MEGA BAZAR DAN MEMBENGKAKNYA DOLLAR

(ditulis pada 25 Februari 2009 pukul 10.15 WIB)

Ada - ada saja. Masa dalam sebulan sudah ada dua kali pameran komputer.

JEC kembali bergolak. Petugas parkirnya kebagian semprit yang akan bertiup cukup panjang. Petugas sapunya juga sudah siap menyapu brosur - brosur malang yang terbuang sia - sia. Pada tanggal 25 Februari ini JEC akan digoyang pameran komputer. Lagi. Lagi untuk kedua kali di bawah naungan bulan Februari. Lagi. Lagi - lagi dikunjungi orang - orang yang sama, warga Jogja dan mahasiswa yang kesepian.



Mega Bazar, begitulah mereka menyebutnya. Sebuah perhelatan akbar yang memamerkan aneka komputer, baik PC, Laptop, Notebook, maupun segala aksesorisnya. Produk lokal maupun produk impor diadu kemampuannya untuk merebut hati para konsumen. Hmm. Tapi siapa yang sangka, malam itu bukanlah malam yang baik rasanya untuk memulai sesuatu yang masih melibatkan dollar ?. hehe.


Tanggal 25 Februari, langit masih digantungi awan yang pekat dan cepat, berarak - arak dari arah barat Jogja menuju timur. Aku dan kawan - kawan yang berencana berangkat pukul empat harus menelan pil pahit ketika melihat hujan dan angin mendera atap kos - kosan temanku. Terpakasalah kami menunggu sang hujan meninggalkan area kami. Dan akhirnya kurang lebih sekitar jam 5 kami memacu motor ke JEC. Memang, cuaca kala itu sedang kurang bersahabat. Awan masih jelas menggantung, dan masih terasa serpihan - serpihan hujan menerpa wajah kami, walaupun kadang menghilang. Jalanan masih becek, dan masih kuat aroma sisa - sisa hujan.

Setibanya disana, kami disambut dengan keadaan tanpa antrian. Biasanya (ini yang terjadi pada pameran - pameran sebelumnya, seperti King-Kong) pintu parkir penuh dengan lautan orang dan motor bak kejadian bensin langka. Area parkir pun tidak terisi secara maksimal. Setelah menukarkan uang 3000 rupiah dengan selembar tiket, kami pun diperbolehkan masuk.

Seperti yang sudah - sudah, pameran ini menggunakan semua space yang tersedia di dalam gedung, tidak ada sudut yang menganggur. Tapi yang bikin beda adalah design dan tata letak. Begitu kami masuk, kami langsung disambut gatget - gatget yang lagi ngetren saat ini. Barang - barang itu tertata rapi, sesuai dengan stand - standnya yang mengacu pada masing - masing merek. Lenovo, Axioo, Acer, Toshiba, wow !. Segalanya berjejer siap menjadi penerima tamu dan siap membuat tamu berdecak kagum. Belum lagi dentuman yang ditawarkan Simbadda, menambah apik suasana yang tercipta. Dan akhirnya, kami melangkah dengan pola eS (huruf S) mengitari semua stand - stand komputer. Dan tak lupa, kita mencomot brosur - brosur gratisan. Walaupun kita tidak beli, setidaknya kita tahu apa yang sedang tren dan berapa sih harganya.

Seperti yang aku bilang di atas, awan sedang tidak mau berkompromi. Ketika kami melesat ke pintu keluar, hujan dan petir sudah siap menghadang. Dan batalah agenda pulang kita, yang kita jadwalkan pukul 7. Suka tidak suka, kami yang sudah terlanjur keluar gedung harus menunggu hujan reda, karena kalau kita masuk lagi, ya mesti bayar lagi karcis masuknya dong. Akhirnya kami duduk di salah satu emperan gedung, sembari menunggu hujan reda, dan aku pun mulai mengutik - kutik brosur - brosur yang sudah ku comot tadi.

Wew !. Lihat, flahsdics Kingston 4 Gb sekarang harus ditukar dengan 114 ribu. Padahal, pada pameran sebelumnya, yang mejeng di awal bulan ini, kita masih dapat beli dengan harga 90an ribu. Tidak sampai disitu, Laptop Acer 4530 naik secara dratis. Masih ingat aku, sebulan yang lalu aku pergi mengantarkan kawan untuk membeli laptop itu, dan ia pun mendapatkannya dengan harga 6.450.000 rupiah. Kini, lihat, laptop itu dapat dibawa pulang dengan uang 6.900.000 rupiah. Aduh !. Untunglah ia beli kemarin, kalau ia beli sekarang, aku jamin, uang makannya akan berubah menjadi laptop.

Ini mungkin imbas dari melemahnya nilai tukar rupiah dimana pada pameran kali ini rupiah diasumsikan berada pada titik 12.000 untuk setiap satu dollarnya. Entah besok bagaimana, apakah akan terus jatuh ataukah akan menjadi kuat dan akan terus kuat hingga mencapai 8000an, hehehe.

Hmm. Barangkali itulah jawaban mengapa pada pembukaan perdana pameran ini belum terasa gaungnya. Dollar yang tinggi, ditambah cuaca yang kurang bersahabat membikin minat beli konsumen jadi turun. Dan boleh jadi, masyarakat mejadi jenuh akan pameran karena masa dalam sebulan ada dua kali pameran, isinya juga itu - itu saja, hehe.

Kalau dari aku sih : Mahal, TV Tunernya mahal. Jadi males beli, tunggu dollar turun dah, xixixixixi.





[..]


