MENDIDIK PELOSOK

Raga kota rasa pelosok.

Ada yang kering di ladang hati ini. Ya, begitulah saya terus berkomat - kamit ketika akan berpisah dari warga dusun Gelogor, Desa Lendang Nangka, Kabupaten Lombok Timur beberapa tahun silam. Mendadak saya mulai merindui sesuatu; saya perlahan merindui senyuman dan aroma nakal para murid - murid SD Negeri 9 Lendang Nangka itu.

Bersama tim KKN mahasiswa UGM, saya memicingkan mata ketika masuk di gerbang desa tempat dimana saya akan bergulat dengan masyarakat dua bulan ke depan. Di benak saya, mula - mula, pikiran saya hanya dipenuhi oleh program kerja yang sangat lumrah menjadi tren mahasiswa KKN : mengecat kantor desa, bikin tugu, dan hal - hal sepele yang sangat tidak punya nilai tambah di masyarakat.

Tapi, ketika saya bertemu dengan gedung sekolah itu, sepertinya ada energi baru ingin melesak.

Saya bukan mahasiswa yang akan bertitle S.Pd., tapi saya terlampau nekat ingin sekali meluangkan waktu untuk menjadi pengajar 'dadakan'. Kagok, itu sudah barang pasti. Tapi anak - anak itu terus menerus melempar senyum kepada saya.

SD Negeri 9 Lendang Nangka Lombok Timur
Suasana ketika saya sedang menyampaikan materi dengan laptop di mushola sekolah, karena sebagai satu - satunya tempat yang kondusif untuk belajar dengan interaksi.

"Sekali lagi! Sekali lagi, kak!", itulah yang selalu terucap jika saya ingin menyudahi sesi mata pelajaran yang mampu saya ampu : IPA. Mereka terus merengek ingin diputarkan kembali video - video hasil jarahan dari situs populer Youtube yang berisikan tentang penerapan ilmu - ilmu IPA secara konkret di kehidupan nyata. Jangan tanyakan kenapa masyarakat pelosok (terlebih anak - anak) sangat antusias jika diberikan model pembelajaran seperti itu.

Saya dan pak guru pun berbagi jam alokasi pelajaran IPA yang dua kali seminggu itu. Kami pun sama - sama mendapat jatah satu kali seminggu untuk masuk memberikan materi Ilmu Pengetahuan Alam.

Terkadang, saya menyisipkan sebuah klip mini yang bisa mengundang gelak tawa mereka; itu saya lakukan bila saya sudah kehilangan gairah dan konsentrasi anak - anak itu. Mereka kembali mengerubung perangkat komputer jinjing saya dan langsung melahap apa yang disajikan dalam klip video itu. Di akhir, mereka pun tertawa, lepas. Lagi - lagi, gelak tawa itu yang mengundang spirit mengajar saya untuk hidup kembali.

Video - video itu menjadi amunisi bagi saya agar mendapat perhatian mereka; itu pada mulanya. Namun, lambat laun, mereka menanam rasa simpati mereka meskipun itu di luar jam sekolah. Menyapa, mencari, bahkan tidak sedikit yang menggoda. Ketika mereka memiliki jam untuk pelajaran IPA, mereka bahkan mencari saya, hingga ke pondokan (rumah tempat tinggal ketika KKN-red). Padahal mereka tahu, jam tersebut bukan milik saya, melainkan guru kelas mereka.

Sekolah Dasar di Lombok
Dengan jas almamater kebanggan, teman saya menyampaikan materi pelajaran.

"Kalian mungkin adalah semangat baru bagi mereka, ini adalah mahasiswa UGM pertama yang sudi menyambangi dusun kami dan tentunya sekolah ini", begitu kira - kira yang diucapkan oleh ibu kepala sekolah di sela - sela kami bertukar pikiran.

Sejenak, ketika saya tengah merenung saat mengajar, saya perhatikan wajah - wajah polos itu yang seolah - olah mengumbar sebuah pertanyaan : salahkah kami ini yang berada di pelosok?. Mereka haus akan realita. Mereka lapar akan cerita. Mereka giat bila bicara tentang kota. Dan mereka ingin juga memiliki cita - cita.

Untuk tertawa lepas saya mereka serasa dicekat. Bahkan, jika cerdas cermat pun, mereka selalu menyandang gelar 'pemeriah acara'; yang dipastikan akan kandas di babak awal. Pecundang? Saya rasa tidak, hanya saja mereka dibalut dalam hidup yang serba pas - pasan. Secara pribadi, saya justru berkeyakinan bahwa mereka tidak butuh mata pelajaran itu. Mereka hanya butuh tertawa dan tersenyum.

