BIRTH

Untuk selamanya.

Tiga tahun yang lalu akau menyatakan cinta padamu
Sebuah hal yang mulanya aku anggap iseng belaka
Tapi ketika tahu itu realita
Aku yakin, angka tiga ini tidak akan cukup untukku
Seribu, sejuta
Akan aku buat angka itu untuk bidadari kecilku
Aku ingin mencintaimu selamanya

Setahun yang silam, di tanggal yang sama
Aku sudah lupa bagaimana raut mukaku ketika memasuki halaman registernya situs Blogger.

Teruntuk 30 Agustus. [..]


HELP ME

Aku tidak tahu harus mulai dari bagian mana.

Datang ke Jogja, bukannya bikin aku jadi enak. Sesuatu yang besar tengah membadai di area pikiran. Rasa was - was, paranoid, dan bahkan berpikir itu adalah kenyataan sedang menggelayut di pusaran ubun - ubun.

Singkat cerita, aku merasa ada sesuatu yang berbeda sejak ia masuk kuliah. Entah apa itu. Tapi, aku mencoba berpikir sejenak, apa itu hanya sebuah konsep pemikiran yang baru. Atau hanya sebuah ke-posesifan yang muncul tiba - tiba berhubung ia ada di lingkungan yang baru.

Long Distance is killing me. Begitu kata mbak Aura Kasih. Tapi, Freedie Mercurry punya ide lain : Too Much Love Will Kill You. Artinya dilarang selingkuh. Siapa juga yang mau selingkuh.

Pernahkah rasa was - was melanda anda, bagaimana bila sang idola direbut orang di lingkungannya yang baru.

Ya Allah, jika sekiranya ia adalah pilihanmu, maka dekatkanlah ia kepadaku. Jangan beri kami sesuatu yang tidak sanggup kami memikulnya. Dekatkan kami, sedekat - dekatnya, hingga tiada yang sanggup memisahkan kami.
[..]


MENYENANGKAN

Ada hal yang bikin senang.

Setalah di Jogja sepekan, ternyata kesenangan itu tidak hanya hadir di Mataram saja. Mulai dari bioskop, internet murah sehingga puas pesbukan dan blogging, atau hal yang satu ini: Hape baru (lagi) !.

Pernah tempo hari aku tulis masalah hape-ku yang ada tiga batang, namun sekarang hanya tinggal dua batang. Entah apakah yang batang terkahir ini akan menyusul kawannya yang lain-yang aku jual di Klithi'an. Hehe.

3120 classic sudah ditangan. Sudah mencoba beberapa kali pidiokol-an, walau belum terpuaskan. Axis memang baik juga, mau pidio mau vioce sama aja harganya, cuma Rp. 901 per nelpon. Promo dikitlah, hehe.

Aku sudah bisa menatap raut matanya.
Aku sudah bisa memandang gorden hijau rumahnya.
Aku sudah bisa menunjukkan seyum yang realistis.

Tapi tetap, aku tidak bisa bermain kartu bersamanya. [..]


MIMPI SEMALAM

Ketika aku bangun, mentari sudah ada di pucuk jendela.

Begini setidaknya ceritanya :

Aku naik bis Safari Dharma Raya
Aku diterpa angin malam di Kapal
Aku membuka pintu pagar rumah
Aku menatap ibuku yang sedang masak air
Aku menatap adikku yang sedang ditidur

Aku naik Honda 70
Aku melintasi jalanan
Aku tiba di rumah sang kekasih
Aku masuk, aku menatapnya lekat - lekat
Aku memegang erat tanggannya
Aku katakan, aku cinta padanya

Dia membalas tatapanku
Dia membalas kata cintaku
Dia suguhkan senyumnya yang sejuk
Dia katakan padaku, dia rindu

Aku menatap sunset
Aku berbicara dengan ibuku
Aku memeluk adik perempuanku
Aku bermain kartu dengan adik laki - laki ku.
Aku shalat di mesjid itu
Aku berbicara kepada calon mertuaku
Aku mencium kening bidadariku

Aku lalu terdiam.
Aku menangis.
Aku tau, itu bukan mimpi semalam.
[..]


NGEJER SUNSET

Brrr. Aku dimabuk sunset.





[..]


PONDOK

Hanya berbalut atap, dan berlapis tembok.