UNEK - UNEK KOMUNIKASI HEMAT

Yuk berbicara tentang sebuah pembicaraan. Sebuah pembicaraan yang berakibat terjadinya sebauh interaksi, minimal dua orang. Sebuah pembicaraan yang saling timbal balik, yang saling bersahut - sahutan. Sebuah pembicaarn itu ya komunikasi. Jadi, apa itu komunikasi ?.

Secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya 'dengan', atau 'bersama dengan', dan kata umus, sebuah kata bilanagn yang berarti 'satu'. Dua kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan communion yang berarti kebersamaan, pergaulan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. karena untuk ber-communio diperlukan adanya usaha dan kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukansesuatu kepada seseorang, bercakap - cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman. Jadi, komunikasi berarti pemberitahuan pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan. (Maliki, 2003)

Berangkat dari definisi tersebut, kita akan mencoba menguak secara gamblang, mungkinkah acara berkomunikasi kita bisa jadi hemat ?


Aku ingat beberapa tahun silam. Waktu itu ibuku masih menenteng hape jadulnya ke dalam rumah, Nokia 3315. Seongok barang monokrom, yang cuma bisa berbunyi tut-tit-tut-tit, tanpa kamera, dan tanpa sambungan internet. Kala itu, hape macam gitu sudah bisa bikin si empunya berbangga. Maklum, orang yang punya hape masih bisa dihitung dengan jari. Dan yang lebih parah lagi, walaupun kala itu krisis sedang tidak bergolak, harga hape itu bisa mencapai jutaan. Sayang, nokia hijau itu kini sudah mesti berpindah tanggan. Hape dan kejadulannya tertinggal di sebuah ruang kuliah di Bogor, ketika bapakku membawanya tempo hari. Saat ini, ibuku sudah pake hape baru. Dengan benda itu, ibuku bisa tiap hari mendengarkan koleksi MP3 Pance F. Pondang kesukaan beliau.

Mundur lagi ke belakang. Dimana masa - masa suram masih terjadi, dan aku masih berseragam putih-merah. Aku masih ingat waktu itu, aku "mencuri" kartu telpon milik Bapakku. Itu lho, kartu telpon yang kalau udah kita pakai nelpon terus ada bolong - bolong di atasnya. Dan dari situlah, aku mulai belajar, inilah namanya pulsa. Pulsa harus dibeli dulu, baru dipakai, sambung pikiranku.

Mari mundur lagi, menuju lorong waktu saat aku pertama kali duduk dibangku sekolah dasar. Tiada telpon dikomplek waktu itu. Yang ada hanyalah secarik kertas dengan ucapan "Salam Sayang", "Wassalamualaikum", dan mungkin ada pembubuhan tanda tangan di pojoknya. Itu dia, surat. Surat yang masih disandingkan dengan perangko. Dan pada zaman yang sama, kadang - kadang surat tadi layaknya sebuah memo, singkat, padat, dan jelas. Telegram, begitu kata ibuku.

Halo. Masihkah kita ingat waktu itu ?

Sekarang teknologi telah berubah. Telegram, sudah berkalang tanah. Kartu telepon bolong - bolong sudah hilang akibat semakin banyak lubang yang memakannya. Surat berperangko kini tinggalah kenangan. Dan hape 3315, tak lebih dari sekedar pengganjal pintu atau yang lebih terhormat ialah sebagai penghuni museum.

E-mail mulai menyepak surat berperangko. Menendangnya jauh hingga yang pulang tinggal namanya saja. Kartu telepon lubang - lubang sudah digerus dengan adanya vocher elektrik, no more lubang. SMS berlari bak macan tutul, meninggalkan jauh dunia pertelegraman. Dan hape berkamera, bermusik, dan berwarna, mulai mengusik keberadaan sesepuhnya dulu si monokrom dan monophonic.

Lihatlah, sekarang acara surat menyurat tidak butuh perangko, bahkan ada beberapa provider seperti Yahoo! dan Gmail, menyediakan layanan free email alias gratisan. Lihatlah, bagaimana dengan hanya mengeluarkan 350 perak kita sudah memberikan info singkat setara dengan selembar telegram. Dan sekali lagi, seandainya ibuku dulu sedikit bersabar, maka dengan uang yang sama, ibuku (saat ini) dapat mengantongi hape yang lebih canggih dari pada si 3315.

Masih ingatkah kita dulu sebuah SMS dihargai 350 perak. Masih ingatkah kita telpon semenit mesti bayar 2000 perak ?. Hou-Hou. Sekarang sudah kelaut harga - harga tinggi itu, sekarang jamannya recehan, nelpon setara dengan uang receh. Apalagi STARONE dengan program 'Ngorbit'-nya.

Eit, kayanya kita dari tadi bicara tentang fulus saja. Tarif dan biaya saja.

Siapa bilang hemat itu hanya untuk biaya saja. Tengoklah ke dalam, ada penghematan lain yang telah dilakukan.

Hemat waktu. Lebih cepat mana surat atau e-mail ?. Lebih cepat mana SMS atau telegram ?. Hmm, rasanya aspek waktu juga menjadi pengaruh yang kuat disini. Waktu yang lebih singkat tentu menjadi pilihan, untuk apa kita memilih sesuatu yang lebih lamban tersampaikannya. Ada lagi aspek lain, aspek tempat misalnya. Kita sekarang sudah tidak butuh amplop yang besar, dan kita juga tidak perlu lagi mencari telepon umum untuk sekedar say hello.

Itulah dia, kemajuan teknologi. Sekarang komunikasi menjadi hemat bukan ?