Program Kerja Mahasiswa KKNGuru - guru itu sangat antusias terhadap kami. Bahkan mereka sangat memberikan kami kelonggaran untuk sering - sering masuk ke dalam kelas. "Pengalama baru", begitu ujar salah seorang guru kepada kami. Ya, tentu saja sebuah pengalaman baru untuk kami, si mahasiswa bukan jalur keguruan. Dan menjadi pengalaman yang cantik kepada murid - murid karena belum pernah ada satupun orang dari tanah Jawa yang bersedia turun ke belantaranya daerah mereka. 

Guru - guru itu mungkin tidak juga seberuntung saya. Yang bisa bebas menghirup aroma tanah Jogja yang punya seribu warna. Yang menjadi kiblat dunia pendidikan tanah air. Bahkan ketika saya berikan materi dengan media digital saja, anak - anak tersebut sudah terpana.


Menjadi pendidik, akhirnya bukan sebatas mengajar dan men-trasfer materi. Menjadi pendidik untuk pelosok butuh semangat, imajinasi, cita - cita, hingga harapan. Menjadi pendidik juga butuh pengalaman dan wawasan. Agar ada cerita yang dapat membesarkan hati mereka, agar ada kisah yang memacu semangat mereka.

Saya akhirnya tidak kagok lagi. Di setiap menatap, saya membeberkan senyuman. Tentu ada yang membalas, tapi juga ada yang tetap berisik; mungkin karena mereka belum tahu cara membalas senyuman itu. Tapi tidak mengapa, hati ini sudah terpaut disana.

Deretan senyuman dari anak - anak itu memberikan saya sebuah penyesalan : kenapa saya tidak memilih berkarir di dunia pendidikan (saja)?.

Anak - Anak desa Lombok
Saya dan sebagian murid - murid SD Negeri 9 Lendang Nangka di sore hari. Kami latihan gerak jalan.

Saat ini, sudah hampir dua tahun saya menanggalkan diri sebagai mahasiswa KKN. Pagi itu saya beranjak dari Mataram menuju Lombok Timur, tempat dimana hati ini pernah terdampar. Seorang anak yang saya pernah kenal dulu itu kemudian menodong saya dengan sebuah pertanyaan : "kak affan, ya?". Lantas, gerombolan lain datang memberondong saya dengan tatapan. Saya kemudian hanya bisa berkata, "Ada rombongan mahasiswa KKN lagi yang mau datang, beritahu mereka apa rahasia kita kemarin". Mereka tersenyum bulat - bulat; mereka tahu apa yang saya maksud.


Ini adalah kali pertama saya mengecap menjadi pengajar. Tapi saya masih ingin lagi, bukan sekali lagi.

Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Blog Sampoerna School of Education "Menjadi Pendidik"
[..]


SUNSET AT LOMBOK [1]

Sudah lama sekali saya tidak mengutak-atik hobi saya untuk jeprat-jepret sana sini.

Pembuka : ID Baru.
Oh ya, perkenalkan sebuah ID saya yang baru ini : a.i.r yang merupakan akronim dari nama lengkap saya yaitu Affan Ibnu Rahmadi. Biasanya saya menggunakan ID lama saya yang berbunyi kakve yang lantas kemudian saya namai kembali menjadi affanibnu. Kedua ID ini sama-sama memegang peran utuh sebagai admin blog Santai Sejenak | Secangkir Teh dan Sekerat Roti.


Pasti pada bosen ya liat ID ini bergentanyangan di kotak komentarnya.

Sunset at Lombok.
Sebenarnya lebih cocok memberikan judul artikel ini dengan "Sunset at Mataram City", karena tidak semua bagian Lombok memiliki tempat yang stategis untuk menikmati sunset. Tapi, hampir di setiap sudut Kota Mataram kita dapat menyapu pandangan ke arah barat menuju mentari yang bergerak tenggelam.


Siluet Pohon pada Sunset di Lombok
Foto ini diambil pada sebuah sawah di wilayah Jalan Lingkar Selatan Kota Mataram
Download Stand Still disini (via 4shared)



Siluet Pohon Kelapa Sunset Di Lombok
Foto ini diambil pada Pantai Tanjung Karang Kota Mataram yang menghadap ke Selat Lombok
Download Standing By Sunset disini (via 4shared)



Siluet Masjid Sunset di Lombok
Bonus foto kubah masjid yang tidak berbentuk bundar. Ini adalah masjid dimana saya biasa melaksanakan shalat berjamaah.

