DANAU : SETITIK ASA UNTUK INDONESIA


Prolog
Kalau saya dan kawan - kawan berdebat dalam menentukan tempat wisata, pilihan kami mengerucut pada dua hal : pantai atau gunung?. Saat ini saya baru menyadari, ada suatu tempat lain nan ciamik yang dimana air dan daratan yang tinggi dapat menyatu : danau.

Monolog
Kedua opsi itu sangat wajar jika tercipta pada saya yang ketika itu masih berdomisili di Kota Gudeg Yogyakarta; berstatus sebagai mahasiswa. Silahkan ditebak, kira - kira apakah nama danau terkenal yang ada di pulau Jawa?. Cukup sulit bukan.

Toba, bukan di Jawa. Singkarak (mungkin yang habis menyaksikan tour d'Singkarak), bukan juga di Jawa. Sentani, bahkan jauh berada di pelosok timur Indonesia. Tempe, Poso, dan Matano pun bukan berada di Jawa. Segara Anak, Batur, ataupun Buyan juga bukan terposisi di tengah - tengah pulau Jawa.

Jadi wajar saya kebingungan jika ingin bertandang pada objek wisata danau di Pulau Jawa. Belakangan baru saya ketahui, disalah satu sudut kabupaten Magetan ada sebuah objek dengan view yang elok yang disebut Telaga Sarangan. Now, saya berdomisili di Mataram, Lombok, yang orang kata sebagai surga terpendam di sebelah Bali. Dan di pucuk gunung Rinjani, disanalah sebuah danau cantik berada : Danau Segara Anak.



Dialog
Cas-cis-cus masalah lingkungan di Indonesia memang tiada matinya. Dan akhirnya, saya memicingkan mata kepada dua buah artikel yang sama - sama memiliki kata kunci 'danau' pada situs VOA Indonesia. Saya yang mulai jatuh cinta pada keindahan danau harus tersentak oleh sebuah artikel yang berjudul Danau di Indonesia Alami Kekeringan dan Pencemaran (VOAIndonesia.com, 20-07-2012). Cukup langka memang rasanya berita ini, sebab hal mainstream yang pokok menjadi bahasan pada kebanyakan media tentang urusan pencemaran ialah hanya dikerucutkan pada dua hal : pencemaran sungai dan pencemaran nama baik. Kekeringan pun hampir senada : kekeringan sawah, ladang, sungai, hingga keringnya kepercayaan terhadap pemimpin.

Aktivis Desak Pemerintah Lebih Serius Tangani Danau Kritis di Indonesia (VOAIndonesia, 17-06-2012) menjadi artikel kedua yang saya temui; membikin saya berselimut rasa cemas. Lagi - lagi soal danau, lagi - lagi soal kualitas yang malah semakin mundur, bahkan limit mendekati titik kritis. Bahkan kuping pemerintah kita harus sampai dijewer oleh peringatan dari aktivis lingkungan hidup akibat lalai mengurusi kondisi lingkungan danau.

Dari Danau Untuk Siapa?
Tidak dapat dipungkiri, tiada satupun ciptaan Tuhan yang tidak bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Termasuk pula danau. Danau menawarkan banyak hal untuk manusia dalam kepentingannya melanjutkan hidup. Danau memiliki ekosistem, baik secara hewani maupun secara vegetasi. Secara teknis, manusia dapat mengambil manfaat langsung dari danau seperti beternak ikan lewat media keramba hingga menjadi pemandu wisata. Air dari danau pun dijadikan sebagai bulir - bulir penyambung hidup bagi para petani disekitar kawasan danau.

Kereta Wisata di Danau Singkarak. [2]
Hampir sebagian besar pemerintah daerah setempat, yang menjadi dimana lokasi danau tersebut berada, yang sudah gembar - gembor untuk memajukan sektor pariwisata mereka menjadi 'danau-sentris'. Danau Toba, yang menjadi sebuah destinasi wisata domestik maupun mancanegara dengan Samosirnya, bahkan sudah mencicipi menjadi nominator Tujuh Keajaiban Dunia [1]. Singkarak-Maninjau digadang - gadang menjadi ikon pariwisata setelah Rumah Gadang pada provinsi yang beribukota di kota Padang. Sudah berapa kali sih diadakan lomba balap sepeda disana?. Bahkan saya pun baru tahu, terdapat rel kereta api di tepian Danau Singkarak dan masih dalam kondisi aktif [2]. Belum lagi wisata asyik nan sejuk di Danau Tondano, Sulawesi Utara. Dan yang tentu tidak dapat saya tutupi adalah keindahan Danau Segera Anak yang berada dipuncak gunung Rinjani yang menjadi paket tujuan wisata andalan di Pulau Lombok. Puncak Rinjani dicap sebagai salah satu seven summits versi Indonesia sebagai puncak tertinggi pada wilayah Bali dan Nusa Tenggara [3] dan ada danaunya!. Wow!

Berdasarkan sebuah data, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Simalungun mengalami penurunan seiring dengan menurunnya kunjungan wisata pada kawasan wisata Danau Toba [4]. Pada studi lain, dinyatakan bahwa kawasan Danau Ranau, yang berada di perbatasan Sumatra Selatan dan Lampung, memiliki potensi sebagai kawasan yang dapat menunjang Pendapatan Asli Daerah pada Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan [5]. Belum lagi ketika pemerintah daerah gencar melakukan promosi tentang potensi - potensi yang dimiliki kawasan danau mereka, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara dengan Danau Semayang-nya [6]. Hal yang senada dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Luwu Timur dengan Danau Towuti-nya [7]. Tentu dari sini dapat kita tarik sebuah benang merah bahwa kawasan danau dapat dan seharusnya menjadi sebuah lokomitif ekonomi bagi masyarakat serta pemerintah daerah setempat.

Peka Terhadap Perubahan
Ada gula, ada semut. Dimana ada obral, disitulah para ibu - ibu berkumpul. Dan nampaknya kedua perumpamaan ini ada benarnya. Dimana ada rezeki, di situlah manusia akan berkumpul. Tetapi, apakah kita mengetahui dampak negatif jika semangat membangun tersebut tidak berdasarkan koridor yang telah diatur?

“Misalnya di Danau Toba, penyusutan mencapai lima sampai 6 meter, ini sangat luar biasa. Penyusutan ini diikuti dengan tindakan mereklamasi. Jadi kawasan di pinggir danau, daratan diperluas untuk berbagai aktivitas. ..." --Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Nasional WALHI [8].