Tapi sebentar, rasanya kita melewatkan sesuatu dari kehematan itu.
Apakah semua itu sudah efektif ?.

Hemat, murah, belum tentu efektif. Mari kita buktikan. E-mail kan gratis, tapi apa bisa dibilang hemat jika kita berinternetan ditengah hutan tanpa sinyal secuil pun ?. Kita nyalakan laptop, dan kita berniat untuk chattingan. Tapi sayang, ada sebuah keterbatasan yang membuat komunikasi itu terhambat. Gratis itu hemat, bukan ?. Tapi apakah sudah efektif jika kita ternyata tidak bisa menggunakan ke-gratisan tersebut ?.

Menelpon (sebagai salah satu bentuk komunikasi yang paling banyak dilakukan) juga butuh keefektifan, walaupun sudah kita bahas tadi : saat ini tarif telpon sudah murah. Hampir sama kondisinya dengan e-mail diatas, bagaimana kita bisa menelpon jika sinyal tidak ada ?. Hemat - sih hemat, tapi tidak efektif.

Ada lagi problem ketidak efektifan yang lain. Menguti dari buku Komunikasi Yang Efektif karangan Pak Maliki dan Ibu Endang Lesatari, salah satu aspek dalam komunikasi efektif adalah kejelasan. Kejelasan disini dapat diartikan kejelasan bahasa, maupun kejelasan cara menyampaikan informasi. Kejelasan ini tentunya sangat erat kaitannya dengan alat dan tentu saja provider yang kita gunakan (khususnya dalam komunikasi verbal, dalam hal ini berbicara/bertelpon). Sinyal yang jelek dapat menggangu jalannya komunikasi. Terputus - putus atau suara yang nge-blur, adalah contoh kendala yang mungkin timbul saat kita menelpon. Jika ini memang terjadi, maka, apakah kehematan tadi akan menjadi efektif. Tentu saja tidak, karena sudah melanggar salah satu aspek penting komunikasi efektif.

Maka, tepat - tepatlah memilih alat komunikasi, karena selain mempertimbangkan aspek kehematan, kita juga harus mempertimbangkan aspek keefektifan. STARONE contohnya. Selain sudah masuk kriteria hemat, ia juga termasuk kriteria efektif. Dengan dukungan jaringan yang luas dan kuat, kendala - kendala di atas nampaknya hanya sekedar wacana belaka. Selain untuk murah untuk menelpon dan SMS, tarif internet STARONE sangat murah. Ini menjadikan STARONE masuk dalam kriteria efektif baru, yakni selain untuk berbicara dan berkirim teks, dengan STARONE kita tidak perlu lagi pergi ke warnet.

Daftar Pustaka
Maliki, Drs. MA. M.Ed dan Endang Lestari G, SH. MM., (2003), Komunikasi Yang Efektif, Jakarta, Lembaga Administrasi Negara.
Vilanilam, J. V., (2004), More Effective Communication (Manual for Professionals), New Delhi, Response Books.






[..]


LOMBA NGEBLOG STARONE DIPERPANJANG

CATEGORY
#Community Blog
Kalau blog/webmu punya tiga orang atau lebih admin, ikutan aja dalam ketegori ini. Bisa cerita seputar komunitasmu, misalnya : hobi, sekolah, jurusan, ataupun kampusmu.

#Personal Blog
Bebas diikuti siap saja, dengan peserta perseorangan (tidak terklasifikasi pelajar atau umum), konten bebas.

#FREE 4 ALL (update new)
Bebas tidak terbatas perseorangan atau komunitas

HOW TO JOIN ?


1. Pendaftaran dilakukan secara online melalui email ke: kolom.starone@ptsmt.com dengan subject email: StarOne Blog Contest, dengan mencantumkan:
Nama administrator (ditulis >3 nama, bila ikut kategori Community Blog/web)
Alamat:
Nomer StarOne (ditulis semua nomer administrator, bila ikut kategori Community Blog)
Alamat Email:
Nama Web/Blog yang dilombakan:
2. Pendaftaran diterima paling lambat 10 Maret 2009 (untuk semua kategori)
3. Peserta berdomisili di Karesidenan Surakarta, DIY, Semarang, Salatiga, Kudus, Jepara, Demak, Tegal, Brebes.
4. Peserta wajib memuat Artikel tentang StarOne
5. Peserta wajib membuat Artikel dengan tema Komunikasi Hemat.
6. Web/Blog yang dilombakan wajib memasang banner/logo StarOne (bisa dicopy di www.staronesolo.blogspot.com, www.staronejogja.blogspot.com dan www.starone-semarang.blogspot.com
7. Blog yang dilombakan wajib memasang link ke blog StarOne (lihat poin di atas)
8. Isi blog harus orisinil, tidak melanggar hak cipta, tidak mengandung unsur SARA, Pornografi, tidak berisi hujatan atau hinaan kepada perorangan maupun institusi.
9. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Maret 2009 di www.staronesolo.blogspot.com, www.staronejogja.blogspot.com dan www.starone-semarang.blogspot.com

[NEW UPDATE] KHUSUS KATEGORI "FREE 4 ALL"
SYARAT :
1. Copy Banner StarOne (silahkan dicopy di starone-semarang.blogspot.com, staronesolo.blogspot.com dan staronejogja.com)
Pendaftaran
Online melalui email ke: kolom.starone@ptsmt.com, dengan subject email: StarOne Blog Contest-Free4All , dengan mencantumkan:
Nama administrator:
Alamat:
Alamat Email:
Nama Blog yang dilombakan:
2. Pendaftaran diterima PALING LAMBAT 10 Maret 2009