Download Menjelang Azan disini (via 4shared)

Selamat Berpuasa
[..]


THREAD COMMENT DAN TANTE ALEXA

Salam hangat dari Lombok (Surganya Para Pecinta Pantai)

Thread Comments
Alhamdulillah, sekarang saya sudah dapat memasang atribut Thread Comment pada setiap halaman post di blog. Saya maupun anda sekarang sudah dapat berbalas komentar. Besar harapan saya dengan adanya hal ini saya dapat lebih bisa berinteraksi dengan kawan - kawan.

Sebagai pemula pengguna thread comment, saya harus banyak belajar kepada kawan kawan blogger lain yang sudah terlebih dulu sukses menggunakan thread comment tentang bagaimana mereka gigih membalas setiap komentar yang sudah masuk pada artikel milik mereka.

[..]


LUPUT

Hanya sebuah postingan biasa biasa saja di awal Ramadhan.

Bayangkan anda berada di sebuah terminal bus sendirian. Anda berjumpa dengan puluhan orang yang tidak anda kenal. Maukah anda menyapa mereka satu per satu?
Jawaban : tidak, saya dan mereka tidak punya kepentingan.

Bayangkan anda menjadi seorang murid SMA yang baru masuk. Banyak orang yang tidak anda kenal. Apakah anda mau menyapa dan berkenalan dengan mereka?
Jawaban : iya, saya dan mereka sama sama punya kepentingan.

Anda adalah seorang blogger. Anda bertemu dengan blog blog asing. Maukah anda menyapa pada kotak komentar serta mencari tahu siapakah dibalik tulisan itu?
Jawaban : iya, supaya mendapatkan trafik, dan tidak, supaya saya tidak buang buang waktu dan duit terlalu banyak untuk bayar internet.

[..]


BLOGGER DAN RAMADHAN

Tidak terasa, sebentar lagi saya dan juga para muslimin yang lain akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Selamat berpuasa sob! Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Siluet Masjid


Yes! Apa Kabar Blogger? Gimana nih kita dan puasanya kita?

Sedikit mengingatkan juga kepada Blogger yang lain, bahwa ternyata kita juga harus mengatur ulang jadwal ngeblog kita, terutama blogwalking. Ada cukup banyak hal yang mengakibatkan perubahan ini : pola makan, kondisi tubuh, dan waktu waktu yang memang tidak boleh dan rugi jika dilewatkan.

Ini dia waktu - waktu mustahil untuk blogwalking :

Setelah Sahur
Jelas pada tidur. Opsi kedua pasti lagi tadarus Al-Qur'an atau ada pengajian.

Setelah Jam 7 Pagi
Sama aja. Yang libur masih pada tidur. Yang ngantor pada lembur kejar cuti buat mudik.

Setelah Shalat Dzuhur
Panas mencekat, terik, dahaga, komplitlah semua. Opsinya : lagi lagi tidur.

Setelah Berbuka
Tentu anda sedang kenyang dan mempersiapkan untuk Shalat Terawih. Mau buka komputer aja mikir dua kali.

Saat Terawih
Mana ada yang sedang BLOGWALKING jam segini.

Ketika Tidur Hingga Sahur
Ah! Yang ini gak usah dibahas!

Ternyata banyak bro!.

Wah.. Bagaimana dengan waktu waktu yang mungkin untuk blogwalking?

Setelah Shalat Ashar
Lumayan toh buat ngabuburit, he-he-he. Sambil googling menu menu buat berbuka nanti. Tapi lebih afdhol sebenarnya jika bertadarus.

Setelah Shalat Terawih
Wih! ini kita benar - benar fresh untuk menjelajah blog blog teman. Jangan kemaleman, ntar gak bisa bangun sahur.

He-He-He. Sadar atau tidak, Ramadhan sedikit banyak akan mempengaruhi performa kita dalam ngeblog. Belum lagi akibat menjelang mudik nanti, BLOGWALKER pada pulang kampung : gak ada sinyal. HAH! ALESAN!

Assalamualaikum WR WB.
[..]


KUALITAS

Kepada sahabat.