Danau Laut Tawar di Aceh alami pencemaran karena pengembangan daerah perkotaan. [8]
Danau yang mula - mula berpredikat pelosok saat ini sudah mulai dijamah. Pembangunan demi pembangunan dilakukan oleh pemerintah daerah berserta investor sebagai pihak ketiga untuk dapat menambang Rupiah dari hasil menjual view yang sedap dipandang mata. Tidak ada yang salah dengan yang ini. Namun, pembangunan yang kelewat tidak terkendali, seperti yang digambarkan pada sebuah foto tampak atas dari pesisir Danau Laut Tawar di atas, menjadi sebuah tanda tanya besar untuk masa yang akan mendatang : Apakah keindahan ini tetap akan abadi jika pencemaran masih terus berlangsung?

Tidak hanya dari pengembangan daerah perkotaan saja, kegiatan ekonomi yang menjamur tiada terkendali yang menggunakan ekosistem danau pun akan memberikan dampak negatif. Budidaya keramba yang tidak terkendali hingga penggunaan lahan pada sekitar kawasan danau yang salah adalah salah satu contoh yang marak diperbincangkan belakangan. Seperti yang menjadi isu hangat pada kondisi alam Danau Tondano.

"...Penyebab utama kerusakan lingkungan ini (pada Danau Tondano), adalah kesalahan dalam penggunaan lahan-lahan sekeliling danau. Tidak jelasnya batas tata ruang pemanfaatan (landuse) di kawasan ini, telah berakibat penggundulan hutan dan erosi yang tidak terkendali lagi.... Hasil penelitian UNSRAT tahun 2000 melaporkan produksi ikan tahun 1998 sudah mencapai 2000 ton dan meningkat terus dari tahun ke tahun. Tiap hari berton-ton pakan ikan (pellet terkonsentrasi) disebar di usaha-usaha karamba dan menjadi sampah yang sangat banyak dan selain mempercepat pendangkalan, eutrofikasi juga menyuburkan hama algae dan eceng gondok... Akhirnya, pelepasan detergen sebanyak kl. 50 ton per tahun, limbah padat dari hunian, pupuk dan pestisida (sebanyak 750 ton urea dan 250 ton fosfat) dari pertanian masuk ke dalam danau..." --Universitas Sam Ratulangi [9]
Gambaran di atas tidak hanya terjadi pada danau Tondano saja. Berangkat dari data Pusat Litbang SDA Dinas Pekerjaan Umum, masih terdapat banyak lagi danau - danau di Indonesia yang memiliki masalah yang cukup serius.

Susutnya hutan di wilayah Sumatera menjadi indikasi semakin menurunnya kapasitas hutan sebagai kawasan penyangga cadangan air tanah dan memberikan andil terhadap menurunnya kualitas ekosistem danau di kawasan Sumatera [10]

"Danau yang mengalami sedimentasi yang berat antara lain Danau Tondano, Tempe, Limboto di Sulawesi, Danau Jampang, Semayang, Melintang di Kalimantan. Danau Rawapening di Jawa Tengah dan danau lainnya mengalami sedimentasi ringan. Danau yang mengalami pengurangan luas antara lain Danau Limboto, Rawapening, Cidanau di Banten. Danau yang ditumbuhi oleh eceng gondok sehingga menutupi luas danau lebih dari 10% antara lain danau Rawa Pening, Kerinci di Jambi. Danau yang mengalami penurunan muka air yang nyata, yang disebabkan airnya digunakan untuk membangkitkan listrik antara lain danau Toba, Maninjau, dan Singkarak. Danau yang mengalami pencemaran oleh bahan nutrien (nitrogen, posfat) yang berasal dari limbah penduduk, pertanian, akitifitas perikanan dengan Keramba Jaring Apung (KJA) antara lain Danau Maninjau, Tondano, dan Toba." --Pusat Litbang SDA, Dinas Pekerjaan Umum [11]
Wajar saja jika aktivis lingkungan hidup harus berteriak lantang tentang lambannya respon pemerintah tentang penangangan 15 danau kritis di wilayah NKRI ini [12]. Dan saya pun ingin turut berkoar - koar disini dengan nada yang sama : SAVE OUR LAKE!

Kritis Untuk Bangsa
Mari kita menggunakan sebuah kacamata yang lain. Jika laut dan danau merupakan tempat dimana air menggenang, maka danau masih dapat mengering, tidak seperti laut. Seperti kisah pada Danau Kasai di Sumatra Barat yang dikeringkan untuk menjadi lahan pertanian [13] dan seperti fantastisnya cerita di luar negeri yang terjadi pada Laut Aral (danau Aral) yang mendadak tandus [14].

Sebuah jokes sering terlontar ketika kita mendapati barang elektronik kita rusak parah : "buang saja ke laut". Ya, hanya di laut, bukan di danau. Mengapa? Karena jika kita membuangnya di danau, maka barang tersebut tidak akan pergi kemana - mana alias tetap mengendap di dasar danau, berbeda jika kita membuangnya ke laut. Paling - paling barang tersebut akan dihanyutkan oleh arus menuju tengah laut yang dalam. Begitu juga ketika kita membuang limbah menuju perairan danau. Tentu ia akan tetap mengendap disana bukan?. Dan ketika perlahan danau tersebut mengering, yang tersisa hanyalah tumpukan racun. Apalagi jika air danau tersebut untuk dikonsumsi secara publik. It is almost like suicide!.

Kembali ke masalah ekonomi di atas. Tidak mungkin kita sebagai tuan rumah membiarkan lapak dagangan kita tergerus rusak oleh kesalahan kita sendiri. Tentu sejatinya kita harus mampu mencegah semaksimal mungkin agar barang dagangan yang kita miliki tetap terjaga kualitasnya. Bila kualitas rusak, maka apalagi yang akan kita jual kepada pembeli. Tentu saja ini juga berlaku kepada objek - objek wisata danau nan rupawan yang masih kita miliki.

