunya. Penyakitnya itu dapat disebabkan oleh cairan yang masuk ke dalam paru - paru (aspiration pneumonia) sebagai akibat dari hilangnya rasa (mati rasa) pada bagian faring dan laring (pharyngolaryngeal anesthesia) yang disebabkan dari konsumsi rokok kretek.

Hal yang sangat sederhana untuk menghindari hal tersebut adalah dengan menghindari asap rokok, dan itu adalah amat possible untuk dilakukan. Jaminan kesehatan tidak dapat melindungi penyakit yang timbul akibat sengaja tidak peduli dan kesengajaan memilih jalan hidup yang jelas penuh risiko. Tidak rokok putih, terlebih kretek. Jaminan kesehatan hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin hidup sehat, melaksanakan gaya hidup sehat, serta peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan juga orang lain.

Stop Rokok, Tanda Tanya
Kampanye anti-rokok sejatinya sudah sangat bertebaran digalakkan pada tiap sudut di negeri ini. Segelintir masyarakat yang peduli terhadap mudaratnya benda yang dibakar ini bahkan membuka layanan gratis untuk membantu pada pecandu nikotin untuk dapat terlepas dari kekangan selubung tembakau. Banyak yang mendukung, tidak sedikit yang pesimis. Tidak jarang justru counter-attack lah yang datang menghadang gerakan ini.

Survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014 terhadap siswa sekolah usia 13-15 tahun di Indonesia mengungkap 36,2% laki-laki dan 4,3% perempuan mengonsumsi tembakau. Umumnya, siswa mulai merokok pada usia 12-13 tahun [bbc.com]. Data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014 Indonesia memperlihatkan, 20 persen remaja usia 13-15 tahun adalah perokok aktif. Parahnya lagi, proporsi perokok pemula sebernarnya sudah dimulai pada usia 10-14 tahun. [okezone.com]. GYTS 2014 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pelajar tersebut masih merokok kurang dari lima batang sehari. Tapi, ternyata 11,7 persen perokok pelajar laki-laki dan 9,5 persen pelajar perempuan sudah mulai merokok sejak sebelum usia 7 tahun [cnnindoensia.com].Pada tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia itu kembali merilis data dimana 3,9 juta anak antara usia 10 dan 14 tahun menjadi perokok setiap tahun. Bahkan, ada 239 ribu anak di bawah usia 10 tahun sudah mulai merokok. [okezone.com]. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), satu dari lima anak dan remaja Indonesia dikategorikan sebagai perokok, membuat negara kita menjadi negara dengan proporsi perokok muda terbesar di kawasan Asia Pasifik. Tingkat merokok di kalangan anak-anak usia 10-14 meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. [okezone.com]

Proporsi perokok muda di Indonesia

Salah sasaran. Mungkin itu frasa yang paling tepat menggambarkan bagaiaman angka jumlah konsumen rokok yang justru semakin tumbuh pada usia belia. Pemerintah sebenarnya sedang menggodok regulasi untuk melarang penjualan rokok kepada anak di bawah usia 18 tahun. Bahkan pada beberapa kota di Amerika Serikat, batas minimum pembeli rokok adalah berusia 21 tahun. Produsen rokok juga harus mencantumkan tulisan 18+ dalam mengiklankan rokok. Ketika persoalan defisit dana JKN dan kelompok miskin sebagai konsumen terbesar, kini rokok pun menimbulkan permasalahan pada darah muda penerus bangsa.

Mengejar Bayang - Bayang
Berbicara bahaya rokok kepada perokok dewasa bahkan tua sama seperti mengejar bayang - bayang. Anda sedang sibuk membersihkan muara permasalahan tanpa berhasil mencari hulu dari keruhnya problema. Mereka adalah orang - orang yang memiliki akal pikiran; mungkin beberapa di antaranya memiliki kepandaian yang jauh lebih baik dari pada anda. Mereka adalah orang - orang yang pemberani dan risk taker. Lihat bagaimana mereka berani mempertaruhnya nyawa yang hanya ada sebiji demi menikmati berbatang - batang sigaret. Mereka adalah orang - orang yang cuek. Cuek terhadap kondisi diri; bahkan sangat dimungkinkan orang - orang tercinta yang juga selalu berada di sekitarnya.