Sebuah rumah sudah bercokol di depan sebuah tanah yang sengaja dibuat lapang di tengah - tengah sebuah perumahan yang prematur. Masih gersang, belum ada besitan arus listrik, belum terdengar juga kucuran air dari ledeng. Begitu juga dengan deretan rumah lain (yang notabene-nya sudah siap huni), walaupun sama - sama juga belum punya pagar.

Hmm. Mataram, rasanya sudah siap menyongsong sebuah peradaban baru. Peradaban instan, tinggal pakai, siap tinggal. Penduduk yang padat, jalanan yang macet, mungkin akan terasa untuk beberapa tahun ke depan. Sayang, disini tidak ada bioskop, tidak ada Malioboro, tidak ada Gembira Loka.

Ini pondok baru. Entah mau ditempati siapa. Mau dijadikan aset sebagai kontrakan atau justru jadi aset lain. Ada bunga di depannya. Ada rumput juga di tanahnya. Pulang - pulang ke Lombok langsung di ajak nengok rumah ini sebagai tukang angkat - angkat air, maklum belum ada sumber air macam sumur di rumah itu. Katanya sih mau ada PDAM, tapi entah kapan realisasinya.

Berbeda dengan kami para pembeli rumah. Para pekerja justru punya tanggapan tersendiri bekerja di tempat seterik itu. Medan yang penuh dengan kilauan debu dan sarat dengan tanah gunung yang khas dengan warna coklat bin cadas membikin urat nadi tersayat - sayat dan epidermis bak terbakar. Di salah satu pinggir akses masuk utama BTN itu, ada sebuah tenda biru dengan aspirasi pekerja di lapisan terpalnya. "PONDOK DERITA".

[..]


MASJID TANPA SHAF

Dan merekapun pergi.

Satu - satu mahkluk masjid itu pergi. Hampir tidak ada menyisakan tawa. Meraka pergi begitu saja. Kebanyakan urusan pendidikan. Ada juga yang urusan pindah hunian. Tapi tetap saja mereka perlahan mulai meninggalkan dunia yang membuat mereka besar. Dan barangkali dunia yang membuat mereka berada di situasi seperti ini.

Di awali dari kawanku yang pindah rumah. Lalu aku yang harus terbang ke Jogja. Dan tahun ini benar - benar menjadi puncaknya. Secara garis besar, remaja mesjid angkatan pertama itu sudah lenyap dari muka bumi. Namun, aku tetap merasa iba terhadap kawanku yang tinggal satu ini. Hanya dia yang bersemayam, bersama mesjid yang mulai udzur. Bersama mesjid yang mulai gersang. Bersama mesjid yang semakin ramai oleh muka - muka baru yang semakin menjadikanku asing di mesjid sendiri.

Jaket hitam itupun belum mampu menyatukan kembali kami yang berangkat berperang sendiri - sendiri. Suara azan itu tak lagi menggugah kami untuk berangkat dan berkumpul di bawah lampu neon di satu sisi masjid. Tidak ada lagi pengajian malam minggu. Tidak ada lagi tidur di masjid di malam minggu. Tidak ada lagi bakar - bakar ikan. Tidak ada lagi kita tertawa di satu atap yang sama.

Masjid itu tanpa shaf remaja lagi. Remaja yang dulu (mungkin) pernah bikin masjid ini punya warna baru. Kini tinggal wajah - wajah remaja baru. Remaja baru yang tak terkontaminasi budaya remaja lama. Remaja baru, baru saja punya suara tebal. Baru saja mulai pacaran. Baru saja keluar semburat maninya. Oh.

Allah!. Bukannya aku berharap perkumpulan ini abadi adanya, tapi inikah jalan terbaik untuk mengakhirinya ?.
[..]


DAN SI TUA ITU PEGI...

Aku yakin, banyak sahabat blogger yang menulis ini.

Siapa yang tak kenal Mbah Surip. Sosok nyentrik ini sudah meng-Indonesia sekali dengan rambut gimbalnya. Lagunya yang khas dan derai tawanya yang tiada dua, membuat ia menjadi sosok terpopuler saat ini. Hampir semua netter (yang doyan unduh - unduhan terutama) pasti kenal dengan lagu Tak Gendong itu. Sahabat blogger pun mungkin tidak akan ketinggalan dalam merajut kata untuk mengenang sosok miliyader yang kontras dengan kesederhanaan.