CARA MENANGIN
1. Daftarkan Blog kamu
2. Kasih tahu Blog kamu ke teman-temanmu, saudara, orangtua, kakek, nenek, paman, tante, pacar, semua yang kenal sama kamu.
3. Minta untuk dukung BLOG mu, dengan mengetik : VOTE (spasi)Nama Blog kamu, kirim ke 024-33040010 dari nomer StarOne (hanya dari nomer StarOne yang akan dikalkulasi - tarif SMS Rp 25/SMS)
5 pengirim SMS yang beruntung wilayah (Karesidenan Surakarta, DIY, Semarang, Salatiga, Kudus, Jepara, Demak, Tegal, Brebes) akan mendapatkan 1 buah T-shirt StarOne (bagi yang beruntung akan mendapat SMS Notifikasi dari StarOne) dan di akhir pelaksanaan 1 pengirim SMS beruntung akan mendapatkan 1 buah handphone CDMA & SP + Voucher StarOne @ Rp 200 rb (Pemenang akan mendapat SMS Notifikasi)


PENENTUAN PEMENANG
1. Pemenang diambil dari 5 Blog nominasi yang terpilih melalui Polling SMS 5 besar di masing-masing kategori.
2. Penentuan Pemenang melalui penilaian oleh Juri dari Profesional dan Internal StarOne, dengan kriteria:
Kreatifitas & Inovatif ( dari template & multimedia yang digunakan)
Kebermanfaatan (dari isi konten/artikel dalam BLOG)
3. Hasil penjurian dan polling tidak dapat diganggu gugat.

[NEW UPADATE] KHUSUS KATEGORI "FREE 4 ALL"
Dari perhitungan jumlah comment di 3 posting terakhir (ada artikel tentang StarOne merupakan nilai tambah)



REWARD

# Kategori Community BLOG
Pemenang 1:
1 buah modem CDMA + Pulsa Total Rp 500 ribu + Uang Tunai Rp 1.000.000
Pemenang 2:
1 buah modem CDMA + Pulsa Total Rp 400 ribu + Uang Tunai Rp 750.000
Pemenang 3:
1 buah modem CDMA + Pulsa Total Rp 300 ribu + Uang TunaiRp 500.000
# Kategori Umum
Pemenang 1: Pulsa Total Rp 500 ribu + Uang Tunai Rp 1.000.000
Pemenang 2: Pulsa Total Rp 400 ribu + Uang Tunai Rp 750.000
Pemenang 3: Pulsa Total Rp 300 ribu + Uang Tunai Rp 500.000
# Kategori Free 4 All
Pemenang 1: Pulsa Total Rp 300 ribu + Uang Tunai Rp 400.000
Pemenang 2: Pulsa Total Rp 200 ribu + Uang Tunai Rp 300.000
Pemenang 3: Pulsa Total Rp 100 ribu + Uang Tunai Rp 200.000

from : http://www.starone-semarang.blogspot.com/
(dengan editing seperlunya)





[..]


NAMBAH HAPE, HAPE BARU, HAHAHA

Hore, aku beli hape lagi. Usahaku selama ini gak sia - sia. Udah ngirit makan setengah bulan, ahkirnya kesampaian juga beli hape baru. Baru lo, bukan seken, to tuker tambah. Asli baru, segel. Hahaha. Walaupun cuma 200 rebu, tapi aku bangga, ini kali pertama aku beli hape sendiri. Biasanya, waktu dulu masih sama orang tua, ya aku ngajak ortu ke toko hape. Nah, ini dia pengalaman pertamaku tawar - tawar hape.


Hape ini hape CDMA. Sstt. Jangan bilang - bilang kalau ku unlock, hahaha. Ya, lumayanlah, harganya miring. Sapa suruh bikin paketan harga miring, ntar di unlock loh. Haha.

Btw nih, sebenarnya ide pengen beli hape nih mulai tercetus saat aku liat posternya STAR ONE dikampus, yang tentang lomba blog itu. Pengen banget ikutan hajatannya Indosat ini, ya tapi mesti beli dulu deh hapenya. Setelah kutimbang - timbang, aku yakin bisa ikut alias harus punya star one dulu.

Sedikit kilas balik nih, aku (jujur) nggak pernah pegang hape CDMA sebelumnya. Jadi gak ngerti banget, nek hape yang bagus itu yang mana. Nokialah, Motorola, ZTE, to Haier, mbuh, sama sekali gak tau. Dari dulu sampe kemarin (21/2) yang aku tahu cuma hp GSM saja. Ya sedikit banyak ngertilah, bisa menentukan hape yang bagus itu (versi aku sendiri) kaya bagaimana. Nah, berhubung timingnya tepat, sekalian deh, aku belajar pake CDMA. Nah, yang beruntung kali ini adalah Star One, sebagai provider pertamaku. Hahahah. (promosi mode="on")



Jadi, sekarang di kamar aku sudah ada tiga batang hape yang bergelayapan di atas kasur. Jadi ada tiga buah alarm digital. Aku mesti angkat tiga buah telepon bersamaan. Ngetik SMS untuk tiga hape sekaligus. Hahaha. Ya, semoga betah deh pake CDMA, karena ini hape (Haier C2000) bisa dipake internetan. Nah kebetulan banget. Dulu aku pernah punya modem PCMCIA ku pakein IM2, tapi udah ku jual. Sekarang dateng lagi modem baru, mudah - mudahan gak bernasib sama dengan yang kemarin. Hahaha.





