Tampilkan postingan dengan label Aspirasi Anak Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aspirasi Anak Indonesia. Tampilkan semua postingan

/ 2010-03-01

ON THE ROAD - RODA DUA

Ada beberapa hal yang sering dilalaikan

1. Helm ku ada dimana.
Helmku ada dimana ya? Kok tidak menempel mengapit rambut - rambut yang terurai oleh angin ini begitu saja? Apa aku meninggalkannya di beranda rumah tadi? Atau aku sengaja memenjarakannya di dalam kamar agar ia tidak ikut merusak penampilanku yang sudah gagah ini : mencoba menjadi rider pemberani tanpa pelindung kepala agar semua mata memandang takjub. Pembawa setir yang lain hanya akan berdecak untuk dua hal : betapa tangguhnya ia atau justru betapa murah nyawanya.

2. Pantaskah aku mendapat SIM ?
Apakah tidak menjadi beban isi dompetku yang lain nantinya; uangku, STNK-ku, kartu ATM-ku, foto pacarku, apakah mereka akan menjadi sungkan berdesak - desakan dengan SIM abal - abal milikku itu?. SIM yang ku dapat dari seorang berambut panjang yang kerjanya hanya bertanya : bawa uang berapa?. Lantas ia berlari masuk dan "traranng!", foto tanpa senyum itu sudah tercetak di sekeping lempengan putih dan disampingnya terdapat nomer registrasi sebuah surat izin mengemudi.

Sudahkah aku paham tanda panah yang seperti ular itu memiliki makna apa ? Ataukah sudah ku perlambat laju roda duaku ketika melihat pejalan kaki yang dengan susah payah melintasi aspal bergaris lorek - lorek putih itu. Ataukah dalam pikiranku hanya ter-setting sebuah aturan : lampu kuning adalah tanda dimana kendaraan justru dituntut untuk melaju jauh lebih kecang demi menjauhi lampu yang akan menyala berikutnya yakni lampu merah ?

3. Tidak pernah mencoba semua/sebagian besar jenis kendaraan.
Sedikit fakta : lakalantas cenderung lebih banyak hadir karena kesalahpahaman. Salam paham dalam menafsirkan arah gerak kendaraan, salam paham ketika melihat lampu tanda dari kendaraan lain, dan masih banyak lagi salam paham yang lain antar driver.
Pikiran ini tercetus ketika liburan akhir pekan ini. Aku benar - benar duduk dalam kendaraan yang berbeda. Mobil sedan, minibus yang sarat muatan, menumpang truck pasir, bis jarak dekat, dan bis jarak jauh yang sedang kejar setoran. Rasakan saja, beda kendaraan, beda pula pola pikir untuk mengemudikannya.

Ada yang ngebut megal - megol meliuk - liuk, merasa kendaraan pribadi adalah prioritas utama di atas abu - abunya aspal. Atau yang penuh dengan muatan, terlebih muatan yang cukup beresiko terhadap goncangan, ia akan mengemudi dengan rapi, bahkan tak jarang pengemudi memberi tanda untuk mempersilahkan dirinya untuk disalip. Tapi jangan senang dulu. Bis - bis jarak dekat, seperti Jogja-Semarang, mempunyai pemikiran yang cepat : cepat jalannya cepat juga ia berhenti dan menepi untuk menggaet penumpang yang lelah melambai pada kernetnya, tak peduli apa yang ada dibelakangnya.

Tips: pahami pola pikir si supir dari tiap kendaraan lawan. Berhati - hatilah pada kendaraan yang punya pemikiran utama "setoran". Namun jangan pula membuang kesempatan menyalip kendaraan yang tidak terhimpit "setoran".

/ 2010-02-25

RADIO BARU

"ssssssshhhhhhh......!" begitu kata radio itu termenung.