"Tokoh masyarakat selalu mengingatkan, setiap pertemuan kampung-kampung disekitar (danau) Laut Tawar ini, (agar) jangan menebang pohon, jagalah kelestarian danau. (Kegiatan tersebut) termasuk dalam pelaksanaan kuliah kerja nyata mahasiswa Universitas Gajah Putih untuk (terlibat dalam) pelestarian danau dengan menanam pohon di rawe (bukit), di gunung di sekeliling danau itu" --Azir Zabri, Pemuda Aceh [12]
Pernyataan di atas seharusnya menjadi cambuk bagi kita sebagai masyarakat Indonesia -umumnya- dan masyarakat yang hidup menjadi stakeholder ekosistem danau -khususnya- untuk tetap giat menjaga kelestarian danau. Bukankan menjaga sebuah anugrah yang telah diciptakan oleh-Nya termasuk perbuatan yang terpuji dan termasuk ke dalam ibadah?

Ataukah kita hanya berpura - pura ketika mengisi jawaban ketika ujian IPA tentang pentingnya menjaga kelestarian hayati?

Danau : Setitik Asa Untuk Indonesia
Saya tidak akan habis pikir bagaimana jika keindahan pada Danau Segara Anak yang berada di wilayah saya (Lombok) berubah menjadi rusak akibat ulah pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Pendapatan daerah mungkin akan mengalami penurunan dan para penduduk akan juga mengalami penurunan pendapatan akibat hilangnya objek wisata andalan kami. Barangkali hal ini akan seirama terhadap kawan - kawan di daerah lain yang menjadikan kawasan danau menjadi tumpuan asa penyambung nafas yang tersengal ini.

Penampakan danau Segara Anak dari pucuk gunung Rinjani [15]


Dan, saya rasa Ebiet G. Ade akan marah besar jika suatu saat nanti salah satu danau yang menjadi inspirasi lirik sebuah lagunya hilang akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab.

"Menyeberangi danau biru terbentang
bersama istri dan anakku belayar
Singgah di sana, di pulau yang terpencil
di tengah hamparan telaga, menyimpan keindahan ..."

--Ebiet G Ade, Nyanyian Bumi Seberang [16]
  
Epilog
Rumah saya berada di komplek perumahan yang dimana pada setiap jalannya dinamai dengan nama danau. Rumah saya berada di jalan danau Towuti. Itulah mengapa ketika saya masih berseragam sekolah dasar dulu, jika sudah mendengar kata 'danau', yang ada dipikiran saya hanyalah jalanan di sekitar komplek.

Ibu Guru : Dimanakah letaknya danau Sentani, anak - anak? 
Para murid : di samping sekolah buuu..
...padahal sekolah kami berada ribuan kilo disebelah barat dari kota Jayapura, sedangkan danau Sentani yang kami maksudkan adalah jalan danau Sentani yang persis melintang di sebelah barat sekolah kami.

Jika saya ingin bermain Nintendo, maka saya tinggal pergi ke rumah teman saya yang berada di jalan danau Laut Tawar atau di jalan danau Diatas. Kalau saya ingin bermain kelereng, maka saya tinggal bertandang di sebuah lapangan di samping jalan danau Surubik. Jika saya menulis alamat sekolah, saya menulisnya dengan jalan danau Paniai. Atau, jika saya ingin belanja sesuatu, saya menuju ke warung kelontong di jalan danau Jempang. Masih banyak lagi nama - nama danau lain yang diabadikan sebagai nama dari jalan di komplek saya ini.

Melihat peliknya kondisi alam danau - danau Indonesia saat ini, saya tidak mau anak - anak saya hanya dapat mengenal dan mengenang nama - nama danau tersebut hanya pada sebatas tulisan di plang - plang jalanan ini.


Pustaka :
[1] : Krakatau, Danau Toba & Taman Komodo Nominasi 7 Keajaiban Alam
[2] : Kereta Api Wisata Danau Singkarak, Musium Sawahlunto, dan Kereta Wisata Mak Itam
[3] : 7 Puncak Tertinggi di Indonesia (The Seven Summits of Indonesia)
[4] : Analisis Pemanfaatan Kawasan Danau Toba (Thesis)
[5] : Analisis Rencana Pengembangan Sektor Pariwisata Danau Ranau
[6] : Potensi Ekonomi Danau Semayang
[7] : Pemanfaatan Sumberdaya Danau Towuti Sebagai Perairan Umum
[8] : Danau di Indonesia Alami Kekeringan dan Pencemaran
[9] : Lampu Merah Danau Tondano
[10] : Apakah Menebangi Hutan Hujan untuk Kertas dan Bubur Kayu Bantu Kurangi Kemiskinan di Indonesia?
[11] : Kondisi Danau dan Waduk di Indonesia
[12] : Aktivis Desak Pemerintah Lebih Serius Tangani Danau Kritis di Indonesia
[13] : Tidak Ada Lagi Rawa/Danau Kasai
[14] : Laut Aral

[15] : Gunung Rinjani National Park and Lake Segara Anak Lombok Island
[16] : Nyanyian Bumi Seberang (Bumi Ni Pasogit)






Yang Satu Kategori

195 Komentar:

  1. `colek dulu ah buat Mas Ibnu ~

    yuk mari perkenalkan nama dan wujudnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bingung ane gan, mau komen apa.
      Kayaknya semua udah dibilang ama komentator sebelumnya..
      Sukses selalu gan. ^_^

      Hapus
    2. Saya juga mau ikutan nyolek mas Ibnu, biar bisa kenal lbh dekat, dan salam kenal buat blogger asal Mataram yg lain, semakin ramai aja nih dunia bloging di indonesia.

      Hapus
    3. saya terima colekannya semua.. :D

      kang udah pinter tambah pinter.. :D
      kang hanif..
      kang hanggar..
      kang madhek.. salam juga untuk yang ada disana.. :D

      Hapus
  2. banyaknya daftar pustaka mas afanibnu
    kalau ndak salah saya dulu juga pernah belajar di sekolah kata-kata yang berakhiran LOG yang disebutkan mas afanibnu tapi lupa di bidang studi apa ?
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu tentang drama kang fajar.. :)

      Hapus
  3. eh jangan salah di jawa juga ada danau loh..danau gajahmungkur tuh apa? hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau itu sih waduk mister...:D

      Hapus
    2. nah itu sudah dikoreksi.. :D

      Hapus
  4. . . danau segara tuch bagus banget. pengen dech kesana. oia sang admin nya udah pernah kesana kah?!? . .