Itulah Candu dari keluarga Cerutu. Candu tidak pernah Cukup. Setelah Candu, hadirlah Cuek. Padahal ujung Candu adalah Celaka.

Rokok Kretek, Kawula Muda, serta Masa Depannya.
Guidotti dkk menyatakan bahwa penampilan yang menarik, aroma yang kuat, dan kesamaan minat antar sesama perokok adalah faktor utama mengapa rokok kretek menjadi muda diterima di masyarakat. Rokok kretek diakui sebagai jenis yang ideal untuk 'melatih rokok' (trainer cigarette) guna menangkap perokok baru khususnya anak - anak muda. Hal ini tentu berimplikasi serius bagi kebiasaan merokok generasi di masa yang akan datang.

Dalam database katadata.co.id, didapatkan bahwa varian kretek (SKT dan SKM) masih memegang pangsa pasar terbesar dalam hal penjualan rokok. SKM tetap kokoh pada posisi pertama, namun trend data menunjukkan persentase SKT cenderung menurun dari tahun ke tahun dengan diimbangi golongan SKM yang terus naik setiap tahunnya. Bukan tidak mungkin nantinya golongan SKT akan hilang karena tidak memiliki pasar.


Amerika Serikat sendiri telah menerbitkan larangan menjual rokok beraroma, termasuk aplikasinya adalah rokok kretek sejak tahun 2009. Salah satu biang keladi yang beraroma tersebut ditengarai adalah cengkeh sebagai salah satu bahan utama rokok kretek. Tentu saja hal ini sangat berdasar mengingat penelitian tentang clover cigarette mengingikasikan problem kesehatan yang lebih besar dibandingkan jenis lainnya. Keputusan ini akan memukul ekspor kretek dari Indonesia ke AS yang kini bernilai sekitar 100 juta dollar AS per tahun (data tahun 2009) [kompas.com].

Lagi - lagi ini dilema. Indonesia sebagai pabrik utama rokok kretek dengan jumlah konsumen rokok terbesar ketiga di dunia yang memiliki dana JKN terbatas kemudian digerogoti oleh produknya sendiri yang sampai hati ikut menyeret kawula muda dan kelompok miskin dalam lingkarannya. Tidak berlebihan jika muncul jokes: orang miskinlah yang membuat pengusaha rokok menjadi kaya raya.

Garis Besar Permasalahan
Saya menangkap tiga garis besar permasalahan besar dalam memutus mata rantai candu nikotin ini. Satu, masyarakat miskin yang justu menjadi mayoritas perokok. Dua, muara dari racun ini adalah kesehatan dan JKN adalah lembaga yang dipertaruhkan. Tiga, jangan lupakan sumber permasalahan selanjutnya: suburnya benih - benih baru perokok dari kalangan anak - anak di bawah umur 18 tahun; ini salah sasaran. 

#rokokharusmahal #rokok50ribu, Apakah Solusi?
Anda ingin ikut mengisi petisinya? Ikuti link ini.

Pada prinsipnya, dengan menaikkan harga jual suatu produk maka akan ada kelompok konsumen yang tidak dapat membeli produk tersebut. Apabila teori tersebut terlaksana secara sempurna, maka kelompok dengan daya beli yang terbatas tidak akan mampu lagi mendapatkan rokok.

Ketika saya mencoba iseng melisik kata kunci pada kotak pencarian Google tetang "kampanye anti rokok", hal yang menggelitik adalah ternyata pada tahun 1980 telah diterbitkan perangko dengan gambar dua batang rokok menyala yang hampir habis saling bertindihan membentuk simbol silang. Perangko yang meminiki nilai nominal 150,- itu menjadi saksi bahwa sudah hampir 40 tahun himbauan persuasif tentang ajakan meninggalkan rokok ini adalah tidak efektif.