[..]


PONARI versus DEWI

Dua subtansi yang berbeda dengan kekuatan yang sama.

Bicara lagi tentang Ponari yuk. Sosok kecil yang baru - baru ini menjadi artis dadakan rupanya cukup menyita perhatian publik, termasuk aku. Aku suka karena ini menyangkut soal kaidah. Jangan - jangan Ponari akan bernasib sama dengan rokok dan golput; Berobat Ke Ponari = Haram. Ini agaknya bisa tejadi karena MUI Jombang sudah mulai gerah dengan situasi yang ada, begitu kata Global TV, Rabu (17/2) di berita sorenya. Aku berada antara sebal dan kasihan. Sebal ya karena sampai detik ini situasi ini masih mengambang, antara haram tidak, antara ada izin resminya atau tidak. Kasihan, sebab aku prihatin akan nasib Ponari. Sudah tiga pekan dia tidak bersekolah. Dan mungkin dia sudah jenuh dengan keadaan yang ada.

Belum usai masalah itu, timbul masalah baru. Bak sepatu, ada kiri dan ada kanan. Bak kucing, ada pejantan dan ada pula betina. Kini, Ponari sudah mendapat pasangan yang sepadan. Dewi, begitulah nama yang tergaung. Katanya sih hanya 20 kilometer dari rumahnya si dukun cilik laki - laki itu, dan spesialnya masih dalam satu wilayah, Jombang, kota terfantastis tahun ini. Entah bagaimana asal mula cerita dari Dewi ini, apakah bernasib sama yakni dihujam petir, atau yang lain. Tapi ada satu hal yang pasti, ia juga punya batu ajaib yang berkhasiat sama dengan pendahulunya, Ponari.

Menurut berita yang beredar sih, batu yang Ponari pegang saat ini "dihuni" RONO, sedangkan milik Dewi "ditempati" RANI. Wah, cocok dah kayanya tuh, tinggal saling ditemukan saja, diacak berbincang bareng. Nah, kalau udah disepakati tanggalnya, ya tinggal dibawa ke KUA deh. Atau justru sebaliknya, mereka berdua akan ke lapangan GBK. Berduel dan saling berebut wilayah serta pasien. Siapa yang kalah berarti mesti gulung tikar. Maklum saja, profit dari kegiatan ini sudah menembus angka EM-EM-an.

Kalau aku perhatikan di tv, massa milik Ponari dan massa milik Dewi hampir sebanding, penuh dan seperti biasa, diwarnai dengan antrean. Bawaan mereka juga hampir sama, gelas dan botol minuman. Kalau yang di Ponari air minum kita bawa sendiri lantas akan dicelupkan batu, maka Dewi memiliki metode yang berbeda. Pasien dapat mengambil air yang sudah diberi resep - resep gaib, mungkin dari batu yang Dewi punya, dan membawanya pulang. Tapi, ya tetap saja, sama - sama pakai air dan di luar logika.

Bagaimana "Lantai Panas" di Bogor?

Lain ladang, lain ceritanya. Ini bukan kursi panas di DPR. Juga bukan lantai panas sepanas dance floor. Tapi ini benar - benar panas, walaupun hanya dua bidang keramik yang terasa panas. Itulah yang sedang terjadi di rumah bu Juju di Bogor sana. Sudah banyak orang yang datang dan berharap dengan terapi "lantai panas" penyakitnya bisa tersembuhkan. Untunglah lantai yang kepanasan itu berada di ruang tamu, kalau ada di toliet, atau di dapur kan jadi susah, hehe.

Kalau yang ini mungkin masih bisa dinalar. Seperti kita memasak air. Air kita bisa mendidih bukan semata - mata karena air itu kita taruh saja dipanci. Justru, ada bagian lain dibawah panci yang berfungsi sebagai sumber panasnya, yakni kompor. Nah, barangkali nih, lantai itu menjadi "hot" karena ada yang "memanasinya" dari bawah sana, alias dari dalam perut bumi. Atau mungkinkah cuma dipanasi dengan kompor sungguhan?






[..]


KOMPETISI HITAM UNTUK BLOG PUTIH

Bingung?
Aku dah daftar di Djarum Black Competition, tapi belum dimunculin di Registred Blog. Sebel. Hehe.

Nah, makin bingung lagi mau bikin artikel apa nih. Ya, akhirny (terpaksa) ku posting macam begini, ya hitung - hitun selagi cari ide, mungkin ada yang bakalan jatuh dari langit, entah ide, kejadian, maupun ilham. Pokoknya ku masih nyari nih.

Nah, buat sobat - sobat yang (pastinya) udah punya blog, yuk kita ramai - ramai tongkrongin situsnya Djarum Black Competition, ikutan aja deh, ya hitung - hitung pengalaman, to malah mudh - mudahan bisa dapat itu hadiah, lumayan dapet laptop lo.







[..]


TERMEHEK - MEHEK MASUK PANASONIC AWARD ?

Yes, akhirnya ada juga orang - orang yang menghargai kerja keras mereka.

Inilah sebuah acara yang masih aku ragukan keasliannya. Entah realiti show atau memang memadukan antara drama dan realitas yang dituang dalam adegan - adegan yang penuh liku dan mendebarkan. Acara gila, acara yang kerjanya moving terus, acara yang isinya cuma mencari dan terus mencari, acara yang mengetuk setiap pintu, dari pintu ke pintu, mencari informasi dari mulut ke mulut, acaranya yang rasanya menguras tenaga dan pikiran, acara thiller, ntah kapan dan dimana kita menemukan sang musang utama, dan acara yang benar - benar banyak iklannya.