Ini soal menjaga kualitas anda di mata orang. Apa yang anda keluarkan, justru akan menjadi bumerang bagi orang lain untuk menjatuhkan anda.

Beberapa saat yang lalu, ada sedikit silat lidah (aktualnya sih silat jemari tangan, he-he) antara saya dengan rekan blogger lain. Cukup sulit permasalahannya, mengingat ini bersinggungan dengan ajaran AGAMA. Kalau pun ditanya siapa dan dimana, saya rasa saya tidak akan menjawab. Saya akan membuat alasan yang serupa dengan perkataan koruptor : saya lupa!

"Seperti ilmu padi, semakin berisi maka semakin menunduk"

Tentu, jika anda memang sudah memiliki ilmu atau sedang menimba ilmu, tentu saja anda akan menjadi lebih bijak dan lebih santun. Terlebih jika ilmu tersebut adalah tentang akhlak atau perilaku sosial. Saya yakin, tidak ada ilmu yang mengajarkan anda untuk MENGHINA, MENYUDUTKAN, serta MENJELEK JELEKAN orang atau kelompok lain.

Punya segudang ilmu tapi tidak punya santun, inikah kualitas kita?

"Tong Kosong Nyaring Bunyinya"

Lawan yang lain (rekan blogger lain) justru tidak kalah hebohnya : ikut ikutan untuk menimbrung untuk memperkeruh suasana dengan membeberkan ketidak-santunannya. Tapi, ketika saya mengintip halamannya (blognya), eh, ternyata konten blognya malah PORNO semua.

Alangkah bijak jika anda memperbaiki kemaksiatan yang ada pada konten blog anda, sebelum anda melangkah untuk mengecap jelek dan hina nya suatu kelompok (terlebih jika ini berbau aqidah, fiqih, dan akhlak).

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Saya juga pasti memiliki kesalahan. Bagaimana dengan anda?
[..]


MENDIGITALKAN INDONESIA


Seperangkat laptop memutar lagu berjudul Berdua Saja milik kelompok Payung Teduh dengan format mp3. Di sisi lain, telepon genggam komat kamit ketika pesan singkat dari seorang kawan ingin mengajak memburu sunset di pinggir pantai; ingin membingkainya dalam sebatang file JPEG. Di luar kamar, MetroTv sedang mengudara. Sedangkan saya harus update status di Facebook : " Androidku masih dalam mimpi".

Satu satunya benda yang masih harus dinikmati secara manual disini adalah seperangkat gitar dan senarnya tinggal lima.

Mendefinisikan (Belajar Menjadi 'Digital')
Memulai tulisan ini saja saya sudah harus bergumul dengan media digital. Nokia 3120 Classic, koneksi GPRS sebuah kartu GSM prabayar, dan Operamini versi java menjadi modal awal untuk menerjemahkan kata teknologi serta digital. Kemudian menyerahkannya kepada website yang memberikan layanan cuma cuma untuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

di-gi-tal : berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu; berhubungan dengan penomoran


tek-no-lo-gi : 1 metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan; 2 keseluruhan sarana untuk menyediakan barang barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia

Sebagai orang awam perkara linguistik, saya mengatakan : "mudah bukan mencari arti kata.. ?". Langkah satu sudah berhasil, artinya saya sudah bisa belajar bagaimana menggunakan dunia digital.


Teknologi Digital
Bagi saya, digital tidak hanya terkotak pada kawasan internet. Kamera digital? Jam digital? bahkan drum digital pun telah tercipta. Hanya saja, pada detik ini kita yang terlanjur mematok harga mati bahwa 'ini lho internet, dunia digital bro!'.

Mendigitalkan Pelosok
Saya mengharap betul jika anda sekarang segera membuka peta Republik kita tercinta ini. Segera tunjukan daerah Indonesia yang disebut pelosok!. Kalimantan pojok atas? Leher Sulawesi? Sumatra di punggung gunung? Di tengah perut Papua?.

Lihat, betapa enak kita menuding hidung saudara sebangsa ini dan mengatakan : "Selamat, anda hidup terjebak di pelosok!".

Tentang Pelosok
Suatu hari ketika saya tengah menjalani program Kuliah Kerja Nyata di pulau kelahiran saya, Lombok, hati saya hampir meledak. Saya sempat bertugas untuk membina sekelompok siswa siswi dekil tanpa alas kaki untuk menegakkan langkah dan melantangkan suara demi meraih gelar juara gerak jalan indah. Hampir mustahil memang. Sebab jika menoleh ke belakang pada setiap kompetisi yang bergulir, mereka ini hanya sebatas bahan ejekan bagi ribuan pasang mata para penonton di tepian aspal yang abu abu.

