UANG, DUIT, FULUS, PERAK, MONEY, APALAH ITU...


Bulan Januari benar - benar bikin kepala puyeng dah. Uang masuk ke rekeningku sebanyak dua juta. Itu sih lebih banyak setengah juta dari yang biasa ortu kasih. Duit beasiswa juga ngalir satu juta. Jadi uangku ada tiga juta.

Buset dah, kenapa bisa duit dua setengah juta lenyap dalam waktu cuma satu bulan. Duit cuma buat makan doang, duit cuma buat ngurus hidup doang. Belum lagi rupiah buat SPP kemarin, setengah juta-lah. Belum lagi buat bayar SKS besok, kira - kira satu setengah juta. Ya, Allah !. Kapok aku lihat uang, muter - muter aja dari satu ATM ke ATM lain. Dari dompet mbrojol begitu saja, dari rekening 'bocor' entah kemana.


Mari kita runut masalahnya. Kemarin aku menghabiskan sekitar enam ratus lima puluh buat 'dandani' motor. Lewat benar dari target yang semula hanya empat ratus ribu. Lalu beli modem PCMCIA yang udah aku jual kemarin. Belinya sih 750 udah sama kartu IM2 gila itu. Tapi jualnya cuma dapet 400 ribu, gak ku jual kartunya. Nah ini info sedikit buat para IM2-ers : Data IM2 gak bisa diubah kayak kartu - kartu seluler GSM itu. Jadi, aku gak jual kartunya takutnya dipake macem - macem ama orang, habis, yang dipake 'kan data KTP-ku. Okelah sudah rugi 350 ribu. Enam lima puluh ditambah tiga lima puluh, satu juta sudah keluar begitu saja dalam sebulan.

Uang makan, uang bensin, uang pulsa, tapi gak ada uang rokok, hitunglah jadi satu, kira - kira satu juta. Sisanya sudah lupa. Nguap entah kemana. Mungkin terselip untuk kejadian - kejadian tidak terduga, atau mungkin ada agenda - agenda yang meluber seperti terlalu banyak makan, hehehe.

Duh !, cukup sudah. Aku sudah kepalang menatap ATM. Aku sudah jenuh menghitung berapa defisit yang aku derita. Sakuku sudah sesak dijejali nota bercap lunas, nota yang punya angka nol terlalu banyak, nota yang panjangnya sejengkal.

Kadang aku sendiri melamun. Uang datang begitu saja, dan aku membiarkan ia pergi begitu saja. Kadang aku membiarkan uang itu berpindah tangan tanpa berpikir matang. Sudah pikir panjang memang, tapi nampaknya belum terlalu matang, masih kecut, masih bergetah. Uang datang tanpa perlu aku bermandi peluh. Uang datang jika aku katakan : "Halo, Ma, uangnya habis". Lalu datanglah mereka dengan berbondong - bondong memperbanyak angka di saldo "rekening anda". Pernah terlintas untuk stop, untuk berhenti dan bersabar menghadapi nafsu terhadap maniak fulus, namun tetap saja aku jadi pengunjung setia si mesin tarik tunai.

Sekarang aku memang sedang 'hancur'. Duit pas - pasan. Aku sengaja meminta lebih sedikit, agar setidaknya aku tahu, duit ada batasnya, dan duit datang bukan karena duit kesasar di rekening kita, tapi justru kita harus berusaha mengundang duit supaya sudi berlabuh menghiasi lembar demi lembar buku tabungan, mau diajak sesak - sesakan di sela dompet kita. Huf !

N.B. : "Sori ma, bakalan jadi kurus, mau ngirit sebentar, hehe..."






Yang Satu Kategori

0 Komentar:




Tuliskan Komentar Anda