LOMBOK TRIP : SENDANG GILE WATERFALL

Ngiler versi dua!

Baiklah. Mari saatnya air liur disedot sedalam - dalamnya. Mata dibelalakkan secara sempurna, dan dompet dibuka lebar - lebar agar masalah pendanaan bukan problem yang berarti. Mari membuka kembali peta geografi yang mungkin tidak pernah tersentuh lagi sejak SD dahulu. Tanyakan padanya : di manakah posisi Sendang Gile.. ?

Gile (pelafalan E mengacu pada mengucapan E pada kata DELIMA). Yap, sedikit banyak masih mengandung makna "gila". Gila, betapa nikmatnya jika rumah kita selalu menghadap pada air yang tak sabar menghantam bebatuan itu. Gila, pemandangan ini terlalu elok untuk dibungkus dimasukkan ke dalam album kenangan, mata kamera tidak mampu mencintrakan betapa lembutnya hempasan air dan betapa sejuknya iklim kaki gunung Rinjani itu.



Sendang Gile. Suatu fenomena yang berjarak sekitar 80-an kilometer menuju pucuk utara pulau Lombok. Jikalau anda memang rencana "piknik", maka jarak itu cukuplah hanya ditempuh dalam 2 (dua) jam dari pusat kota Mataram. Setiba di loket masuk, stamina anda akan ditantang untuk mengarungi deretan anak tangga yang kisarannya ribuan. Naik sedikit, kemudian turun, mengikuti lekuk perbukitan.


SARAN : Bawalah bekal yang cukup, terutama air minum. Sebab di sana sulit didapati pedagang. Karena jikalaupun ada, harganya tentu menjadi "harga gunung". Naik motor atau mobil adalah sama saja. Tidak perlu cemas, deretan panorama lain dalam perjalanan siap mengusir kebosanan anda.


[..]


LOMBOK TRIP : SENGGIGI BEACH

Ngiler!

Sebelumnya aku harus meminta maaf untuk dua hal kepada pembaca artikel ini. Yang pertama, aku harus benar - benar minta maaf sebab kebanyakan isi dari artikel ini adalah gambar. Yang kedua, mohon maaf bagi kawan - kawan yang sudah melihat gambar. Maaf sudah membuat ngiler. Mari melancong!.

Pantai Senggigi. Siapa yang tidak kenal. Boleh jadi inilah yang sering disebut - sebut orang selain Kuta (Bali), yang berjarak tempuh setengah jam dari pusat kota Mataram. Dari Mataram, anda berjalan saja terus ke arah utara, dapat melewati Ampenan atau juga Gunung Sari. Saranku: naik kendaraan pribadi. Mengapa? Karena sebelum ataupun setelah Senggigi nanti banyak sekali tempat yang tidak kalah menarik untuk disinggahi sejenak. Kebanyakan tempat itu berada persis di tepi jalan.

Pesan : Hati - Hati. Banyak Jurang. Jurang yang face-to-face dengan air laut.

Mari Langsung ke foto.

1. Terlihat pada gambar, di seberang sana terlihat pulau Bali. Sebagai info saja: kata orang, dari pulau Bali sendiri, pulau Lombok justru tidak terlihat. Info lain : kalau mau sunset terspektakuler, datang saja ke Lombok kisaran Bulan April-Juni. Karena Matahari persis tenggelam disekitar Gunung Agung. Luar biasanya jingganya!.

2. Yang suka menyendiri : kadang - kadang Senggigi juga bisa menjadi tempat yang cocok untuk relaksasi dalam kesendirian. He-he-he.

3. Ini dia, ujung - ujung pulau yang menjorok ke laut. Indah bukan ?

4. Silau.

5. Ini kolam atau laut. Betapa tenangnya.

6. Hmm. Setelah berenang, makan sate Bulayak dulu, khas dari LOMBOK!

7. Sudah makan, sudah berenang. Main kano, kenapa tidak..?


Mungkin ini secuil saja dari apa yang digembar - gemborkan orang sebagai Senggigi. Mata kameraku memanglah terbatas, tapi mata anda akan memandang bebas. VISIT LOMBOK!.