    BalasHapus
  5. kalo lihat petanya itu...
    hanya dalam kurun waktu 20 tahun, hutan yang hilang begitu banyaaaak ya...
    subhanallaaahhhh
    gimana 20 tahun yang akan datang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin sudah digantikan dengan hutan beton

      Hapus
    2. mungkin akan seperti itu, atau mungkin ada yang menjadi lahan kering..

      Hapus
  6. keren mas artikelnya, sangat informatif.
    kalo di kotaku, nggak ada yang namanya danau, tapi namanya ranu...

    BalasHapus
  7. sebetulnya Indonesia begitu kaya .... tapi ...????
    salam persaudaran dari saya sobat bloger semuanya.

    BalasHapus
  8. Iya danau di Indonesia harus dijaga tuh.. Sayang banyak danau tidak terurus.

    BalasHapus
  9. Indonesia itu kaya ...danau itu banyak , cuma sering terbengkalai ..."Danau segara anak" terlihat keren deh , pingin rasanya kesana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. segera kontak saya jika ingin berkunjung.. :D

      Hapus
  10. samping rumah saya juga ada danau.. hahahaha..

    BalasHapus
  11. Luar biasa keren itu danau.

    BalasHapus
  12. miris juga ya bacanya, itu masa ada danau yg dikeringkan untuk lahan pertanian? O.o

    semoga tulisan ini membuat kita semakin sadar untuk melestarikan danau biar dikenang bukan dari namanya saja :D

    BalasHapus
  13. Tempat saya danau toba lah yang menjadi pusat pariwisata disana.Tapi kalau dilihat kondisi sekarang ini danau tersebut banyaa tercemar keramba ikan yang berserak dimana-mana,jadi merusak pemandangan wisatawan yang datang kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga sempat melihat liputannya di tipi kang..

      Hapus
  14. Setiap pemda memang seharusnya berusaha untuk menarik wisata sebanyak-banyaknya ke obyek wisata setempat. Tentu perlu kerja keras agar obyek tsb layak dikunjungi.

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  15. wahh klo danau sentai itu di jayapura...
    kampung kelahiranku.

    tapi sy udah ninggalin jayapuran dan menetap di buton

    BalasHapus
  16. 20 tahun yang akan datang mungkin hutan sudah gak ada lagi yah sob,....
    dasar keserakahan manusia :((

    BalasHapus
  17. Kalau saya nilai semua artikel disini semuanya berbobot sekali, konten2 seperti ini sebenarnya yag dibituhkan indonesia, kalau danau sama telaga itu sama gak ya mas :D? saya belum pernah ke danau tapi sudah pernah ke telaga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas supportnya om kris.. :)
      wah saya kurang tahu tuh..

      *ada yang jurusan linguistik disini.. ? :D

      Hapus
  18. Yaa tiada pertamax ini niar #hiks..

    Tulisan muh keren eneh mas, wes ntar leg dapet hadiah lagi traktri niar yaa :D wokeh wokeh :D

    BalasHapus
  19. Danau toba, tunggu aku datang ke sana :)

    BalasHapus
  20. selain itu perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat setempat khusus nya mereka yang mencari penghidupan di sekitar danau untuk benar2 menjaga lingkungannya dari pencemaran..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat sepakat bro.. selain pemerintah, penduduk sekitar juga perlu diberikan pengarahan.. :)

      Hapus
    2. selain sosialisasi..
      kita juga harus bergerak mengawali memberikan contoh tepat didepan mereka terus menerus..
      soalnya org indo mah kdang sk sosialisasi.. blg udh ajah.. fiuhh

      Hapus
  21. bagus artikelnya. rujukan banget nih cara nulis kayak gini. keren Mas. btw kalo saya main ke danau, sebut saja danau Toba dan Tondano, saya agak kecewa dengan maintenancenya yang nggak maksimal. padahal aset banget kan..

    BalasHapus
  22. Subhanallah, cantik sekali danau segara anak yaaa :D di bengkulu ada danau namanya danau dendam tak sudah, walaupun kecil insyaallah lestari ^^ semoga danau-danau lain di indonesia keindahannya tetap terjaga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul sekali, saya juga sempat melihatnya di google maps.. :)

      Hapus
  23. wah, danau juga bagian dari kerjaanku nih mas. kadang studi teknis dan non teknis mengenai danau sudah ada tapi tidak ato mungkin belum dilaksanakan oleh pemerintah. Semoga yang berwenang disini bisa memaksimalkan potensi danau yang ada. karena dari tampungan danau, berbagai sektor ikut ditopang, seperti irigasi, air baku, wisata, dsb.

    BalasHapus
  24. waduuh bahas danau kang ibnu...
    dikota sya gk Danau tuh.. T_T
    adanya kali... hahahahaah *plak ^_^

    BalasHapus
  25. asik tuh danaunya buat pacaran hasyiiikkk

    BalasHapus
  26. di ambawarawa ada looh baguus ...
    rawapening namanya :)
    itu danau juga deh kayaknya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kata kawan juga bagus tuh.. :)
      tapi sayang saya cuma melihat sepintas ketika akan pergi ke Semarang..

      Hapus
  27. Mampir bro and permisi nyimak baca dulu deh. soalnya panjang banget nih tulisannya!

    BalasHapus
  28. Wah mantap nian postinganya bro, danau singkarak itu kampung saya. Sudah 3 kali diadakan Tour de Singkarak disana. Saya lihat pemerintah daerah Sumbar sangat serius mempromosikan wisata di sumbar. Danau Singkarak sebagai iconya.

    Peserta tour de singkarak, dari Asia, Eropa dan Australia, mereka kagum akan keindahan Alam Sumbar, nggak percaya? silahkan googling.

    Dengan berlangsungnya tour de singkarak, setiap kabupaten dan kota yang disinggahi pembalap. Kini menjadi berbenah menggarap sektor pariwisatanya, sebab pembalab, akan finish dan menginap i malam di setiap kab/kota yang ada disumbar.

    Sekarang, kabupaten/kota yang ada disumbar, sedang bergiat membangun hotel yang layak utk disinggahi peserta internasional dari berbagai negara tsb,karena tour ini diadakan tiap tahun. Insyaallah tour de Singkarak, digadang-gadangkan mengimbangi tour de france.