Studi di Malaysia, Singapura, Inggris, dan Australia menyebutkan jika harga rokok naik hingga dua kali lipat, maka diproyeksikan konsumsi rokok akan turun sebanyak 30%. Turun, tetapi tidak langsung mematikan. Rokok tidak serta merta akan berhenti dikonsumsi. Layaknya air dalam bejana, ketika ia mulai beriak maka butuh waktu untuk kembali tenang. Gejolak akibat wacana mahalnya harga rokok ini sudah pasti akan hadir, seperti yang sempat terjadi di tahun 2016.

Data ASEAN Tobacco Control Atlas 2015 menunjukkan Thailand telah menaikkan nilai cukai rokok sebelas kali (dari 55% hingga 87% dari harga pabrik) dari 1991 sampai 2012. Kebijakan ini menambah pendapatan negara menjadi empat kali lipat dari $530 juta menjadi $1.997 juta pada periode tersebut. Selain itu, kenaikan cukai ini menurunkan prevalensi perokok 32% (1991) menjadi 21,4% (2011). [theconversation.com]

Rokok dan Uang | Sumber disini

Histori dari harga rokok menunjukkan bahwa ia hampir selalu merangkak naik pelan - pelan. Namun ketika terjadi kenaikan harga, maka pola konsumsi rumah tangga akan bergeser; harus ada yang dikorbankan, seperti yang telah diutarakan oleh Mbak Ica dalam wawancaranya pada talkshow tersebut. Begitu kokoknya posisi kebutuhan rokok ini didukung dengan data yang menyatakan bahwa belanja rumah tangga kelompok miskin untuk konsumsi rokok adalah pada urutan ketiga, di bawah makanan siap saji dan belanja beras [theconversation.com]. 

Beras dan bahan bakar minyak adalah sumber energi, daging dan telur penunjang kesehatan diri, dan pulsa seluler sebagai slot baru dalam materi belanja modern dipergunakan sebagai jembatan komunikasi. Tiga hal ini, meskipun juga terhitung sebagai penyumbang angka inflasi, tetapi masih dapat diperhitungkan sebagai media untuk meningkatkan produktivitas. "Rokok tidak menyumbang kalori, tapi tetap harus dihitung sebagai pengeluaran,", papar Ketua BPS Suryamin dalam salah satu media online. Inilah komedi tentang konsumsi rokok.

Dalam studi di tahun 2016 yang dilakukan oleh Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia didapatkan hasil bahwa 72% responden menyatakan akan berhenti merokok jika harga satu bungkus rokok di atas Rp. 50.000,-  [bbc.com]. Jika dibandingkan antara harga beras pada bulan Juni 2016 dan Juni 2018 yang tingkat pergerakannya di bawah 1%, maka kenaikan harga rokok yang rata - rata lebih dari dua kali lipat ini tentu akan mengubah cara pandang seseorang tentang rokok: rokok bukanlah barang kebutuhan, tetapi barang mewah.

Menjadikan rokok menjadi sesuatu yang mewah adalah sebuah ide yang saya rasa sangat rasional. Rokok harus disejajarkan dengan liburan ke luar negeri; hanya orang - orang yang berduit saja yang bisa menikmatinya. Bahwa orang - orang yang ingin merokok harus memiliki kemampuan untuk menanggung akibat yang kelak akan diakibatkan dari mengendapnya asap tembakau tersebut, tanpa perlu membebani anggaran belanja dari BPJS. Bahkan di tahun 2009, Presiden Obama mengakui bahwa orang Amerika membayar 100 miliar dollar tambahan untuk membiayai penyakit akibat tembakau [kompas.com]. Biaya tambahan ini menandakan bahwa terdapat beban tambahan yang harus dikeluarkan lagi akibat konsumsi rokok.

Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia menambahkan dimana berdasarkan survei terhadap 1.000 orang dari 22 provinsi dengan tingkat penghasilan di bawah Rp. 1 juta sampai di atas Rp. 20 juta, sebanyak 82% responden setuju jika harga rokok dinaikkan untuk mendanai JKN. Problemnya adalah di Indonesia Undang-Undang Cukai hanya mengizinkan penarikan cukai hingga 57% dari harga jual dan hari ini rata-rata cukai rokok hanya 40%. Ketentuan ini tentu akan bertabrakan dengan keinginan masyarakat untuk me-lima puluh ribu-kan produk tembakau ini.