Oh ya, aku kasih oleh - oleh kecil. Ini ada wallpaper untuk Kompi khusus Gambar 1. MARI DONWLOAD.
[..]


MATARAM (2)

Hanya on the way.

Beberapa catatan ketika anda memasuki wilayah kota Mataram. Bahkan bukan hanya Mataram saja, tapi juga wilayah Lombok. Sebaik anda berjaga - jaga saja ketika on the road melawati aspal milik pulau Pedas ini.

1. Jalan - jalan relatif kecil.
Jika dibandingkan dengan jalanan beraspal mulus yang terdapat di tanah Jawa, jalanan di kota ini relatif lebih kecil. Jarang ada truck dan bis besar. Selain itu, bis antar kota juga berjumlah cukup sedikit. Kalaupun ada ukuran bis tersebut merupakan mungil di kelasnya. Kota Mataram sepertinya tidak didesain untuk dilewati bis kota seperti layaknya Jogja.

2. Asap, Debu, dan (kadang - kadang) Pasir
Benar juga kata sepupu ku : Mataram beda sekali dengan Jogja. Di Jogja yang ada hanya asap dari knalpot, sedangkan di Mataram memang asap relatif tidak ada, tapi debunya itu merangsek masuk ke tempat pupil itu berada.

Mataram, dengan letak geografisnya yang bercumbu langsung dengan pantai, sedikit banyak mempengaruhi jumlah pasir yang ada di atas tanah. Banyak jalan - jalan yang masih berselimut dengan kawanan pasir, bahkan di beberapa tempat cenderung dapat membuat ban kendaraan anda menjadi selip.

Jadi, anda jangan takut jika kelupaan membawa masker. Tapi bolehlah jika ketakutan anda timbul ketika terlupa membawa kacamata atau helm berkaca. Awas : Dust in The Wind! (Lagunya Kansas).

3. Kuda beol sembarangan.
Kuda (horse), menjadi salam satu penggerak utama dari alat transportasi di kota Mataram. Tidak ada becak, tidak ada keledai. Yang ada hanyanya seekor kuda dengan beban dokar dibelakang ekornya. Bisa saja manusia berhidung yang menjadi bebannya. Sembako seperti petai atau cabai, atau kadang - kadang material bangunan turut menjadi tumpangan. Dokar dengan atap dan beroda dua itulah yang kerap kali menghiasi sudut - sudut pasar tradisional, pojok - pojok keramaian, atau sekelompok kusir yang nge-tem diselatan POM bensin Karang Jangkong dimana situlah para pelajar, yang pulang ke selatan, mengganti angkutan dari bemo menuju kendaraan yang memiliki sisa buang (maaf) kuning - kuning yang berbau itu.


Cidomo. Begitu orang menyebutnya. Pesan : jangan sekali - sekali menyalip dengan pikiran yang ragu, karena sang kusir dapat berubah pikiran dan membikin kudanya berlari lebih menggila. Awas, kotorannya membikin jalanan tidak hanya monokrom.
[..]


MATARAM (1)

Klasik.

Mataram. Sebuah yang punya batas geografi pantai, yakni selat Lombok. Sebuah kota yang hanya punya sebuah jalan lingkar yang terkenal : JALAN LINGKAR SELATAN. Sebuah kota dimana terdapat kantor bagi Gubernur Nusa Tenggara Barat. Sebuah kota yang cukup kecil, bahkan orang - orang tidak akan berfikir bahwa itu adalah sebuah ibu kota propinsi. Sebuah kota yang tidak ada bis kota, hanya ada sebuah mobil Carry bercat kuning yang mampir di kiri jalan. Orang kerap kali menyebutnya : bemo. Dan Mataram adalah kota dimana hewan masih bebas berkeliaran : si kuda penarik dokar.