Siswa siswi ini jauh dari keberuntungan karena berada di kaki gunung, jauh dari gedebak-gedebuk dunia kota, bertemankan sawah, berkawan layang layang, sekantung gundu, kadang kadang juga pelepah pisang, dan segala kesukaran untuk meraih predikat manusia modern. Wajar saja jika teriakan dan ejekan itu tidak lagi mampu menembus liang perasaan mereka; karena mereka sudah kebal. Mereka sudah tuli; tidak peduli.

Tetapi ketika saya harus memutar otak guna melatih prajurit junior ini atau yang lebih tepatnya mirip orang orangan sawah, saya jadi teringat apa yang disebut dengan Youtube. Mengapa saya tidak memupuk semangat mereka dengan menyaksikan kegagahan pawai gerak jalan yang beredar di internet saja. Dan mengkombinasikannya disini, agar mereka juga bisa tampil lebih percaya diri dengan gerakan gerakan variasi nan indah gagah.

Saat pengumuman, kami juara dua tingkat kecamatan.



Gambar : saya dan prajurit junior gerak jalan indah

Penutup: Pelosok
Indonesia tidak hanya Jakarta. Indonesia juga tidak sebatas ibu kota provinsi. Kita adalah negara berbatas air dan bumi. Di sudut jauh sana, masih banyak mereka yang penuh tanya : apa itu digitalisasi?

Mendigitalkan Kaum Tua
Bapak/ibu anda gemar berlama lama di depan layar Facebook? Jika iya, maka beruntunglah anda. Anda dapat dikontrol dengan siapa anda sedang menjalin cinta. Dewi? Ratna? ataukah Anton?.

Tentang Kaum Tua
Baru baru ini, anda mungkin yang sebagai orang tua, tengah sibuk dilanda galau : kemana anak saya ingin melanjutkan sekolah?. Saya juga mengalami hal yang serupa, hanya saja orang yang ingin melanjutkan sekolah adalah adik bungsu saya.

Di sebuah selasar sekolah menengah pertama, saya menggandeng adik saya untuk mendekati meja panitia penerimaan siswa baru. Namun sejurus kemudian, seorang bapak bapak dengan baju batik bertanya pada saya dengan nada penuh bingung : "Apakah yang anda bawa itu?. Secarik kertas yang tampaknya tidak lazim dibawa oleh pendaftar pendaftar lain"

Saya lantas mengatakan : "Ini adalah formulir hasil input data online, langkah pertama sebelum mendaftar disini". Bapak itu mengerutkan kening. Barangkali masih berusaha mencerna lebih dalam lagi apakah yang dimaksud dengan online. Yang lain mulai riuh, terprovokasi kata kata. Ada yang menggebrak meja, ada yang mengumbar amarah. Pokoknya segalanya tumpah; memarahi betapa bebalnya mereka terhadap dunia yang semakin gila.

Pendaftaran sekolah kali ini, bagi saya, cukup berbeda. Calon siswa diharuskan untuk menginput data terlebih dahulu, seperti nama, asal sekolah, dan tentu saja nilai hasil ujian nasionalnya, kepada sebuah website penerimaan resmi milik dinas pendidikan pemerintah kota. Setelah hal tersebut dilakukan, baru kemudian datang untuk mem-verifikasi pada sekolah tujuan. Hal terakhir yang dilakukan adalah duduk menunggu di depan monitor apakah nama anak tersebut masuk ke dalam daftar yang terseleksi berdasarkan urutan/ranking nilai ujian nasional. Dan pergeseran nama nama itu berlangsung secara online.

Ini adalah arena kecil bursa komoditas siswa siswi berprestasi untuk dijudi. Siapa saja sudah bakal tahu siapa sosok yang berada di tangga puncak ranking, duduk manis tanpa harus terganggu untuk tergeser; yang artinya sudah siap untuk diterima pada sekolah tersebut. Sedangkan, yang berada di bawah pasang muka tegang. Siap siap cabut berkas, angkat kaki, input data kembali, dan segera mencari meja pendaftaran lain.

Adik saya mendapat peringkat 6 dari 306 siswa yang diterima (namun bukan pada gambar di bawah ini). Sedang Bapak yang tadi sudah tidak nampak lagi.