Cukai sendiri hanya diberikan kepada barang yang berdampak buruk kepada masyarakat. Sehingga pengenaan cukai adalah upaya menekan konsumsi. Dengan pemberian cukai maka itu berarti barang itu adalah barang yang sah untuk diperjual-belikan tetapi sebenarnya bukan barang biasa. Berdasarkan UU Nomor 39 tahun 2007, barang - barang yang terkena cukai antara lain etanol atau etil alkohol, minuman yang mengandung etil alkohol, dan tentu saja hasil tembakau. Sebuah kalimat bijak namun agak menyentil saya temukan: "Menargetkan penerimaan cukai dari rokok sama saja dengan melegalkan candu dan kecanduannya. Ini justru menjadi sumber masalah baru".

Cukai pada salah satu rokok kretek | Sumber disini

Memahalkan harga rokok tentunya tidak hanya dengan menaikkan cukainya. Menggelembungkan keuntungan rokok juga termasuk metode menaikkan harga, tetapi yang menikmatinya justru bukan masyarakat. Menaikkan biaya produksi juga akan membuat rokok semakin mahal. Pemerintah bisa saja membuatkan aturan baru dengan menempelkan unsur 'pembayaran premi tambahan' bagi setiap bungkus rokoknya. Premi ini dapat langsung dipergunakan oleh JKN guna menangani kasus - kasus kesehatan akibat asap rokok. Tentu saja objeknya tidak hanya si perokok (aktif), tetapi juga korban asapnya (pasif).

Batasi.
Dalam UU 39/2007 di atas, rokok dan minuman beralkohol (minol) adalah barang yang wajib memiliki cukai, namun hanya minol saja yang mengharusnya penerbitan SIUP untuk usaha perdagangannya. Minol tidak dapat diperdagangan secara gamblang, sementara rokok dan varian olahan tembakau lain tidak. Rokok dapat ditransaksikan secara bebas mulai dari toko grosir raksasa hingga pedagangan asongan yang dapat menyelinap ke dalam lorong bus malam. Lantas mengapa harus ada perbedaan pembatasan dari dua jenis produk yang sama - sama harus mengandung cukai tersebut?

Penjualan rokok bahkan bisa sampai pedagang yang paling kecil sekalipun

Alternatif Lainnya.
Saya melihat, selain menaikkan harga rokok, masyarakat yang peduli terhadap bahaya rokok juga menginginkan pelarangan penjualan rokok secara eceran. Penjual rokok eceran adalah lumbung utama bagi perokok - perokok muda berseragam sekolah untuk memulai karirnya sebagai pemuda jantan. Hal ini tentu akan mengubah konten dari PMK 146/2017 yang masih mencantukam harga jual eceran per batang rokok.

Saya pribadi melihat rokok ini sebagai barang yang mudah sekali beredar dan berpindah. Rokok itu demand-nya tinggi, distribusinya merata, serta dikemas dengan sedemikian rupa sehingga dapat dibawa dengan mudah. Coba sekarang cek saku baju atau celana anda, mana yang lebih mudah: mengantongi sebungkus rokok dan korek atau air mineral 800 ml?. Salah satu cara untuk mengendalikan ini adalah dengan menetapkan aturan dimana rokok seharusnya dikemas secara un-kantong-friendly. Dengan ini besar harapan bahwa rokok akan sulit untuk dibawa. Rokok akan tetap dibeli namun ia akan cenderung lebih banyak ditinggal di rumah atau lokasi kerja. Toko - toko juga akan memerlukan space yang lebih luas untuk memajang rokok. Jumlah stok rokok yang dapat tertampung akan sangat terbatas karena hal tersebut. Merubah packaging ini tentunya juga akan menaikkan biaya produksi. Otomatis, harga dasar rokok akan naik dan harga jual pun segera mengikuti.