Aku tidak menyangka akan mbrojol di sini, di sebuah tempat yang tidak terdapat bioskop jaringan 21 (twenty one). Aku juga tidak menyangka, orang - orang diluar sana bisa gila jikalau aku bilang : saya asalnya dari Lombok. Sejatinya bukan, karena orang tua tulen berdarah Bantul. Aku juga tidak menyangka kalau aku akan melihat seorang pengendara roda dua melaju pesat, meliuk - liuk di jalan, tanpa menggunakan pelindung kepala. Yah, beginilah Mataram.

Mataram, tempat dimana masyarakatnya sudah memiliki rasa panik yang siap memuncak jika melihat POM bensin mendadak kebanjiran massa. Tidak perlu heran, kejadian premium langka itu hal yang cukup wajar. SPBU lantas penuh sesak oleh berbagai kendaraan, tidak peduli malam, tidak peduli setan, sekali antri maka tangki harus meluber. Entahlah. Saking seringnya, beberapa orang mengambil keputusan : safety inventory (cadangan keamanan) dari tangki motor mereka dinaikkan hingga separuh isi. Hal tersebut dilakukan agar ketika gejolak masalah bensin mencuat, mereka setidaknya masih mampu mengepulkan asap kendaraan.

Mungkin kawan - kawan masih ingat, masih segar, ketika DEPO PERTAMINA AMPENAN meledak dan terbakar tempo hari. Akhirnya, isu premium akan susah didapatkan pun merebak !. Dahsyat, semua eceran ludes dibeli. Dan POM - POM bensin kelabakan melihat antrian yang memanjang. Beruntunglah, isu tersebut mereda setelah ada jaminan dari pihak terkait pada sore hari di hari yang sama.


Akhirnya, setelah semua orang merasa keyang membeli bahan bakar pada hari itu, keesokan harinya SPBU menjadi kosong. He-he-he.
[..]


SEBUAH PERJALANAN (SEMENTARA ITU)

Sementara itu, di ujung jalan ia bersajak : ini bukan ujung jalan.

Jogja - Mataram memang telah ditakhlukkan. Tapi bukan berarti senyum ini membuncah dihadapan dirinya. Senyum ini harus ku makan sendiri nanti, ketika aku memandang di hadapan cermin milikku di kamar Jogja itu. Sekarang adalah saatnya, menabung senyum untuk menjadi bara api rindu ketika telpon menjadi hal terbaik dalam menjalin hubungan kelak.

Beberapa petikan ketika perjalanan lalu.

1. Pandanglah ke depan.
Memandang ke depan selain berarti optimis juga bermakna "anti-mabuk". Jangan pernah memandang kabel listrik yang cembung-cekung atau pepohonan yang timbul-hilang di tepi jalan. Itu akan berakibat fatal bagi anda yang gemar hoek-hoek selama perjalanan. Memandang ke depan (ketika di bis), dapat mencegah timbulnya rasa mual dan pening tersebut.

2. Jangan pernah memandang ke depan jika di kapal BALI-LOMBOK.

Mengapa? Hal yang akan terlihat adalah dua orang, seorang pribumi yang berlagak bule, dan seorang bule tulen sedang tertawa melihat botol birnya yang meluber tatkala di buka secara paksa. Mereka kemudian dengan hangatnya bibir itu mencumbui leher botol yang semerbak beraromakan kentalnya alkohol. Menjilatinya bak sedang bercinta dengan wanita bertubuh seksi dan diakhiri dengan sebuah suara "cringg!" dari botol yang saling toss beradu.

Bule itu lantas bercerita tentang bagaimana dirinya dulu ketika 10 tahun berkenala mengenakan baju tentara. Dan sebagai pendengar setia, pemuda pribumi itu manggut - manggut tanda paham, padahal TOEFL-nya mungkin belum terukur.

3.Jangan pernah memandang ke belakang kapal Ferry.