    Barangkali Danau lain yang ada di indonesia,perlu pula dipromosikan, spt Danau Singkarak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. informasi tambahan buat kita semua.. :)
      kapan daerah daerah kawan yang lain akan menyusul seperti Sumbar.. ? :)

      Hapus
  29. Subhanallah keren banget bang artikelnya.. Lengkap banget. Gak hanya informatif tapi bener bener maknyooss.. *loh

    Aaaaa danau Segara Anak kereeen banget.. >,< *cuss mau kesana ah* ammmiiinnnn

    BalasHapus
  30. wah, lagi ikutan kontes voa ya kak? :D
    aku juga pengen ikut nih, tapi belum, hehe. sukses kak!

    Danau Toba cantik sekali loh, akan tetapi pemeliharaan dari kepariwisataan Indonesia sendiri kurang mendapat perhatian lebih, bahkan orang asing yang justru tertaik dan membantu pelestarian kebersihan kawasan danau toba, saya pernah lihat liputannya di tv, justru masyarakat Indonesia sendiri tidak begitu peduli. Sayang sekali ya, padahal potensi kepariwisataannya sangat besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang sekali sebenarnya..
      sesuatu yang baik yang telah diberikan oleh Tuhan, tetap kita enggan menjaganya...

      Hapus
  31. ayo diamankan mumpung masih utuh
    jangan sampai seperti segara anakan cilacap
    udah ilang 3/4 lebih masih saja rebutan proyek dan bertahun tahun ga ada titik temu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah.. ada juga segara anakan cilacap..
      *cari literatur..

      Hapus
  32. fyyuhhh...sang juara mulai berkusah lg. alamat semua web dilahapnys utk menyekesaikan tulisan panjang ini. walau bacanya lompat lompat.Tapi apa yg loe tulis emg bener2 terjadi saat ini ya Fan...smoga tmpt2 itu blum tercemar parah sampe mba bs mengunjungi satu2 heeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin bu.. :)
      gpp, saya bisa maklumi jika melompat - lompat.. :D

      tangan saya juga sampe pegel bukan kepalang ketika saya harus beradu dengan tuts tuts keyboard ini.. ingin melahap semua ide.. :D

      ya, jadilah seperti ini, tulisan yang panjang seperti bertambahnya gerbong - gerbong kereta ekonomi saat lebaran.. :D

      Hapus
  33. Sangat memberi motifasi Sobat,Indonesia memang negeri yang indah. Sorry blum bisa rutin support, masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Met ngeBlog aja. Semoga tambah sukses selalu

    BalasHapus
  34. Sangat menggelitik mata mas bro.. maksudnya perih bacanya banyak banget hehe tapi ok punya lengkap dan artikulasi bahasanya top abis. hehe tidak saperti Saya :D
    Kalo danau itu buatan atau memang sudah ada dari sonoNya ya? Soalnya ditempat Saya ada Danau namanya "Danau Buatan" hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhehe.. mungkin karena fontnya yang terlalu kecil, dan terlalu kontras dengan background..
      akan menjadi pertimbangan saya kedepannya..

      trims kang.. :)

      Hapus
  35. ulasan yang cukup memberikan manfaat, walau bacanya nyampek jukir balik,,hoho

    BalasHapus
  36. wahh lau datang disini selalu tergugah hati nih hati ini tuk Indonesia....

    BalasHapus
  37. nah, ini juga gan. sy prihatin banget, atas penggundulan hutan. apa mereka bodoh, gak ada hutan, bagaimana bernafas?
    banjir juga semakin mudah, air susah didapat. itu dah, gk pake hati nurani para penebang pohon tuw...

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung di lombok masih adem ayem bro..
      kalo ada yang macem2 ajak mesiat aja.. :D

      Hapus
  38. indonesia kaya dengan keindahan alamnya

    BalasHapus
  39. wah cantik bgt danau sigara anak, baru tahu kw di negara kita ada danau yang begitu indah, luarbiasa :)

    BalasHapus
  40. wuih pustakanya rame,btw danau sagara cantik juga,sayang donk kalo sampe rusak gara2 ulah manusia gk bertanggung jawab

    BalasHapus
  41. Negri kita banyak dianugrahi kesuburan dan keindahan, tapi sekarang mulai tampak ada kerusakan. entah karena kurang keperdulian sama lingkungan atau mungkin ada faktor lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah dia, diberi tetapi enggan untuk menjaga.. :)

      Hapus
  42. di lampung ada danau ranau juga lho! :D

    BalasHapus
  43. aku suka photo-photonya, saking sukanya aku terus memandangnya. karena indah dipandang. sahabatku ^_^

    BalasHapus
  44. Mengenaskan. :( Indonesia Ku, kamu, dan kita semua..

    BalasHapus
  45. Danau Segara Anak, mengingatkanku pada tokoh Karang di buku Sunset Bersama Rossie-nya Terel Liye. Ternyata memang sangat indah ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berkemah di tepinya..
      emang bagus itu novel..
      #hehe

      Hapus
    2. wow.. ada ya..? mungkin bisa di bagikan ke saya judulnya nanti via Japri.. :)

      Hapus
  46. Wah, asyik, dekat Rumah Ane. :P #GUBRAK

    BalasHapus
  47. Lengkap sekali datanya,
    oh ya lupa : mat menunaikan Ibadah Puasa, maaf lahir Bathin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas supportnya..:)

      Hapus
  48. saya juga merasa khawatir jikalau generasi yang akan datang hanya mengenal danau-danau itu lewat ensiklopedi, blog, atau foto-foto saja..

    BalasHapus
  49. Kalau di tempat mas ini sudah jadi perkotaan, sebentar lagi tempatku akan menyusul mas. Sekarang saja sudah banyak sawah yang di jual. Jalan setapak yang dulu di gunakan para pencari belerang gunung welirang sudah bisa di lalui mobil. Maka dari itu bapak aku udah berhenti kerja sebagai pencari belerang karena rugi. Ambil belerangnya saja udah lama, trus udah di tempat lapang di angkut dengan mobil. klo dulu kan di bayar mahal karena membawa belerang hingga desa pecalukan.
    eh sekarang malah banyak baliho desa membangun. Bangun apa kalau kayak gitu? lawong rakyat kecil makin sengsara..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah tempatnya dimana kang kalo boleh tahu..?