Desain bungkus rokok hari ini yang masih kantong-friendly
Dalam pendapat lain, saya menemukan pernyataan agar satu bungkus rokok minimal berisi 20 batang. Of course, dengan menambah jumlah isi, harga rokok akan naik dengan sendirinya; di samping deklarasi 50.000 per bungkus. Tetapi hal ini sangat membuka peluang untuk terjadinya kecurangan dengan cara menjual secara eceran apabila nantinya terbit aturan mengenai pelarangan penjualan rokok secara eceran. Sebuah studi menyatakan 64% toko di negara miskin menjual rokok secara eceran karena pasar perokok muda yang tak sanggup membeli rokok dalam kemasan satu bungkus. Mereka terjebak dengan anggapan bahwa rokok sudah menjadi kebutuhan [tirto.id]

Saya memilih berpendapat bahwa dengan mengurangi isi rokok justru akan membantu para perokok yang ingin berhenti merokok. Apabila rokok tersebut berisi 20 batang, maka perokok 'harus' menghabiskan 20 batang tersebut sebelum menjadi apek dan tidak enak. Salah satu mayoritas satuan ukur pada konsumsi rokok adalah 'bungkus'. Mengonsumsi satu bungkus rokok dirasa sudah cukup banyak. Dengan mengurangi isi satu bungkus, diharapkan membantu para perokok yang ingin berhenti secara pelan - pelan. Delapan, enam, atau empat batang dalam satu bungkus? Bisa - bisa saja. Plus, dibalut dengan kemasan yang sangat tidak bersahabat dengan dimensi kantong. Namun metode ini memiliki konsekuensi rokok akan kembali 'murah' apabila dihitung dalam satuan bungkus; karena wacana 50 ribu tersebut diterapkan untuk kemasan 20 atau 16 batang, bukan kurang daripada itu.

Hal yang paling terkini dilaksanakan guna mengendalikan penjualan rokok adalah yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Bogor. Pedagang dilarang memajang produk rokok di kios yang dimiliki sesuai dengan revisi Perda yang sedang dibahas. "Untuk penjualan rokok, sudah ada usulan bahwa mereka masih boleh menjual namun produknya tidak dipajang. Hanya berupa tulisan saja bahwa mereka menjual rokok," ujar Plt Walikota Usmar Hariman [republika.co.id].

'Penutupan' display etalase rokok di Kota Bogor

Tidak Bisa Berhenti? Beralihlah.
Golongan - golongan sigaret di atas dapat dikatakan sebagai kamar penyekat dosis nikotin dan tar pada merk rokok. Cukupkanlah mengkonsumsi produk - produk dengan kadar nikotin dan tar yang tinggi. Beralihlah menuju brand - brand yang mengusung tema low tar low nikotin. Saya bukan sedang promosi, tetapi sedang mencoba mendorong agar nantinya produk SKT dan SKM Full Flavor yang kaya akan nikotin itu dapat lenyap dari peredaran.

Outro
Saya duduk di suatu kedai makan yang berisikan para profesional muda yang tengah rehat siang. Sepertinya mereka telah melalui pagi yang berat. Obrolannya penuh ketidakpuasan terhadap atasan, sedikit leluconnya. Di atas meja tegak berdiri gelas kopi yang isinya tinggal setengah. Di antara telunjuk dan jari tengah mereka terjepit sebatang rokok yang membara; serta asap yang terbang memburu langit - langit. Sesekali mereka menyedotnya dan keluarlah kepulan putih, sayup - sayup lantas menghilang.

Saya mulai terbayang lusinan jembatan baru yang akan terbentang di atas sungai pada daerah - daerah terpencil, bantuan peralatan perdagangan untuk usaha kecil, serta belasan fasilitas kesehatan baru yang akan segera dibangun, Bangga rasanya, masih ada masyarakat yang mau peduli terhadap pendapatan negara via cukai rokok.