Bener - bener dah, standing appaluse buat termehek - mehek, terlepas dari nyata atau tidaknya kisah yang ada, tapi memang inilah acara yang benar - benar menguras adrenalin kita sebagai pemirsa televisi. Kadang - kadang kita bisa dibawa pada suatu keadaan dimana menghilang bukanlah suatu solusi dari suatu masalah. Justru, dengan menghilang timbulah permasalahan yang baru, yaitu dicari. Atau, kita juga bisa digiring dalam situasi kepepet, kita mesti berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya, kita harus mengubur lubang dengan tanah dari lubang lainnya. Semakin banyak kita berbohong, semakin banyak pula bekas galian yang akan timbul.

Memang, di forum detik pernah dibuat threatnya. Ada yang berkomentar ini adalah kisah yang benar - benar nyata, dan tidak sedikit yang dengan tegas menolak bahwa ini adalah sebuah realitas. Ada yang bilang tidak mendidik, tapi banyak juga yang suka dengan tayangan ini. Sebagian orang berkata, ini termasuk tayangan yang mesti di stop ditanyangkan di televisi. Ada juga yang mengacung - ngacungkan tangannya, ini lebih baik dari pada tanyangan - tanyangan 'realiti show palsu' di tempat - tempat lain.

Mandala dan Panda, dua namanya yang ikut terseret dalam jajaran nominasi Host Realiti Show terfavorit. Dua nama yang berbeda namun bernaung dalam instansi yang sama, saling membahu dan saling menggigit. Termehek - mehek tanpa mereka berdua mungkin tak lebih dari sekedar sampah bertebaran, dan mereka tanpa termehek - mehek bagaikan kurcaci - kurcaci kecil yang tidak mampu mengekspose diri. So, inilah dia. Setiap mereka masuk dari rumah ke rumah, pastilah kata kunci pertama yang akan sang empunya rumah katakan adalah, "dari termehek - mehek?". Bagaikan rujak, tak ada buah bukanlah rujak, tak ada sambal juga bukanlah rujak. Rujak adalah sambal dan buah. Dan Termehek - mehek adalah Panda-Mandala, dan kru/tim termehek - mehek itu sendiri.

Memang tidak berlebihan rasanya jika kita berikan dua acungan jempol kepada tim kretif termehek - mehek dan hostnya yang bekerja keras demi membawa nama Termehek - mehek duduk dibarisan atas program favorit pemirsa Tranv TV waktu ultahnya Trans Corp. tempo hari. Dan sekali lagi, terlepas dari fakta ataukah hanya opini belaka cerita yang ada, kita dukung termehek - mehek untuk menjadi Reality Show terfavorit versi Panasonic Award 2009 (walaupun secara pribadi aku lebih condong untuk bilang "Termehek - mehek adalah murni reality show", hehehe). Kongretulesyen.

BTW, kan Mandala ama Popi Bunga udah putus nih, gimana kalo Mandala kita jadiin ma Panda, kayanya cocok banget deh... Hahaha.
[..]


VALENTIN ITU... TIDAK ADA...

Merah Jambu

merah jambu
oh, si merah jambu
bunga dijemarimu
cinta pada derap langkahmu

merah jambu
oh, si merah jambu
bimbang nian selalu
gundah sudah bikin kepayang

merah jambu
oh, si merah jambu
pemetik lara, pemetik asa
pemetik bara, pemetik pinta

merah jambu
oh, si merah jambu
bawakan nur
biaskan merah jambu

merah jambu
oh, si merah jambu
bukan cinta, bukan rasa, bukan gila
tapi dia.

Jogja, 13 Feb 2009

Suatu puitisasi untuk tegaknya cinta. Tiap hari adalah hari kasih sayang. Tidak mungkin aku cuma sayang pada hari itu saja. Tai Kebo !, kalau ada yang bilang : buktikan cintamu, serahkan mahkotamu di semak - semak, di kamar hotel, di remang - remang. Katakan : buktikan cintamu dihadapan penghulu, dimuka saksi - saksi, dan diraut bahagia kedua orang tuamu.

Note : Meminjam tutur bang Dedi Mizuar. "Valentaine itu... tidak ada..." [..]


PONARI + BATU = SEMBUH ?

Rumus baru. Ditemukan oleh pikiran yang putus asa dan yang mengutamakan jalan singkat.

Oalah. Bocah SD sudah bisa jadi tabib ?. Tampaknya ini menjadi pukulan keras untuk instansi yang menggelar kuliah kedokteran maupun farmasi. Tak perlu jauh - jauh datang ke UGM atau Unair, tidak perlu berlama - lama di depan meja praktek dan muka dosen, tidak perlu merogoh saku terlalu dalam. Cukup bawa anak anda ke tengah tanah lapang, sawah misalnya. Tunggu saja, ketika awan bergerombol datang, ketika petir datang menghujam, seketika itu pula anak anda menjadi dewa penyelamat jiwa manusia, menjadi tabib dari segala macam penyakit, dan menjadi ramai rumah anda. Yang penting, buatlah permohonan kepada sang raja petir : "Sambarlah anak saya, dan berikan batu ajaibnya".

Dik Ponari to Mbah Ponari enaknya kita sebut ?. Karena setahuku, dukun itu ya sudah mbah - mbah, sudah banyak mencicipi asam manisnya hidup di dunia.