      Hapus
  50. danau segara anak keren banget..

    jadi pengen kesana

    BalasHapus
  51. info mbak bro,,, selain "sarangan" ada juga telaga ngebel tepat nya perbatasan ponorogo madiun jawa timur,,,, :D
    deket rumah q.. hehhehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, ini ada informasi tambahan buat warga Jawa.. :)
      ternyata banyak juga daerah2 yang masih awam untuk saya tentang danau di pulau Jawa

      Hapus
  52. wuih, saya suka banget dgn gambar danau Segara Anakan, kayaknya lokasinya tepat di atas anak gunung ya? ... ditempatku ada sebuah danau konon yg letaknya tertinggi dipulau jawa namanya danau Ranu Kumbolo, letaknya dikaki gunung semeru, kalo mau lihat keindahan danau Ranu Kumbolo sobat2 blogger bisa cari lewat google dgn kata kunci "danau Ranu Kumbolo".

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow..!
      nah, kawan2 yang lain harus segera mencari tempat yang dimaksud.. :)

      Hapus
  53. Subhanalloh...indah sekali danau segara anak dari pucuk gunung Rinjani itu mas...suatu saat ingin sekali melihat langsung, semoga keindahan2 danau nusantara tetap terjaga ya..

    BalasHapus
  54. postingan yang bermanfaat, entah mau komen apa.. semoga kelestariannya tetap terjaga

    BalasHapus
  55. Saya pernah ke danau Matano - di Sorowako (Sulawesi Selatan) masya Allah indahnya. Danau itu bahkan danau terdalam di Indonesia, dan ke-10 terdalam di dunia. Tapi tidak ngetop ...

    Oya, selamat ya dah menang lomba NGAWUR barusan. Semoga yang ini menang lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas supportnya ibu.. :)
      wah ibu juga sudah terbitkan novel, berarti sudah lebih berpengalaman dibandingkan saya ini.. :)

      Hapus
  56. Jujur .. saya baru 2 kali dateng kesini. Tapi, isi dari blog ini sungguh bermanfaat. Salm kenal mas ibnu..

    Saya follow ya .. akan menyenangkan kalau Anda follow back ..

    BalasHapus
  57. sob... minta sekerat roti sob.. buat buka puasa ntar.. hehehe..

    BalasHapus
  58. Kompleks danau dong ...

    kalau mau danau yg instan, ya bikin sj waduk... :D

    tp

    BalasHapus
  59. salam kenal mas..
    luar biasaa..
    interagsi untuk indonesiaaa. :D

    BalasHapus
  60. waah makasi yah gan buat share nya :D

    BalasHapus
  61. eh, ini jadi tulisan yang buat ikut lomba VOA bukan ya fan??

    wow, topik yang pasti gx terpikirkan orang lain,

    saya pun hampir terlupa dengan danau dan segala kelebihannya yang bisa dijadiin aset,

    thumbs up^_^

    BalasHapus
  62. Di Jawa selain telaga Sarangan, juga ada Ranu Kumbolo mas, di kaki gunung Semeru. :D

    Jadi ingat kalo ada relawan dari luar negeri yang akhirnya memilih tinggal di tepian danau Toba, hanya agar bisa menjaga kebersihan dan kelestarian danau tersebut.

    Oia, danau Moti To'i juga ada, kalau ini di ujung utara Sumbawa, di pulau Satonda. Satu-satunya danau air asin, entah di Indonesia atau di Dunia (saya lupa).

    Mari bersama-sama menjaga kelestarian alam. Kalau bukan kita, siapa lagi??? :D

    BalasHapus
  63. Sudah saya link balik sobat.. thanks :)

    BalasHapus
  64. Danaunya bagus bangat ya. Kapan-kapan kalau po ajak saya kesana ya. hehehe

    BalasHapus
  65. kritis sekali bang... like it.. mari kita lakukan...???

    BalasHapus
  66. iya betul juga. kita juga di kantor kalau lagi mau gathering day milihnya juga cuma pantai atau gunung ya... dengan saya baca ini jadi ada pilihan danau ya... terima kasih informatif nih...

    BalasHapus
  67. Belum pernah ke danau.. prihatin juga dengan yang ada sekarang

    BalasHapus
  68. wah lengkap gan, kaya karya ilmiah aja. semoga menang dah lombanya. seru abis. nie... emang bingung juga ya kalau di suruh memilih danau di pulau jawa, ada si tapi ga terlalu terkenal. waduk yang banyak..

    kalau di daerah lain seperti danau toba dan lain sebagainya, ehm. saya baru tau kalau terjadi penyusutan.. ni jadi tanda nie buat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehm... datang lagi meramaikan lah. biar banyak koment dan menang. heheh. ok gan. :D

      Hapus
    2. meramaikan lagi. wiiiiii.... PRnya ud di pasang nie sekarang. 3 ouy nilainya. mantap kali ... hahahaha.
      btw masuk ke tempat ente bingung gan, ga tau di mana letak artikelnya, apalagi kalau koneksi lemot.
      ini aja ane masuknya make versi mobile, klo ga, ya ga ketauan artikelnya gitu. ya sekedar masukan aja :D

      Hapus
    3. ehm. mampir lagi ah. biar rame aja, habis ga pernah di bales si komentnya. hehehe.

      Hapus
  69. keren BLOG nya ! :) FOLLOWED...

    BalasHapus
  70. wouuuu....danau Toba, singkarak..tondano..segara anak...ckckckk...sebenarnya semuanya keren. Trnyata Danau-danau yang terkenal itu juga mengalami fenomena yang hampir sama dengan kondisi alam lainnya di Indonesia "kerusakan' akibat ulah manusia..


    # Eh, posting juga neh di VOA...sukses ya..

    BalasHapus
  71. wah mantep tu gan wisata kereta apinya

    BalasHapus
  72. satu lagi tmpat wisata yg ga kesebut: mall XD

    sukses ya VOA-nya :)

    BalasHapus
  73. Cerdas bro..!
    Satu lagi nama danau di wilayah kita, Danau Batu Bulan di Sumbawa.

    BalasHapus
  74. sumpah indah banget tuh danau :D

    BalasHapus
  75. Wah , menambah pengetahuan saya nih :D

    BalasHapus
  76. wah, orang lombok ya ? temen gw juga ada tuh yg darisana,
    bagi2 oleh buat lebaran dong sob :D

    Salam kenal, follow 1151 :)

    BalasHapus
  77. pemandangannya pada asik... boleh jug tuch berkunjung kesana...