Kamar baru ini tidak menawarkan sesuatu yang dinamis. Tidak ada internet, tidak ada tayangan berita, bahkan tidak ada siaran radio. Bayangkan saja, hidup tanpa sesuatu yang dinamis akan membunuh anda pelan - pelan. Anda serasa hidup di dalam rongsokan pesawat yang jatuh di dalam hutan. Anda hanya akan keluar pesawat ketika : perasaan lapar itu datang, panggilan alam untuk buang hajat, atau anda akan belajar memahami cara berburu.

Begitu pula yang terjadi disini.

Memang aku punya Laptop. Tetap saja, laptop bukanlah barang yang "terlalu" dinamis. Ia akan dinamis jika ia diberikan sebuah koneksi penghubung menuju jaringan internet.

Solusi yang paling murah adalah radio, dan aku memang pecinta radio. Perhatikan baik - baik. RADIO OLD SCHOOL!


Aku hanya bertanya demikian : MANA ADA PEMUDA HARI GINI YANG MASIH PEDULI DENGAN RADIO, HANYA SEBATAS RADIO TANPA ADA TAPE-NYA, YANG BERBUNYI "SSSSSHHHH...SSSSHHHH.." DI DAERAH KOSONG ANTAR STASIUN RADIONYA, YANG HARUS MEMUTAR - MUTAR TUNING FM, DAN KETIKA MENEMUKAN BON JOVI BERKUMANDANG MAKA TIDAK ADA SATUPUN FREKUENSI BASS YANG IA DENGAR ?

*maaf, tapi ini hanya soal selera. Aku suka klasik. Aku suka Honda70. Aku suka radio yang diputar - putar itu. Aku juga Tape Deck dengan dua buah speakernya yang besar - besar itu. Aku juga suka Bee Gees.

Sedikit saran dariku : mendengarkan lagu lewat radio adalah LEGAL. Ketimbang anda men-download ILEGAL. Apalagi sampai harus membeli barang BAJAKAN. Lagu - lagu yang ada di radio juga termasuk terselektif. Tidak seperti acara - acara televisi yang menyajikan sensasi live padahal palsu terlebih lagu - lagunya tidak bermutu.

/ 2010-01-11

ZEBRA CROSS YANG BERALIH FUNGSI

Dimana perkataan "dahulukan pejalan kaki".

Kejadian ini terjadi disebuah perempatan pertemuan antara Ring Road utara dan Jalan Monjali (Monumen Jogja Kembali). Tidak ada yang salah. Si pasangan yang dimabuk mesra itu menggunakan helm standar (walau bukan full-face), memasang plat nomor, memiliki balon lampu belakang (lampu rem yang menyala, dan berhenti tatkala lampu lalu lintas merona merahnya. Ditambah sang bini merangkul erat si pejantan, tanda ketakutan kalau - kalau lakinya mendadak membikin motor itu nungging ketika tarikan pertama (gambar ada di bawah).

Intermezo sedikit. Jogjakarta adalah memang terpandang sebagai ikon kota pelajar. Tidak sedikit pelajar - pelajar luar daerah yang mengadu kecerdasan otak disini, bahkan jumlah ini hampir sulit didapatkan di kota - kota lain, selain Jakarta dan Bandung. Wajar saja bila mata anda akan dimanja wajah - wajah belia nan ayu dibalik asrinya kerudung, atau bisa saja hati menjadi iri bukan main melihat sebuah pasangan saling merangkul tanda bahwa Jogja adalah saksi cinta mereka.

Geliat jiwa muda pun ikut meningkat. Lihat saja tampilan yang nongkrong disekitar tubuh belia tersebut. Mulai dari pakaian yang melekat, handphone yang berkilau, dan kendaraan yang justru mampu menggambarkan kepribadian dalam dirinya. Jika setiap pemuda memiliki semua diatas tersebut, maka yakinlah bahwa jalanan di Jogja sudah pekat dengan aroma kegengsian dari asap yang mengebul di knalpot mesin mereka.