Entah cerita sambar - menyambar itu benar atau tidak keasliannya. Apakah memang benar dia "tersambar" ?. Atau petir itu hanya numpang lewat di rumahnya. Atau dia dan petir sudah lama bersahabat dekat. Atau dia ada "main" dengan si petir ?. Hanya Allah yang tahu.

Nampak jelas dari raut mukanya bahwa ia sangat polos. Lugu, dan butuh teman bermain. Betapa galau pikirannya, tatkala orang beramai - ramai mengantre di halaman rumahnya. Ia mungkin berpikir, stadion GBK sudah pindah jauh ke Jombang, bak akan melangsungkan pertandingan antara Italia melawan Inggris. Betapa sesaknya orang berebut karcis, seperti orang ribut ketika hari - hari mudik menjelang. Lebih - lebih dari antre sembako. Ia nampak bingung melihat orang - orang dengan beribu harap menyodorkan gelas air minumnya untuk dicelupkan batu sakti dari genggaman jemari bocah ini.

Metro TV tidak mau ketinggalan. Ponari adalah komoditas, begitu mungkin pola pikirnya. Kesempatan ini memang nampaknya menjadi ladang emasnya Metro. Berita Ponari bak ayam rica - rica, suguhan utama dari segudang komposisi berita. Lihat saja apa yang sudah berhasil diliput tim Metro TV. Ponari berkata, "Di Lapindo...Ada Naganya"."Batunya dicemplungkan ke Lapindo, pake ekskavator". Wow. Ponari bisa menanggulangi Lumpur Lapindo. Asik. Bakalan hebohlah dunia Ustadz - Ustadzah kita memikirkan nasib keimanan para sobat - sobat muslim kita. Ponari bisa kaya raya.

Terlepas dari itu semua, mari kita renungkan, benarkah itu adanya ?. Sembuh ?. Lapindo ?. Naga ?. Petir ?. Batu ?. Kok jadi mirip acara televisi deh. Ah !. Rumah produksi yang "itu". Monsters, pisau/tongkat sakti, naga, petir, silat. Semakin banyak orang yang datang berobat, semakin deras pula kritik yang ada, semakin tidak masuk akalah apa yang terjadi.

Dari suatu dialog di Metro TV beberapa waktu yang lalu, aku menangkap, "Pengobatan itu belum teruji secara medis, sehingga masih belum bisa dipercaya kebenarannya. Toh, kalau memang itu menyembuhkan, itu hanyalah sugesti semata ". Sugesti, bukan obat, tapi sugesti. Dimana orang sudah terlanjur fanatik dan percaya, rasa percaya yang kuat itulah yang mendorong ia untuk sembuh. Kebanyakan orang - orang yang datang ke sana adalah hasil gagal servis, tentunya dari rumah sakit. Jadi, semakin kuatlah argumen bahwa Ponari adalah "penyelamat" hidupnya. Makin tebal keyakinan seseorang itu, makin tebal pula sugestinya.

Sekarang, tabib muda ini sudah tidak beroprasi. Tapi, orang - orang masih tetap menunggu. Kapan giliran mereka dipanggil, kapan mereka bertemu dengan dukun kecil ini, kapan minuman mereka tersentuh oleh batu ajaib milik "anak kemarin sore" ini ?.

Mari kita berbelok pada abang - abang kita di pemerintahan. Kapan masyarakat kita belajar menggunakan logika terhadap situasi seperti ini?. Ini sangat bermasalah, karena berpengaruh pada hajat hidup orang banyak. Orang sakit bukannya berobat pada kawan - kawan kita yang berpangkat "dokter", eh justru banting setir ke dukun cilik, tanpa sertifikat, tanpa penelitian, tanpa pelatihan.

Sudah saatnya kita mempertebal keimanan.

[..]


DIKLAT JURNALISTIK (DJ) 2009 HMTI UGM

Menjadi "wartawan" dalam 4 hari.

Rampung juga acara kejurnalistikan itu. Acara unik yang berlangsung dari tanggal 4 Februari kemarin hingga kemarin, 7 Feb. Berlangsung di plasa KPTU yang berdiri di tengah - tengah kamupus teknik. Bayarnya sih lumayan, 80.000 untuk mahasiswa teknik industri dan pelajar, 100.000 untuk kalangan diluar itu.



Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) UGM mengundang tim diklat KOMPAS yang didatangkan langsung dari Jakarta. Sebut saja Pak Santoso. Beliau adalah pimpinan Tim Diklat tersebut. Ada juga Pak Markus atau yang lebih dikenal sebagai Pak Sancuk, seorang wartawan senior koran kompas. Pak Bobby, wartawan senior KOMPAS yang kini sudah masuk masa pensiunnya ikut dalam rombongan tim itu. Dan terakhir ada seorang fotografer tapi aku lupa namanya.



Tim diklat KOMPAS memberikan banyak ilmu kewartaan, seperti penulisan berita, layout koran, dan teknis - teknis dalam penulisan koran. Peserta diklat kemudian dipecah menjadi beberapa grup dimana akan diperuntukkan untuk bekerja sama untuk membangun sebuah koran, walaupun hanya satu halaman. Kami diharuskan untuk terjun ke lapangan untuk mengisi berita untuk masing - masing koran kami.

Ada yang ke Sekaten, ada yang berbicara tentang ribut - ributnya HMI kemarin, ada yang membahan pencalonan Sultan, beragam. Semua dituntut untuk mencari berita seaktual mungkin. Dan semua, benar - benar harus melebur seperti wartawan sungguhan, yakni mengedepankan wawancara. Bukan hanya mengedapankan sebenarnya, tapi justru, kata Pak Sancuk, wartawan tidak boleh memberikan opini dalam berita, semua harus fakta. Tidak boleh ada intervensi dari wartawan, dan wartawan tidak boleh berat sebelah.