Ketika saya membayangkan jalan aspal yang masih mulus, saya justru merinding. Bahwa kita sedang berhutang budi kepada para perokok di bawah umur yang dengan tulus menyumbangkan sepasang paru - parunya demi target pencapaian cukai rokok.
________________________________________________________________________
Tulisan ini saya dedikasikan kepada paman saya, Pakde Jan, partner in crime saya dalam menikmati rokok ketika saya masih berkuliah dulu. Beliau selalu penasaran dengan brand rokok yang saya bawa pulang ke rumahnya; karena selalu berbeda - beda. Beliau adalah seorang penikmat berat rokok kretek tanpa filter, hingga menjelang akhir hayatnya. Saya menjadi saksi bagaimana stroke pelan - pelan menggerogoti tubuh beliau. Innalillahiwainnailaihirojiun.

46 komentar:

  1. dalam pandangan saya, menggelumbungkan keuntungan dalam produksi rokok tidak akan efektif membuat rokok mahal. Yang ada produsen lebih senang ketika produk mereka dijual dalam jumlah banyak namun harga yang bersaing, daripada mahal namun tidak ada yang beli.

    Cara yang paling mungkin dengan menaikkan tarif cukainya. Setiap tahun pemerintah secara bertahap menaikkan tarif cukai. Mustahil dilakukan dengan cara tiba-tiba yang memungkinkan mematikan produsen rokok berikut tenaga kerja yang jumlahnya puluhan ribu orang. Di jawa timur sendiri, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai buruh pabrik rokok.

    selain itu langkah lain yang ditempuh adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok. Tahu sendiri selama ini konsumen banyak dari kalangan kebawah

    BalasHapus
    Balasan
    1. indeed.. itulah bang..
      persoalan rokok ini agak ganjil bagi saya..
      hidup susah matinya tak mudah..

      saya sendiri tidak akan yakin rokok bisa musnah dari muka negeri ini.. kalo mahal, ya bisa jadi, tetapi dalam tempo yang tidak drastis tentunya...

      problemnya adalah, hampir jarang saya lihat penggunaan dana dari hasil cukai tembakau ini untuk sosialisasi bahaya rokok..

      Hapus
  2. Woow .. artikel ini panjaaang dan sarat informasi.
    Good job, Affan 👍

    Satu2nya cara untuk mengurasi konsumtif rokok mungkin memang wajib dinaikkan harga rokok ya.
    Orang akan berhenti merokok setelah melihat mahalnya harga rokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lama ndak keluar, begini lah bang.. keluarnya 'banyak' wkwkwkwkw

      Hapus
    2. Wukakakaakakaa 😂
      Kluarnya buanyaaak ... , ngga kebendung lageeee ..

      Hapus
  3. tahun kemaren ada gosip kalau harga rokok bakalan naik 3 kali lipat. Waktu ketemu sama salah satu dosen saya sewaktu di kondangan, beliau membahas hal tersebut. Lalu saya tanyakan begini : kalau jadi naik 3 kali lipat, berarti harganya kisaran 65 ribuan pak, gimana tuh? Jawabannya : asal ada saja buat belinya. Which is means, semahal apapun pasti ada yang beli ... se-ketagihannya untuk merokok sampai segitunya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. true.. biarkan dia terbeli oleh orang yang tepat.. :)

      Hapus
  4. Dilema bangat ini rokok. Jika produksinya di tutup akan berdampak kepada tenaga kerja dan penghasilan negara via pajak.

    Jika terus dibiarkan juga, bnyk bahaya yg menghantui perokok baik aktif maupun pasif

    BalasHapus
    Balasan
    1. berdampak pada tenaga kerja dan petani itu sudah pasti..
      berdampak pada kesehatan juga sudah barang tentu..

      pelan - pelan, tetapi jangan larut dan dibiarkan.. :)

      Hapus
  5. Rokok adalah dilema. Tapi rokok tidak boleh juga disalahkan. Karena orang Indonesia lebih banyak waktu luang dan menganggurnya, akhirnya digunakan untuk ngobrol dan merokok. Coba kalau anak muda diberi ruang dan waktu untuk berkompetisi dan berkarir di bidang olahraga. Bisa jadi jumlah perokoknya akan berkurang meskipun tak banyak.