Sore itu sunset cukup menggoda. Matahari yang kandas di balik deretan bukit kecil, memantulkan sinarnya di air laut, merona dan menjingga. Tapi hal itu tidak cukup menenangkan orang yang terlanjur menatapi air yang begejolak. Drr! Drr! Air itu menabrak tepian kapal, serasa ingin menghempas dan kami ingin diajak bermain dalam pusarannya. Beberapa kaum hawa yang terlampau stress berzikir hingga ada yang berteriak kecil ketika kapal oleng ke kanan lantas memantul ke kiri.

Getir. Itulah suasana sunset senja itu. Bisa jadi itu sunset terindah dan terkahir yang kami lihat. Tapi angin laut ingin berkata lain. Ia bersajak : tidak, ini bukan ujung dari jalan.
[..]


SEBUAH PERJALANAN (AKAN)

Sayup - sayup ku dengar kuda besi itu menjingkrak
Keras sekali
Hampir tuli aku dibuatnya
Aromanya pekat, aroma perjuangan
Seutas langkah yang panjang
Melintas hari membelah malam

Ia mencuat di sela deburan pasir
Tak peduli hujan tak peduli setan
Tapaknya lembut menggerus jalan berbatu
Ia lantunkan sebuah senandung
Frank Sinatra bangkit dari lahat
Lantas melecut gitar dan mengiang : My Way

Di sudut fatamorgana aku melihat
Rumahku
Tapi akupun tahu
Kuda ini tetap melaju


Jogja, Januari 2010 di bawah senja bermandikan gerimis.
_____________________________________________
Sebuah ritual dimana aku ingin memadamkan api rindu.
Aku ingin memutar - mutar antena rumahku
Aku ingin bergitar bersama saudaraku
dan Aku ingin melahap wajah yang sudah bersolek untuk diriku itu.

Ini dia tiket tersayang, tiket tulisannya berangkat jam 1 siang ini. Ketemu lagi di Lombok sob!.

[..]


ZEBRA CROSS YANG BERALIH FUNGSI

Dimana perkataan "dahulukan pejalan kaki".

Kejadian ini terjadi disebuah perempatan pertemuan antara Ring Road utara dan Jalan Monjali (Monumen Jogja Kembali). Tidak ada yang salah. Si pasangan yang dimabuk mesra itu menggunakan helm standar (walau bukan full-face), memasang plat nomor, memiliki balon lampu belakang (lampu rem yang menyala, dan berhenti tatkala lampu lalu lintas merona merahnya. Ditambah sang bini merangkul erat si pejantan, tanda ketakutan kalau - kalau lakinya mendadak membikin motor itu nungging ketika tarikan pertama (gambar ada di bawah).

Intermezo sedikit. Jogjakarta adalah memang terpandang sebagai ikon kota pelajar. Tidak sedikit pelajar - pelajar luar daerah yang mengadu kecerdasan otak disini, bahkan jumlah ini hampir sulit didapatkan di kota - kota lain, selain Jakarta dan Bandung. Wajar saja bila mata anda akan dimanja wajah - wajah belia nan ayu dibalik asrinya kerudung, atau bisa saja hati menjadi iri bukan main melihat sebuah pasangan saling merangkul tanda bahwa Jogja adalah saksi cinta mereka.

Geliat jiwa muda pun ikut meningkat. Lihat saja tampilan yang nongkrong disekitar tubuh belia tersebut. Mulai dari pakaian yang melekat, handphone yang berkilau, dan kendaraan yang justru mampu menggambarkan kepribadian dalam dirinya. Jika setiap pemuda memiliki semua diatas tersebut, maka yakinlah bahwa jalanan di Jogja sudah pekat dengan aroma kegengsian dari asap yang mengebul di knalpot mesin mereka.

