Ada beberapa hal yang sering dilalaikan1. Helm ku ada dimana.
Helmku ada dimana ya? Kok tidak menempel mengapit rambut - rambut yang terurai oleh angin ini begitu saja? Apa aku meninggalkannya di beranda rumah tadi? Atau aku sengaja memenjarakannya di dalam kamar agar ia tidak ikut merusak penampilanku yang sudah gagah ini : mencoba menjadi rider pemberani tanpa pelindung kepala agar semua mata memandang takjub. Pembawa setir yang lain hanya akan berdecak untuk dua hal : betapa tangguhnya ia atau justru betapa murah nyawanya.
2. Pantaskah aku mendapat SIM ?
Apakah tidak menjadi beban isi dompetku yang lain nantinya; uangku, STNK-ku, kartu ATM-ku, foto pacarku, apakah mereka akan menjadi sungkan berdesak - desakan dengan SIM abal - abal milikku itu?. SIM yang ku dapat dari seorang berambut panjang yang kerjanya hanya bertanya : bawa uang berapa?. Lantas ia berlari masuk dan "traranng!", foto tanpa senyum itu sudah tercetak di sekeping lempengan putih dan disampingnya terdapat nomer registrasi sebuah surat izin mengemudi.
Sudahkah aku paham tanda panah yang seperti ular itu memiliki makna apa ? Ataukah sudah ku perlambat laju roda duaku ketika melihat pejalan kaki yang dengan susah payah melintasi aspal bergaris lorek - lorek putih itu. Ataukah dalam pikiranku hanya ter-setting sebuah aturan : lampu kuning adalah tanda dimana kendaraan justru dituntut untuk melaju jauh lebih kecang demi menjauhi lampu yang akan menyala berikutnya yakni lampu merah ?
3. Tidak pernah mencoba semua/sebagian besar jenis kendaraan.
Sedikit fakta : lakalantas cenderung lebih banyak hadir karena kesalahpahaman. Salam paham dalam menafsirkan arah gerak kendaraan, salam paham ketika melihat lampu tanda dari kendaraan lain, dan masih banyak lagi salam paham yang lain antar driver.
Pikiran ini tercetus ketika liburan akhir pekan ini. Aku benar - benar duduk dalam kendaraan yang berbeda. Mobil sedan, minibus yang sarat muatan, menumpang truck pasir, bis jarak dekat, dan bis jarak jauh yang sedang kejar setoran. Rasakan saja, beda kendaraan, beda pula pola pikir untuk mengemudikannya.
Ada yang ngebut megal - megol meliuk - liuk, merasa kendaraan pribadi adalah prioritas utama di atas abu - abunya aspal. Atau yang penuh dengan muatan, terlebih muatan yang cukup beresiko terhadap goncangan, ia akan mengemudi dengan rapi, bahkan tak jarang pengemudi memberi tanda untuk mempersilahkan dirinya untuk disalip. Tapi jangan senang dulu. Bis - bis jarak dekat, seperti Jogja-Semarang, mempunyai pemikiran yang cepat : cepat jalannya cepat juga ia berhenti dan menepi untuk menggaet penumpang yang lelah melambai pada kernetnya, tak peduli apa yang ada dibelakangnya.
Tips: pahami pola pikir si supir dari tiap kendaraan lawan. Berhati - hatilah pada kendaraan yang punya pemikiran utama "setoran". Namun jangan pula membuang kesempatan menyalip kendaraan yang tidak terhimpit "setoran".