    BalasHapus
  6. Kalau bahas tentang rokok dari dulu selalu seperti buah simalakama, dibenci efeknya bagi kesehatan, tapi dibutuhkan cukainya untuk kelangsungan pembangunan. Hiks :'(

    BalasHapus
  7. Wah wah ini artikel apa buku yak... xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inilah candunya nulis artikel rasa skripsi.. Sekali ngetik, dua tiga buku terlampaui.. Hehe

      Hapus
  8. Ini artikel harus dibaca sama ayah saya, supaya mau berhenti merokok..
    Good..

    BalasHapus
  9. Wah sangat banyak informasi baru yang kita ketahui lewat tulisan ini.

    BalasHapus
  10. Memang banyak cara yang bisa dilakukan untuk berhenti merokok namun keinginan yang kuat dari dalam diri si perokok itu sendiri merupakan kunci utama untuk bisa berhenti merokok.

    BalasHapus
  11. Sangat prihatin mengetahui banyak anak di bawah umur yang sudah mengenal rokok.

    BalasHapus
  12. Dampak merokok yang sudah diulas di atas seharusnya bisa membuat para perokok jera.

    BalasHapus
  13. Adanya issue kenaikan harga rokok semoga bukan isapan jempol semata.

    BalasHapus
  14. Dinaikkan harga rokok semoga pembelinya memang orang yang tepat. Maka, aturan ini mesti juga diikuti dengan larangan jual eceran.

    BalasHapus
  15. Salah satu bakal skripsi teman saya tentang pengaruh iklan rokok bagi anak-anak di bawah umur. Sayang yaaaa rokok ini memang sangat merugikan kesehatan ... tapi juga menguntungkan para buruh pabrik rokok. Dilema.

    Btw Kenawa di NTB ya, kalau Kanawa di NTT tepatnya di Manggarai Timur yang ibukotanya Labuan Bajo itu heheheh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes.. makanya saya bingung kemarin, kenawa or kanawa? hehe

      Hapus
  16. Saya paling benci sama asap rokok, meski saya bukan perokok seringkali sesak gara gara menghisap asap rokok. Perlu pendekatan agama sepertinya karena ada yang berpendapat Rokok itu haram

    BalasHapus
  17. Inspiratif sekali. Rokok memang menjadi momok dimana-mana bahkan di negara maju. Di Inggris, lokasi atau tempat khusus perokok menjadi semakin sedikit dan dipersulit sebagai upaya pemerintahnya mengurangi perokok.

    BalasHapus
  18. ish, rokok ini sangar sih. sampai saat ini, negara belum berani untuk menghentikan rokok, ya karena rokok menjadi penyumbang dana terbesar untuk negara. padahal... dampaknya gila-gilaan.

    Keberadaan rokok ini, bagaikan telur pedang bermata dua (eh apa sih istilahnya), ya pokoknya gitu dah, hahaha

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah sudah terbebas dari kecanduan nikotine ya Mas. Seperti keluar dari semua kelekatan, awalnya pasti berat, tubuh menuntut pasokan nikotine yang sudah ia kenal dengan memberi sinyal-sinyal tak menarik. Hanya dengan tekat kuat lah para perokok bisa keluar dari perangkap menyenangkan nikotine :)

    BalasHapus
  20. perokok ini orang paling berani bang sudah ada larangan di bungkusnya, dapat membunuh eh masih berani, larangan Rasulullah jangan lah kamu menjatuhkan diri kamu dalam kerusakan eh dilabrak juga, fatwa sebagian besar ulama rokok itu haram

    BalasHapus
  21. saya perokok berat, dan sangat setuju kalo rokok harus mahal, biar saya bisa berhenti total merokok, udah lama pengen berhenti tapi kayaknya susah banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. See?
      Saya dulu hampir 2 bungkus sehari lo om.. Berat nggak?
      Saya dulu bahkan takut ambil beasiswa luar negeri, takut nggak bisa ngerokok.. hehe