Hmm. Aku masih ingat ketika masih berada di bulan Mei, aku terinspirasi dan didorong ajakan teman untuk mendownload lagu Mbah Surip yang berjudul Bangun Tidur. Belum booming saat itu. Mungkin hanya dari spekerku dan kawanku itulah suara Mbah Surip terputar kala itu. Namun siapa sangka, bulan Juni dan Juli kemudian, lagu berikutnya "Tak Gendong" mampu merajai pasar musik tanah air. Aku yang merasa terlebih dahulu punya lagu tersebut (didonlot bersama dengan lagu Bangun Tidur) merasa bangga karena sudah menjadi peminatnya digarda depan.

Bagai petir di siang bolong. Itu cukup menggambarkan kondisi yang menggemparkan masyarakat di tanah air ini. Tidak ada lagi derai tawa yang khas itu. Tidak ada lagi sosok yang barangkali tidak punya kosakata "sedih" dalam kamus hidupnya. Tidak ada pria berambut gimbal yang menyanyikan lagu - lagu abstrak bergaya Bob Marley.

Bagaikan teriris sembilu jika kita mendengarkan anak - anak kecil yang tanpa sengaja mendendangkan "tak gendong.. kemana - mana, enak to, mantep to..". Padahal mereka tidak tau, si empunya lagu baru saja berkalang tanah. Mereka tidak tau, bahwa sudah tidak ada lagi penerus lagu itu, mungkin Tak Gendong 2, Tak Gendong 3, atau balada - balada abstrak yang lain.

Kemarin mungkin kita mendengarkan Mbah Surip bernyanyi sembari tertawa - tawa, sambil baca buku, sambil nyiram tanaman. Tapi saat ini, betapa pilunya jika kita dengar suara Mbah Surip membahana di sudut kamar. Ah, mbah Surip. Kau datang bersama senyum dan derai tawa. Kini kau pergi berkalang duka. Bawa gitarmu, bawa lagumu, bawa semangatmu.


Aku punya sejarah yang tak akan ku lupakan..
Sejarah cintaku hanyalah untuk diriku..
Begini saudara ceritanya...
Panjang sekali saudara ceritanya..
Mau dengar tidak ?!
Hekh..hekh..hekh..Dengarkan ya...

dipetik dari lagu Mbah Surip dengan judul Sejarah Cintaku yang dimainkan secara akustik.

img src="http://img.kapanlagi.com/wp/img/mbah-surip-2.jpg"

[..]


PANTAI SELINGKUH

Siapa bilang selingkuh tak selamanya indah.

Dasar yang tukang selingkuh, atau justru yang anti selingkuh, pasti akan berbondong - bondong memadati hamparan pasir walaupun hitam, tapi sangat damai ini. Dibelai dengan ombak selat Lombok yang adem dan tenang, semilir angin pantai yang ikut menggesek - gesekkan dedaunan pohon kelapa. Bagi pasangan yang kurang suka berpanas - panasan, ada kok tempat yang cukup terlindung oleh beberapa pohon pantai.

Dulu, pantai ini bukan menjadi minat para wisatawan. Pantai kosong. Namun kian lama, ada juga akses menuju kesana. Cukup membuat gang dari jalan raya, maka jadilah pantai Selingkuh ini. Dulu juga, ketika pertama kali aku sambangi pantai ini, semak - semak masih menjadi permata pantai ini. Tidak jarang, ada motor yang ngangkring di tepi semak - semak yang hampir sempurna untuk menjadi tempat persembunyian itu (ngapain hayo?).


Namun seiring waktu, kini pantai itu sudah menjadi sedikit ramah kepada pengunjungnya yang alim - alim. Banyak nian orang datang untuk bermain bola sepak, voli, sekedar bergitar, dan berjalan - jalan menyusuri pantai. Walaupun demikian, tetaplah, pantai menjadi daya terik tersendiri bagi kalangan yang doyan nonton sunset bersama pasangannya, duduk sembari dirangkulnya di doi. Mengatakan "aku cinta padamu". Dan berangsur - berangsur pulang. Barangkai cintanya juga akan tenggelam seperti matahari yang ditonton karam di dasar samudra.
[..]