Nah, apa yang dilakukan sepasang kekasih di atas adalah buah dari gengsi tersebut. Malam tahun baru, hampir seluruh ruas jalan macetnya bukan kepalang. Hampir sulit ditemukan jengkal aspal yang tidak terlindas oleh karet ban. Disamping itu, ego enggan terlambat untuk melaksanakan tahun baru jadi ikut menggebu. Jadilah mereka yang menghuni zebra cross, bukannya pejalan kaki.

Jikalau mau ditelisik lebih lanjut, orang yang berhenti di zebra cross akan sangat sukar untuk mengetahui apakah lampu telah berubah warna atau belum. Boleh jadi, ketika lampu sudah menjelma menjadi warna hijau dan mereka belum kunjung bergerak, aroma kekesalan berhembus dari orang - orang dibelakangnya. Suara klakson pun berseliweran, bahkan sumpah serapah.

Jadi, mari patuhi peraturan LALU LINTAS dengan berhenti di belakang garis marka jalan. Setuju?
[..]


KALO TERLANJUR PUSING, BEGINI JADINYA

Beberapa hari belakangan aku harus mengomel.

Lihatlah carut marut si LPPM (Lembaga Pembikin Pusing Mahasiswa). Sebagai pemegang kekuasan kendali kegiatan KKN, mereka tampaknya tidak peduli bagaimana dan apa yang terjadi di kalangan 2007. Hampir seribu orang pusing dibuat oleh lembaga internal UGM itu. Isu - isu yang frontal keluar dari mulut ke mulut membuat setiap orang berspekulasi sendiri. Tak ayal, kata pertama yang keluar kalo menyoal pemberitaan tersebut adalah : katanya. Sebuah kata yang sulit dipertanggung jawabkan untuk informasi yang akan disampaikan setelah kata tersebut.

Yap, KKN membuat sebagian mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa yang sudah bikin tim, baik tim inti maupun tim setelah Oprek, kelabakan. Bisa - bisa apa yang selama ini mereka buat hanya akan bersarang disebuah tabung yang bertuliskan "tong sampah". Proposal, janji manis, bahkan rencana liburan ke tempat KKN nanti bakalan hanya mimpi belaka. Tidak ada pantai yang indah, tidak ada gunung setinggi janji - janji, dan tidak ada perkenalan yang berpanjang lebar.

Info yang disampaikan pun rasanya seperti hujan di siang bolong, sesuatu yang jarang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh sebagian besar mahasiswa. Mahasiswa masih berfikir bahwa untuk KKN tematik hanyalah tim yang telah mereka pilih sendiri. Namun, tiba - tiba keluarlah peraturan yang menyatakan tim ini hanya beranggotakan maksimal 3 (tiga) orang mahasiswa, sisanya nanti akan diplotkan (dipilih/diseleksi/berdasarkan) oleh LPPM. ALAMAK, TIM KAMI BUBAR!

Rencana KKN di LOMBOK, alias pulang kampung, pupus sudah. Tidak ada kedahsyatan Sunset ala Lombok, sambel terasi ala LOMBOK. Semua (kemungkinan besar), termasuk aku, hanya akan makan asam dan pahitnya tanah jawa.

Katanya di ITB, IPB, sama UI udah asing ya kata - kata KKN itu?

Sebagai kompensasinya, aku beri gambar IPIN dan UPI(L)N asli dari sever LOKAL, he-he-he.


[..]


CATATAN SEBELUM BERANGKAT BERTEMPUR

Pedas. Mari membawa kartu kuning dan membawa keringat.

1. Uang makan aku terpangkas.

Buset dah. Padahal program penghentian rokok sedang berjalan, begitu pula dengan agenda puasa jalan - jalan (kecuali jalan blog/blogwalking), tapi tetap saja uang makan menjadi sebuah momok bagi diriku yang berkantung kembang kempis. Kalo lagi kembang susah disumbatnya, tapi kalo lagi kempis susah dikembangin si kantong itu.

