MELEWATI COBAAN

Pagi ini (10/09/2012) saya dibangunkan oleh sayup - sayup suara penyiar infotainment dan sebuah backsound dengan nada - nada lirih. Setengah sadar, tetapi saya tahu itu bukan sebuah berita yang menggembirakan.

... 'Dokter bilang ada jarak beberapa bulan, kalau ini sudah diambil tapi masih begitu-begitu aja, risikonya kami tidak bisa memiliki anak dengan normal, .... Saya beharap sama Allah SWT, kalaupun yang kiri diambil, semoga yang kanan masih bisa berfungsi untuk membuahi,' ...      -- hot.detik.com, Terancam Tak Punya Anak, Ustad Solmed Tak Kuasa Menahan Tangis

Tidak perlu bergosip, tidak perlu mengumbar aib, tidak perlu menuding, dan tidak perlu mencari hitamnya bulu kambing.

Singgah sejenak di pojok pikiran saya : bagaimana dan apa yang akan terjadi jika sang istri (April) tidak menerima pinangan sang ustazd dahulu dan cobaan ini pun terjadi hari ini bersama dengan lelaki lain? Lelaki yang mungkin masih goyah pondasi imannya dan yang mungkin tidak mampu menjadi teman untuk bersandar.

Menangis, tentu sebuah fitrah. Tetapi saya sempat menyaksikan sang ustazd tetap tersenyum meskipun terasa pahit. Tetapi lautan hati itu tetap tenang, tidak serta merta bergolak membikin ombak. Tetap tenang, sehingga titik cakrawala itu masih terlihat dengan jelas sehingga mampu berpikir secara jernih dan lugas.

Ingin sekali saya bergabung dengan kelompok fitness 'hati' milik ustazd Solmed ini, sehingga memiliki pundak yang kekar serta besar sehingga segala curahan dan beban sang penjaga hati ini nantinya dapat bersandar. Dan saya pun mampu menaklukannya dalam pikiran yang jernih dan hati yang tiada bergejolak.

Di ujung sajadah

di ujung sajadah
tangisku pecah

doaku tumpah
keluhku tercurah

malam terbelah
[..]


RUMAH ANE GEMPA, GAN!

Satu - satunya tempat yang bisa anda lihat untuk menumukan judul tulisan di atas hanya ada di dua situs : facebook atau di twitter.

Beberapa hari terakhir, di tempat tinggal saya digucang oleh gempa - gempa yang cukup menggetarkan kaca rumah dan menggetarkan hati. Seingat saya yang pertama adalah ketika beberapa menit setelah prosesi azan buka puasa dilaksanakan (09/08/2012 - 5,6 SR). Dan yang terakhir adalah pada subuh buta di hari Selasa (04/09/2012 - 6,5 SR). Pot - pot bunga anggrek yang sengaja digantung oleh ibu saya bergoyang hebat, seperti sedang dimainkan oleh angin badai. Lemari dan dipan tempat tidur pun bergetar hebat membuat sebuah suara yang menakutkan.

[..]


BOTAK

Botak.
Hmm.

Terakhir kali rambut saya hampir botak adalah ketika saya sedang mengalami masa OSPEK dulu. Rambut saya bagaikan duri sikat toliet, tajam - tajam berdiri ke segala arah. Seingat saya dulu, jika bercukur potongan rambut Mohawk, Tintin, jambul, belah tengah, ataupun botak, saya tetap harus mengeluarkan rupiah dengan nominal yang sama. Padahal setahu saya, nge-botak-in orang itu gak sulit - sulit amat. Kita gak dituntut model yang aneh - aneh, gak takut juga mau mencong apa gak, wong potongannya juga : botak.

Kalau saya bertemu dengan orang botak, maka saya langsung teringat oleh batang korek api. Gak usah tanya kenapa, pasti sudah tahu maksudnya. Tapi jangan membayangkan sebatang korek gas.

Dengan punya rambut botak, saya tidak perlu repot - repot bersisir. Bahkan samphoo-an juga tidak perlu setiap hari. Dan saya pun harus tebal iman, menjadi bahan cibiran para gadis belia yang memandang kepala saya layaknya sikat jamban ataupun pentol korek api. Rasanya, antara harga se-sachet samphoo dan harga diri yang terinjak sama sekali bukan sebuah perbandingan. Berarti lebih baik punya rambut, kan?

Pendapat lain juga bilang jika orang botak itu seksi. Macho, gagah, berani, penuh tantangan. Saya mendadak jadi ingat aktor laga Vin Diesel. Ugh! Kekar men!. Pertanyaan selanjutnya adalah manakah yang lebih dahulu dibentuk? Nge-botak-in kepala atau Nge-kekar-in badan? Kalo badan sudah kekar, bolehlah kepada dibotakin. Tapi kalo perut masih buncit?.

Anda bukan mahasiswa baru? Silahkan perhatikan wajah - wajah gosong, culun, penuh dengan segudang pertanyaan, dan tentu saja dengan kepala yang separuh bahkan hampir botak yang mulai marak tersebar di seluruh pelosok kampus anda. Maka anda sudah tentu tahu : mereka adalah mahasiswa baru.



Salah satu peserta OSPEK mahasiswa baru Fakultas Teknik UGM

Saya pernah botak lima tahun yang lalu. Sekarang saya sudah gondrong lagi. Tetapi semangat saya hampir sama seperti bukit nan tandus : botak.

[..]