Nah, apa yang dilakukan sepasang kekasih di atas adalah buah dari gengsi tersebut. Malam tahun baru, hampir seluruh ruas jalan macetnya bukan kepalang. Hampir sulit ditemukan jengkal aspal yang tidak terlindas oleh karet ban. Disamping itu, ego enggan terlambat untuk melaksanakan tahun baru jadi ikut menggebu. Jadilah mereka yang menghuni zebra cross, bukannya pejalan kaki.

Jikalau mau ditelisik lebih lanjut, orang yang berhenti di zebra cross akan sangat sukar untuk mengetahui apakah lampu telah berubah warna atau belum. Boleh jadi, ketika lampu sudah menjelma menjadi warna hijau dan mereka belum kunjung bergerak, aroma kekesalan berhembus dari orang - orang dibelakangnya. Suara klakson pun berseliweran, bahkan sumpah serapah.

Jadi, mari patuhi peraturan LALU LINTAS dengan berhenti di belakang garis marka jalan. Setuju?

/ 2009-12-21

INFOTAIMEN BERULAH, LUNA MAYA GERAH

Seberapa sering anda membuang duit iuran listrik anda untuk menonton omong kosong dari sebuah infotaiment? Seberapa pedulikah anda jika seorang Rafi Ahmad disukai seorang wanita tua Yuni Shara? Atau seberapa pengertiankah anda ketika Ahmad Dhani main mata dengan pegawainya sendiri, Mulan Jamila?

Makan pagi anda bisa jadi ditemani dengan berita gosip. Atau istirahat siang anda yang diputar - putar dengan berita perceraian. Dan waktu menyiram bunga di sore hari anda bertemankan berita - berita perselingkuhan para artis berparas aduhai. Lihatlah proporsi berita yang mestinya diangkut truk kuning itu, terlalu banyak, bahkan anak - anak berseragam pun mengikuti gaya hidup mereka, seolah - olah gandengan tangan adalah bukan hal yang tabu dan cerai-selingkuh sudah menjadi trendsetter dalam hidup.

Bagaimana kira - kira kalau anda dicibirkan mempunyai selir di gubuk lain oleh para tetanggga anda? Suatu kehormatan besar dapat menjadi terkenal dikalangan penduduk komplek, namun sebuah kehinaan yang teramat ketika anda terkenal gara - gara perkara kelamin anda yang terlampau gatal. Adakah hal lain yang menjadi pondasi pokok sebuah infotaimen?

Anda boleh jadi lebih tahu problema cinta seorang Pasha Ungu ketimbang masalah bangsa yang berdomisili di tanah Papua. Semua orang menebak - nebak sebuah fiktif : apakah Pasha Ungu akan berbaikan dengan mantan istrinya. Namun orang enggan berfikir sebuah realitas : kapan bangsa ini akan terbebas dari belenggu kemiskinan dan kebobrokan.

Luna Maya pantas untuk gerah sebab, jika media memuat berita dirinya yang tidak kunjung menikah dengan si biduan Ariel, tidak akan mampu menambah pengahasilan kaum buruh yang terjepit dari mininnya upah yang diterima. Tinggalkan infotaimen yang hanya memburu wajah - wajah molek akibat make up. Simaklah perjalanan pak Dudit mencari eksotis laut Indonesia yang kaya akan fauna laut yang siap menyambar kail pancingnya.

Infotaimen harusnya merubah cara berpikir mereka. Artis tidak hanya memiliki nilai jual pada gosip yang dimilikinya, namun artis juga pasti mempunyai segudang prestasi yang akan membangun para pemujanya untuk dapat menggapai sukses seperti dirinya. Infotaimen juga harus memberikan sebuah makna dibalik sebuah berita, sehingga berita tidak menjadi dangkal dan murahan belaka.

Selektiflah memilih infotaimen, ada yang dapat mendidik namun ada juga yang hanya sebatas kotoran semata. Di luar sana, masih banyak program televisi lain yang dapat membuka mata kita untuk melihat betapa seksi alam dan budaya Indonesia.