Gambar : Screenshoot Website Penerimaan Siswa Baru Kota Mataram 2012

Penutup : Kaum Tua
Masuknya era digital yang sangat cepat tidak mampu memaksa sebagian kaum tua untuk belajar lagi. Tapi kita sebagai yang muda, yang masih separuh terisi gelasnya, malah jauh larut menjadi bagian digitalisasi; saya tidak bingung tuh ketika harus melakukan pendaftaran online karena saya sudah sangat terbiasa bercengkrama dengan Firefox. Sebuah ketimpangan di antara batas zaman.

Seperti saya ini, orang tua saya sama sekali buta akan Facebook, apalagi jika harus diminta memberikan hastag atau nge-retweet ocehan orang. Saya harus mendirikan tubuh saya sendirian untuk tegar, kokoh, serta selektif terhadap digitalisasi ini. Tanpa panutan. Hanya akal guna menutup nafsu serta agama sebagai lentera yang mendampingi saya melangkah pada setapak kabut : internet.


Manfaat Teknologi Digital
Saya tidak perlu membubuhkan kata 'di Indonesia' pada tulisan di atas ini. Indonesia terlalu gemuk bagi saya untuk dijabarkan. Biarlah 'Peranan Teknologi Digital' ini hanya sebatas frase kecil dalam hidup saya. Toh, saya juga tidak mampu membayangkan apapun yang sejatinya saya tidak bisa rasakan manfaatnya.

Teknologi digital telah memberikan senyum kepada anak anak kumel di pelosok kaki gunung itu. Mereka kini duduk bangga dihadapan piala pertamanya. Tersenyum manis, merasa puas sudah bisa mengalahkan keberingasan anak anak kota. Dan menjadi saksi bahwa zaman menggeser kepada genggamannya.

Teknologi digital juga telah memudahkan para orang tua untuk memantau perkembangan posisi anaknya di atas meja judi penerimaan siswa baru. Tidak ada lagi repot repot membawa stopmap banyak banyak. Tidak juga perlu lagi mencari informasi yang masih samar. Semua sudah jelas. Bahkan sesuai dengan harapan.

Mendigitalisasikan Indonesia
Mendigitalkan Indonesia menjadi ribuam file lantas diunggah dalam internet dapat mendatangkan manfaat tersendiri. Foto foto, berita, cerita, kesan, video, sildeshow, dapat menjadi senapan bagi Indonesia dalam memperkenalkan budaya ke dunia.

'Indonesia dalam digital' juga akan membuat semua persoalan lancar. E-KTP dan database siswa sekolah contohnya. Semua ingin dibuat menjadi satu, tidak perlu kertas tidak perlu berkas. Toko atau kedai online juga akan menjadi tombak baru industri kreatif Indonesia. Forum online akan mempersatukan Indonesia tanpa batas antara laut dan bibir daratan.

Mendigitalkan Indonesia juga berarti meremajakan lagi budaya lama kita. Seperti kisah antara saya, sajak, dan internet. Saya tidak perlu repot lagi mencari kumpulan sajak Sutardji dan Chairil Anwar di toko buku atau juga sajak indah para blogger lain ketika menyulam kata menjadi serangkai prosa. Semua sudah dilimpahkan pada internet. Tinggal bagaimana kita mengais dan eureka! saya menemukannya.

Mendigitalkan Indonesia dapat menuai beribu manfaat. Tapi, apakah kita sebagai mayoritas kaum melek teknologi sudah siap dengan hal itu? Membawanya ke dalam kualitas, bukan justru mengubur harapan untuk menjadi lebih baik.

Saya Heran
Saya menumpahkan ide ini pada sebuah menu text editor pada Ubuntu 11.10 milik saya. Tapi saya tidak menemukan titik dimana saya harus membalik bahkan mengganti kertas yang menjadi batas barisan kalimat saya; tidak seperti saat saya menorehkan sekarung kata di lembar kertas kertas kuarto bertintakan pena. Garis kedip kedip itu terus menuntut dan mencekat saya dalam lautan kata; saya tidak tahu harus mengakhiri pada bait mana.


Apakah ini artinya saya masih kurang fasih menggunakan media digital; masih tergantung pada yang manual?

Apakah ini problema digitalisasi yang terlalu dini?


