INGIN MELIHAT INDONESIA ?

Kepada para relawan dan donatur.

Tidak ada salahnya jika kita kembali melihat spion kendaraan kita yang disebut INDONESIA. Melirik kembali bencana alam yang sempat mengguncang bangsa ini. Gempa dan tsunami Aceh, Gempa Jogja, Gempa Padang, Tsunami Mentawai, dan yang masih dalam kondisi 'awas' yakni bencana Gunung Meletus Merapi.

Lihatlah kembali wajah - wajah yang kalut dalam keputus asaan itu. Wajah - wajah muram setelah diterkam bencana alam itu. Hiruk pikuk dalam tangis diselingi bergemanya nama Tuhan ditengah lautan gedung - gedung yang luluh lantak dan suasana yang mencekam. Siapa yang akan menjadi sandaran mereka ?

Lihatlah, semua orang dalam setiap elemen bangsa ini tergerak. Mulai dari mobilitas para tim relawan hingga anak - anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar, mereka menyumbang tenaga, akal pikiran serta sebagian harta yang mereka miliki untuk dihibahkan kepada saudara mereka yang sedang bersedih di pulau seberang sana. Mereka tidak pernah bertukar nomer handphone bahkan mereka belum pernah saling bertatap mata. Namun mereka yang didasarkan pada rasa iba dan keikhlasan tidak pernah merasa terberatkan untuk sekedar menyambung secercah senyum yang sempat tertunda.

Itulah INDONESIA. Beratus - ratus juta penduduknya namun tidak saling mengenal. Tapi ketika ada yang merasa dalam kesakitan, mereka turut baur dalam rasa pedih tersebut. Tidak perlu pamrih, tidak perlu balas budi, yang penting mereka yang sedang dalam keputus asaan itu mampu menyambung kembali senyum yang sempat tertahan tersebut.

img src="http://www.boston.com/bigpicture/2010/11/mount_merapis_eruptions.html"
[..]


SKETSA REMBULAN DI BALIK MERAPI

untuk mereka

masih ku kenang kala itu
ketika kita duduk di balik pohon pinus
memandang teguh purnama
di balik merapi
yang diam diam mengintip kita
bercumbu

ah!
kecupan itu masih ada
jangan sampai engkau lupa
kau cumbui aku, hangat
seraya kau lukis sketsa rembulan
pada angan - angan
pada balik merapi

tapi
mana tahu aku kini
masih adakah sketsa milikmu itu
ataukah sudah termakan api
atau terlalap pijar
bahkan
masih adakah
rembulan itu di balik merapi?

Yogyakarta, 3 November 2010. [..]


PEKAN YANG BERAT

Saya sakit lagi.

Sudah seminggu saya harus membawa - bawa sakit mag ini kemana - mana. Masuk ruang ujian, pergi "mengungsi" ke kediaman kakek, hingga saya harus terbaring bersama cairan infus di ruang UGD. Saya stress dengan kondisi perut saya yang hampir sekarat akibat serangan cholic ini.

Tentang Climate-stress

Saya pernah diceritakan oleh dosen saya tentang climate-stress. Kondisi dimana terdapat tekanan mental akibat kondisi cuaca. Di Swedia, angka bunuh diri cukup tinggi akibat climate stress. Hal ini disebabkan cuaca Swedia yang cenderung "putih-abu abu" dimana ketika matahari tidak muncul atau hanya separuh namun kondisi tersebut berlangsung sangat lama.

Apa yang terjadi di sini ?
Abu vulkanik yang menutupi area kos-kos-an saya juga membuat segalanya menjadi putih. Dan saya menjadi stres!. Ketika saya bangun tidur, segalanya putih. Bangun tidur lagi, segalanya putih. Begitu terus berlangsung. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengungsi saja ke rumah kakek saya yang ada di wilayah Bantul sana yang tidak terlalu banyak terkena dampak abu.

*tapi, ketika saya pulang, masih juga putih!. Untung, sore ini hujan deras datang mengguyur.

Tentang Merapi.

Mungkin ada sebagian kawan blogger yang menunggu segelintir liputan saya tentang Merapi. Tapi rasanya hal itu tidak perlu. Media sudah terlalu banyak mengekspos dan saya akui, mereka hampir mendekati benar dan hampir semua hal mereka telah cover. Bahkan kecepatan mereka untuk mengabarkan jauh lebih cepat dari pada seorang blogger mengeposkan sebuah posting.

Kemarin, saya datangi wilayah Pakem, tempat pengungsi berada plus rumah kawan kampus saya. Memang kondisinya sangat mencekam karena jaraknya yang relatif dekat pada Merapi.
[..]