      Hapus
  22. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  23. tulisannya panjang banget mas dan dilengkapi data pulu keren. Btw kok saya tidak menemukan cerita detail bagaimana mas affan bisa pisah dari rokok :)

    BalasHapus
  24. Luarr biasaa tulisannya sangat berbobot sekali mas, sampai bingung mau komen apa :D

    BalasHapus
  25. bersyukur dirumah gak ada yang ngerokok, tapi temen kantor yang cowo-cowo semuanya ahli hisap, hiks. gak nyangka deh di desa dan dikota ternyata presentase perokok cuma beda 4%... ;(

    BalasHapus
  26. Bicara soal merokok dan berhenti memang tak semudah membalik telapak tangan tapi yaa!! Setidaknya kalau belum bisa berhenti lebih baik mengurangi...😄😄

    Saya pun perokok dari sehari sebungkus Alhamdulilah bisa menguranginya jadi setengah bungkus dan terakhir selama bulan ini saya merokok sehari cuma 4 batang insyaallah lama2 berkurang dan syukur2 cepat berhenti...Intinya niat & Sabar. 😄😄😄

    BalasHapus
  27. Saya sich setuju sebenarnya kalau pajak rokok itu dibuat semahal mungkin, ditambah saya sudah berhenti merokok.
    Perjuangan yang sukar memang untuk berhenti merokok

    BalasHapus
  28. Semoga saja rokok benar-benar bisa dinaikkan harganya sehingga orang jadi mikir seribu kali untuk beli rokok.

    Meskipun sudah banyak peringatan tentang bahaya merokok, tapi masih ada perokok yang membantah hal itu.

    Mas Affan, artikelnya yang baru dihapus ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya... kemarin saya posting, empat jam nggak ada komentar.. buat besok aja dah, gitu pikir saya.. toh juga baru 2x24 jam jaraknya, hehe

      Hapus
  29. Awalnya cuma baca tulisan 'Ada pula selusin pakaian yang sudah berlubang siap menjadi saksi bisu bagaimana rokok mengubah hidup saya; terperosok dalam keterpurukan serta bangkit dari kesengsaraan'.. Eh, lama-kelamaan bacanya sampe habis.. Jadi tahu soal rokok, sejarahnya hingga pengaruhnya dalam ekonomi..

    Pokoknya, semoga perokok di masa depan berkurang..

    BalasHapus
  30. Makin tahun rokok malah banyak dikonsumsi dan digunakan, bahkan sampai sampai anak kecil pun sudah banyak yang merokok... walaupun sudah ada tulisan di bungkus rokoknya dapat menyebabkan penyakit yang mematikan tapi malah bertambah banyak.

    yang bikin rokok malah seneng karena produknya laku, kalau mau berkurang sih dari diri sendirinya itu diberitahu... Bukan untuk kebanggaan untuk merokok, tapi akibatnya malah besar

    BalasHapus
  31. Paling nggak suka deh lihat orang merokok seenaknya aja, tanpa berpikir ada orang lain yang terganggu, atau karena dia malah menyebabkan orang lain sakit.

    BalasHapus
  32. kalau menurut saya nih gan, daripad Indonesia capek-capek bikin campaign untuk merokok mending suruh stop aja perusahaan rokoknya... :D :D

    BalasHapus
  33. Sebagai wanita saya setuju sekali rokok harus mahal karena sangat merugikan apalagi bagi wanita hamil bukan saja Ibu tetapi juga janin di dalam kandungan nya

    BalasHapus
  34. Innalillah,sedihnya..bapak saya perokok. Saya bingung bagaimana supaya beliau berhenti..tidak pernah mudah..

    BalasHapus
  35. tapi bisa juga dicoba dinaikkan harga rokoknya langsung 4x lipat, biar mikir 4 kali juga untuk belinya..
    siapa tahu lama-lama jadi malas mereka beli..

    BalasHapus
  36. Super padat deskripsi penjelasannya. Berharap sekali masyarakat lbh banyak menyadari efek kerugian dari konsumsi rokok

    BalasHapus
  37. hidayah memang yg paling utama sih, niat untuk berhenti merokok dari dalam diri..

    BalasHapus