    BalasHapus
  78. bingung saya mau komentar apa tapi yang jelas Artikenya mas ibnu kren-kren abis, salut saya di buatnya. semoga mangkin sukses selalu.

    BalasHapus
  79. Kalau Danau suku saya berasal yakni Danau Toba

    saya prihatin skg dgn kondisi Danau itu yg semakin Tambah tahun semakin tidak terurus ditambah dengan Perusahaan Indorayon yang merusak danau

    Minyak Kapal yang mengotori keindahan danau dan pembuangan sampah ke danau Toba

    BalasHapus
  80. Kapan ya saya bisa kesana ( danau toba red ), pasti berkesan

    BalasHapus
  81. danau segara anak keren bang.

    BalasHapus
  82. Lomba VOA, sob! Ngebahas danau di jawa, ea...
    Mungkin kalo yg buatan banyak. Ada gajahmungkur, karangkates, situ babakan, situ ginting, sunter, kedung ombo, dll. Hehehe

    BalasHapus
  83. wah informasi nya sangat lengkap e..
    artikel yang sangat bagus sob..

    BalasHapus
  84. blogwalking sob kunjungan perdana

    BalasHapus
  85. mantap mas, semangat terus :)

    BalasHapus
  86. ulasan yang sangat berkualitas menurut saya...

    memang tidak di pungkiri, hasrat untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah membuat sebagian orang melupakan dampak negatif dari perbuatannya...

    BalasHapus
  87. Saluuuuuut,,, dari banyak pustaka menjadi satu ulasan yang mengesankan,,...

    BalasHapus
  88. Sebuah rangkuman dari beragam sumber literatur mengenai danau...
    Mantap kawan ... ^ ^


    Mengundang sahabat blogger dalam rangka Persembahan Menulis Untuk Semua
    Giveaway Sahabat Blogger

    BalasHapus
  89. Mampir lagi sob. Nunggu postingan baru.

    BalasHapus
  90. datang untuk meramaikan suasana sob..
    jadi bingung mau koment apa, hehe...

    BalasHapus
  91. Danau segara anak luar biasa banget pemandangannya... :)

    BalasHapus
  92. kereeeeen broo itu danaunya. pengen deh main ke rinjani. :D

    BalasHapus
  93. emang yah, Indonesia ga ada matinya soal pariwisata dan keindahan alamnya. semoga aja pemerintahnya bisa buka mata

    BalasHapus
  94. Jadi begitu, nama jalan di sekitar kediaman Penulis dinamai DANAU? :) So Unique..

    Saya komen pic dari atas Gunung Rinjani itu, Subhanallah bagusnya :)

    BalasHapus
  95. lagi nyantai...
    brknjung dimari siang2.. :D

    happy blogging kang.. ^_^

    BalasHapus
  96. Jadi semakin bangga dengan Indonesia dengan segala potensi alam yang ada, meski banyak juga kendala dan masalahnya.

    tetep semangatlah, InsyaAlloh indonesia akan jauh lebih baik.

    BalasHapus
  97. sedih banget lihat manusia merusak alam.... inikah jaman modern, perilakunya kok ga modern :(

    BalasHapus
  98. Wuiiihhhh... baru kali ini saya membaca postingan kamu yang puanjang buanget, hehehe... coz selama ini, tulisan yang saya baca berkisar hanya beberapa paragraf :p
    Tapi informasi tentang danau ini sangat menarik dan diangkat ke permukaan agar orang lain melek dengan kondisi danau yang ada di Indonesia. Permasalahan danau hanyalah sedikit permasalahan yang ada di negara kita yang notabene kurang mendapat perhatian dari pemerintah, entah apa yang menjadi perhatian mereka selain dari kampanye, ckckckc....
    <aap kalau komennya ga nyambung :)

    BalasHapus
  99. Dengan adanya danau pastinya akan menambah keindahan suatu daerah dan bisa menghidupkan perekonomian.

    BalasHapus
  100. unik juga ya nama danau di jadikan nama jalan....hehe..

    saya juga suka danau, rasanya adem ya kalo melihatnya.

    BalasHapus
  101. POstingan kali ini sangat informatif sob ..
    Good good :D

    BalasHapus
  102. hhmmm ya sob.. jangn jadi sejarah tinggal nama aja , semoga kita semua bisa melestarikan lingkungan dan budaya indonesia

    BalasHapus
  103. kunjungan pertama gan... main2 ya ke blog ane :D

    BalasHapus
  104. met malm sob...lihat danau jadi adem hati

    BalasHapus
  105. , wah, makasih gan, udah berkunjung ke blog saya ..

    BalasHapus
  106. Indonesia sungguh luarrr biasa pesona alamnya.
    Semoga kita sebagai generasi penerus mampu menjaga warisan ini ya, Kang.

    Sukses selalu, Kang Ibnu ;)

    BalasHapus
  107. nice info gan....
    bagus tuh gambarnya...
    ngambil dimana???

    BalasHapus
  108. lengkap banget pembahasannya. kemampuan menulis yang tak akan pernah saya miliki...
    semoga danau toba nggak makin menyempit. ntar lama2 gak ada lagi pulau samosir. gak ada lagi tuk-tuk dengan segala keeksotisannya.

    BalasHapus
  109. wah banyak banget yang komen

    BalasHapus
  110. sebelah rumahku juga ada danau kecil lhooooo

    BalasHapus
  111. sepertinya memang demikianlah kondisi Indonesia sekarang, semua dieksploitasi untuk kepentingan sesaat tanpa memikirkan dampak-nya di masa depan...keep happy blogging :)

    BalasHapus
  112. satu lagi pilihan utk eksplorasi wisata alam di indonesia! nice info gan

    BalasHapus
  113. artikel yg mantap sob...?? sampai bingung nih mo komen apa lg,cz dah banyak bgt yg koment. saya ikut aja dech sob...sukses terus ya buat sobat.....?