Lihatlah pada beberapa rumah makan yang punya nama seperti (mari sebut merek) JOGJA CHICKEN. Naik men hargnya!, misalnya nih, paket B naik 500 perak yang semula 6500 sekarang harus mau ditukar dengan 7000. Bagi sebagian orang, mungkin kenaikan ini dianggap masih dalam batas wajar (ya hitung - hitung parkir, sebab JOG-CHICK Jakal 13 tidak ada petugas berseragam oren). Tapi, bagi lambungku, kenaikan bukan hanya membekas pada sebuah paket B, tapi nasinya juga. Nasi seporsi ikut melambung 500 perak. Jujur, aku biasanya bilang sama mbak gendut si pengambil ayam itu : "Mbak, bungkus paket B. Nasinya DOUBLE". Ha-Ha-Ha.

Jadilah aku yang melarat. Kalo sebelum malam kembang api itu harga seporsi (untuk perutku) hanya 8000, kini aku harus mau hanya diberi kembalian lembaran seribu jika menyerahkan uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Oh, RUPIAH !.

Mungkin hal ini juga dilakukan oleh pedagang - pedagan makanan lain. Terkena euforia malam kembang api, dimana ketika kembang api merangkak membelah malam yang sunyi, harga - harga makanan juga diterbangkan untuk kesekian kalinya. Harap maklum saja. Penjaja - penjaja ini merupakan tumpuan hidup si mahasiswa. Jika mereka tidak ada, maka mahasiswa harus punya sebuah penggorengan dan harus mau meluangkan waktu untuk berbelanja ke pasar.

2. Eureka !. Aku jadi Author icantulang.blogspot.com
Hehe. Tenang ican, aku gak akan mengacau pada isi blogmu.

Halah, si ican. Sori ya kemarin chatingnya ke putus. Karena aku sih biasanya yang dijepit angka 5000, kemarin aku justru dijepit oleh kakaknya, 6000 rupiah, alias 3 jam online non-stop. Mungkin lain waktu, aku carikan solusi untuk masalah footer blogmu. Ya, maklum, sesuai judul : akan BERTEMPUR.

Ato mungkin aku kerjakan pas lagi dirumah, di Mataram, ha-ha-ha-. Jangan bilang - bilang sama yang di rumah sana, karena aku mau bikin kejutan. he-he-he.

3. Aku mau bertempur besok.

Besok hari pertama pertempuran di bawah naungan AC. Tapi begitu hari terakhir berlalu, hei, AKU TIDAK MAU KETINGGALAN BIS.
[..]


PERTAMAKS DI 2010

Aku tersangkut di malam
malam penghabisan
malam buang sial
malam dimana musik diputar keras
malam penuh dengan kebisingan
malam dengan orang - orang yang lelah menahan kantuk
Gerhana dan kembang api berpadu

Tapi aku jadi semakin bau tanah










Wah, udah 2010 ya. Tidak terasa ini blog ini akan masuk pada tahun kedua. Dan aku akan segera menyandang kepala dua. Ya Allah!. 2010, satu dekade dari tahun pergantian melenium kemarin, 2000. Masih ingat waktu itu, aku dan kawan - kawan menata panggung acara RT ganti tahun. Ada gitar akustik serta gitar bass. Musik mengalun lembut, ikut simfoni malam yang berkabung akan mati. Wah, cepat sekali rasanya.

Ngomong - ngomong nih, katanya mbah Google sedang menaburkan PR tinggi ya. Wah blog ini gak kebagian peningkatannya nih. Dari PR 4 ya tetep aja jongkok di angka empat. Yuk, kita bertukar link lagi, sebuah kegiatan yang sudah lama sekali diriku tinggalkan. Bertukar link untuk mempererat persahabat, dan saling meningkatkan kualitas blog kita dengan meningkatnya pagerank.

Seperti yang diberika oleh kawanku, Pak Heru (tiara-heru.blogspot.com). Sebuah award persahabatan di ujung tahun, namun sebagai pencetus sebuah persahabatan yang erat di tahun yang baru. Makasih lho pak, jarang - jarang aku dapet award, hehe.


[..]