Banyak peserta yang di kritik, dan banyak pula yang disanjung. Sebut saja yang membahas pencalonan Sultan tadi. Ia dikritik karena yang ia wawancarai atau narasumbernya adalah pedagang ronde. Sebenarnya tidak mengapa, tapi rasanya kurang relevan dan masih terlalu awam, tukas Pak Sancuk. Ada yang membahas tentang fatwa rokok, apalah itu. Ia mendapat perhatian karena bisa dan berani mewawancarai langusung ketua bidang fatwa MUI Jogja.

Hari terakhir cukup mendebarkan. Kami harus membuat koran, termasuk tentang tata letak. Cukup susah juga memadukan antara tulisan, foto, dan luas bidang. Pak Robby berpesan, "Fitting news to the layout, jangan Fitting layout to news, gak akan jadi dalam sebulan". Ada berita - berita yang mesti dipotong karena kepanjangan, ada juga yang mesti ditambah karena kependekan.



Maka jadilah koran kami, untuk pertama dan terkahir kali terbit pada tanggal 7 Februari kemarin. Cahaya Jogja, atau kami menyebutnya CAH-JOGJA. Koran kami bertengger di urutan keempat dari deretan koran terfavorit versi dewan juri. Hanya berselisih satu point dari juara ketiga, mereka 165 kami 164. Tapi tak mengapalah. Yang penting kami sudah mampu bikin koran, sudah mampu mencari berita beneran, dan sudah mendapatkan ilmu yang pertama kali aku dapat sepanjang aku pernah bernafas.

Tertarik ?. Tunggu saja DJ berikutnya, karena ini adalah yang keempat dan empat kali pula bersama tim diklat KOMPAS. So, don't miss it.
[..]


UANG, DUIT, FULUS, PERAK, MONEY, APALAH ITU...

Bulan Januari benar - benar bikin kepala puyeng dah. Uang masuk ke rekeningku sebanyak dua juta. Itu sih lebih banyak setengah juta dari yang biasa ortu kasih. Duit beasiswa juga ngalir satu juta. Jadi uangku ada tiga juta.

Buset dah, kenapa bisa duit dua setengah juta lenyap dalam waktu cuma satu bulan. Duit cuma buat makan doang, duit cuma buat ngurus hidup doang. Belum lagi rupiah buat SPP kemarin, setengah juta-lah. Belum lagi buat bayar SKS besok, kira - kira satu setengah juta. Ya, Allah !. Kapok aku lihat uang, muter - muter aja dari satu ATM ke ATM lain. Dari dompet mbrojol begitu saja, dari rekening 'bocor' entah kemana.


Mari kita runut masalahnya. Kemarin aku menghabiskan sekitar enam ratus lima puluh buat 'dandani' motor. Lewat benar dari target yang semula hanya empat ratus ribu. Lalu beli modem PCMCIA yang udah aku jual kemarin. Belinya sih 750 udah sama kartu IM2 gila itu. Tapi jualnya cuma dapet 400 ribu, gak ku jual kartunya. Nah ini info sedikit buat para IM2-ers : Data IM2 gak bisa diubah kayak kartu - kartu seluler GSM itu. Jadi, aku gak jual kartunya takutnya dipake macem - macem ama orang, habis, yang dipake 'kan data KTP-ku. Okelah sudah rugi 350 ribu. Enam lima puluh ditambah tiga lima puluh, satu juta sudah keluar begitu saja dalam sebulan.

Uang makan, uang bensin, uang pulsa, tapi gak ada uang rokok, hitunglah jadi satu, kira - kira satu juta. Sisanya sudah lupa. Nguap entah kemana. Mungkin terselip untuk kejadian - kejadian tidak terduga, atau mungkin ada agenda - agenda yang meluber seperti terlalu banyak makan, hehehe.

Duh !, cukup sudah. Aku sudah kepalang menatap ATM. Aku sudah jenuh menghitung berapa defisit yang aku derita. Sakuku sudah sesak dijejali nota bercap lunas, nota yang punya angka nol terlalu banyak, nota yang panjangnya sejengkal.

Kadang aku sendiri melamun. Uang datang begitu saja, dan aku membiarkan ia pergi begitu saja. Kadang aku membiarkan uang itu berpindah tangan tanpa berpikir matang. Sudah pikir panjang memang, tapi nampaknya belum terlalu matang, masih kecut, masih bergetah. Uang datang tanpa perlu aku bermandi peluh. Uang datang jika aku katakan : "Halo, Ma, uangnya habis". Lalu datanglah mereka dengan berbondong - bondong memperbanyak angka di saldo "rekening anda". Pernah terlintas untuk stop, untuk berhenti dan bersabar menghadapi nafsu terhadap maniak fulus, namun tetap saja aku jadi pengunjung setia si mesin tarik tunai.

Sekarang aku memang sedang 'hancur'. Duit pas - pasan. Aku sengaja meminta lebih sedikit, agar setidaknya aku tahu, duit ada batasnya, dan duit datang bukan karena duit kesasar di rekening kita, tapi justru kita harus berusaha mengundang duit supaya sudi berlabuh menghiasi lembar demi lembar buku tabungan, mau diajak sesak - sesakan di sela dompet kita. Huf !

N.B. : "Sori ma, bakalan jadi kurus, mau ngirit sebentar, hehe..."
[..]