Lagu Berdua Saja sudah berputar untuk ketiga belas kali, tiada henti.

gambar dicolong dari sini : http://www.prodigi.asia/blog/wp-content/uploads/2010/12/garuda-wall.jpg

Artikel ini dipublikasikan untuk mengikuti kontes blog Pemanfaatan Teknologi Digital Untuk Indonesia yang diadakan oleh Komunitas Ngawur yang bekerja sama dengan Pusat Teknologi dan Blogger Nusantara.




Presented by Ngawur
Powered by Pusat Teknologi
[..]


THANKS TO FIRMOO

Dear Li Wenjie

Today, in the afternoon, the glassess has been arrived. I'm very happy. I can see more clearly now, especially in the night. I will tell to my friend about this, so they can get it too.

Thank you very much.

Mataram, July 5, 2012

Itulah yang saya bisa ucapkan kepada Firmoo yang telah sukses memberikan saya sebuah kacamata gratis. Ini dia penampakan seluruh isi paketnya : sebuah kacamata, kotak kacamata dan kain lap, sebuah obeng, dan sebuah dompet pembungkus asli dari Firmoo.

Dari luar negeri masbro mbaksis!

Dan bagaimana tampang saya yang kurang ganteng ini saat menggunakan kacamatanya?


Masih kurang ganteng kan? Ya sudahlah!

Bagi teman - teman blogger lain yang juga ingin mendapatkan kacamata gratis impor asli dari FIRMOO ini, klik saja gambar di bawah ini!




Saya jamin, tidak ada jebakan betmen, tidak ada redirect link, adf.ly, ato tetek bengek lainya. SEMUANYA GRATIS!! Anda cuma perlu meletakkan SEBUAH LINK pada halaman blog anda, dan tunggu saja KACAMATA GRATIS DARI FIRMOO segera berlabuh di rumah anda! [..]


LIBURAN GALAU


Selamat berhari libur, bagi para kawan kawan yang sedang asik duduk manis bersama kesenangannya. Mungkin ada yang pulang kampung; kalau yang ini mahasiswa punya. Yang anak SD mungkin pada pergi ke pantai, kebon binatang, taman rekreasi, atau mungkin singgah di rumah kakek nenek tercinta. Bagaimana dengan saya?

Ngeblog
Ini aktivitas paling menarik rasanya. Duduk manis saja di depan layar monitor. Melihat pergerakan kunjungan blogger lain. Tapi liburan ini sungguh merana. Karena jika sedang ngeblog, otomatis tidak kemana mana. Paling duduk di rumah, di warnet, atau yang paling bagus ya di hotspot. Jadi, sebenarnya anda, para blogger, sedang liburan gak sih?

Ngegame
Nama saya Rudi : ".. heran deh aku sama game ini, udah dimainin lima hari empat malem, tapi gak mau tamat tamat..."
Anton : ".. game apaan..?"
Nama saya Rudi : ".. Solitaire.."

Ngaraoke
*nggggiiiinnnggggg! <-- mikropon storing
Saya: "Jogjakarta..!! perkenankan..saya pada vocal..anda pada gitar..kamu pada drumm...kalian pada bass..penonton pada kabur..."

Ngeliat Tipi
"Hari ini Nazaurddin diperiksa oleh KPK.."
"Besok Nazaruddin diperiksa oleh KPK.."
"Anas Ubaningrum menjadi saksi pada kasus Hambalang.."
"Dilaporkan, seorang balita meninggal karena memakan kakinya sendiri.."
*mau liburan malah liat tipi (setiap hari itu itu saja)

Ngebersihin Rumah
Ini kayaknya yang paling afdol. Berhubung juga sudah mau puasa dan lebaran sebentaaarrr lagiii. Akan malas rasanya jika kita membersihkan rumah ketika sedang menjalankan puasa. Nah, bagi yang rumahnya penuh dengan sarang laba laba, lumutan, cat rusak, bibir pecah pecah, panas dalam, hidung mampet, telinga bernanah, wasir, darah tinggi, dan kencing batu segera oleskan minyak goreng cap kaki gajah.

Ngelakuin Hal yang Tidak Biasa
Hmm.. apa ya. Mungkin besok pagi saya mau pake jilbab, rok mini, dan gincu.
*woi! saya laki!

Dan masih banyak Nge-Nge-Nge yang lain. Jangan lupa, liburan itu penting. Berliburlah sebelum waktu liburan habis. Karena jika sudah habis, anda akan masuk kantor/sekolah lagi. *ya-iyalah!
[..]