    BalasHapus
  114. beginilah keadaan negara berkembang ini sob heheee

    BalasHapus
  115. danaunya indonesia kan bagus-bagus ya... tapi ga dirawat dg baik. semacam orang2 pinter yang kepinterannya ga digunakan dg baik... :)

    BalasHapus
  116. Hemm, setelah membaca tulisan di atas, saya merasakan ada beberapa kejanggalan yang luar biasa...

    saya juga adalah seorang anggota pencinta alam di wilayah jember, disini juga sering kami berteriak lantang tentang penyelamatan alam, dari adanya penebangan hutan liar, penambangan liar, perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan dan lain sebagainya

    semoga dengan fakta tersebut, mata kita juga bisa semakin melihat bahwa tidak ada yg bisa dilakukan oleh pemerintah dalam penanganan lahan, karena mereka terlalu serius dalam kegiatan mencari uang, terima kasih

    saran: bang, bikin kontes tentang lingkungan, pasti bnyak yg ikut, terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, saya belum mampu membikin kontes untuk level yang tinggi seperti ini.. :)

      tapi nanti mungkin kita bisa mencari sponsor bersama sama.. :D

      Hapus
  117. pinjemin ane sayap, inyong kepengin ke rinjani hari ini juga... :(

    BalasHapus
  118. keren Mas, saya suka apalagi sumber aslinya dicantumkan.
    Lanjutkan berkarya ...

    Oya Mas, jangan menyisipkan link blog dalam kolom komentar karena dianggap spam oleh Google Panda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya dong, tentu..
      *masih terbawa giatnya mencari sumber saat skripsi kemarin.. :D

      wah masa jadi link?
      padahal saya cuma ketik biasa aja tuh..
      untungnya linknya nofollow.. :D

      Hapus
  119. . . tengok kanan kiri, sambil cari^ sang admin. he..86x . .

    BalasHapus
  120. saya sih belum pernah ke danau danau yang diceritakan di postingan,soalnya ga terlalu sering travel

    BalasHapus
  121. widiiiw sekali posting yang komen bejibun,jelas sih memang postingannya bermutu

    BalasHapus
  122. hadir lagi nih sobat untuk baca-baca... :))

    BalasHapus
  123. Waw ! Ternyata Mas Ibnu juga pernah tinggal di Jogja toh ? Baru tahu aku ... Hehe ... :)

    BalasHapus
  124. menarik untuk di simak baik-baik.

    Saya baca...dan cermati.

    BalasHapus
  125. wahhh pemandangannya indah benget bang....

    BalasHapus
  126. wahhh pemandangannya indah benget bang....

    BalasHapus
  127. manatbh banget penampakan segara anakan dari pucuk rinjaninya........
    :)

    BalasHapus
  128. aku tidak sempat baca semua komentar yang ada di postingan ini saking banyakknya jadi harap maklum ya sobat kalau komentar aku mungkin ada yang akan sama,...
    menurut aku perubahana yang terjadi yang diakibatkan dari gencarnya pembangunan di suatu lokasi adalah hal yang pasti adanya termasuk di tempat2 yang sobat katakan diatas,..namun arus pertambahan penduduk yang tidak dapat di bendung dan ketidak mampuan pmerintah dalam mengelola sumber daya alamnya semakin memperparah kodisi yang ada,di pantai bira(bulukumba)andalan wisata alam bulukumba sulsel sekarang ini mengalami tingkat kerusakan pantai yang cukup parah akibat terlalu banyaknya berdiri rumah2 disekitaran pantai tersebut dengan ditandai polusi lingkungan dan kerusakan mutu air lautnya yang berujung pada keruhnya air laut disekitaran pantai tersebut hal ini semakin menurunkan mutu dari lokasi wisata tersebut,...salam dariku

    BalasHapus
  129. Ulasan yang sangat menarik, berbobot, kritis, sekaligus membuat kita 'trenyuh' dengan apa yang terjadi di bumi pertiwi. Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang 'luar biasa'. Indah dan mempesona laksana sorgawi, bandingkan dengan kawasan lain misalnya di Timur Tengah dengan hamparan padang pasirnya yang amat luas. Namun fakta diatas membuat kita dapat 'menitikkan air mata'. Mengapa semua itu dapat terjadi ? Banyak pakar di negeri ini. Dana pembangunan yang cukup. Tersedianya peraturan perundang-undangan. Tentu telah dilakukan studi kelayakan. Tersedianya dokumen AMDAL. Atau Dokumen UKL-UPL. Tentu suatu pembangunan membawa dampak baik yang positif maupun negatif. Dampak negatif inilah yang harus 'dikelola' dengan baik. Namun tampaknya tidak semudah membalik tangan. Perlu kebersamaan dan perhatian semua pihak untuk mengatasi semuanya itu. Perlu keteladanan dan tindakan nyata di lapangan. Tidak kalah pentingnya kita juga harus mengaktualkan bait lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' dalam kehidupan nyata. 'Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya'. Jiwanya seluruh rakyat Indonesia harus dibangun. Bila demikian maka akan tumbuh rasa cinta tanah air Indonesia. Dengan 'cinta' maka Ibu Pertiwi akan kembali tersenyum. Alangkah indahnya Indonesia ini. Salam sukses buat Admin 'Santai Sejenak | Secangkir Teh dan Sekerat Roti.

    BalasHapus
  130. sungguh indah ciptaan sang penguasa. Terimakasih atas gambarnya gan.Ane ijin download gambarnya. :)

    BalasHapus
  131. ngajak anak lihat2 setu aja mereka senang apalagi ke danau. memang sayang jika keindahan alam menjadi rusak karena ulah manusia juga.

    BalasHapus
  132. belum pernah pergi ke danau.. paling cuma ke pantai.. heheh

    BalasHapus
  133. thanks sudah sharing yah.. :D nice post..

    BalasHapus
  134. luar biasa ulasannya...
    mungkin jika manusia tidak mencoba melestarikan atau minimal mengurangi kegiatan yg dapat merusak alam niscaya 50 atau 100 tahun ke depan bumi ini tdk bisa ditinggali...
    :)

    BalasHapus
  135. Lengkap sudah pembahasannya,.semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua

    BalasHapus
  136. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  137. hadeh blog ini kok menu navigasinya sulit ya gan?
    padahal ane kan pengen lihat posting blog ini sampe akhir..:'(
    kasih daftar isi lah gan..:)

    BalasHapus
  138. wah, ulasannya menarik, sumber-sumbernya juga terinci semua, jadi ini toh cara nge-blog, mohon kunjungannya di ceritabc.blogspot.com :D

    BalasHapus
  139. salam kenal mas :)
    tempalatenya unik, walau agak sulit jalaninnya hehe :p

    BalasHapus
  140. Mas Afanibnu jago banget nulis. Aku mbokya diajari u.u

    BalasHapus