SELESAI SUDAH 'MARYAMAH KARPOV'-nya



Novel keempat dari karyanya bang Andrea, sudah aku sikat semalam. Buku itu mulai aku baca sepekan yang lalu, walaupun telah kumiliki terhitung sejak tanggal 1 Desember lalu. Cukup melelahkan membaca novel setebal itu, mengingat karya tersebut lumayan berat gaya pembahasaannya untuk dicerna oleh orang awan seperti aku ini. Novel ini bersifat naratif yang secara keseluruhan bersifat maju. Buku bergambar orang yang sedang bermain biola ini tampak seperti sebuah buku yang cerdas, yang mencoba mengajak para pembacanya untuk kembali menerawang masa lampaunya, baik yang terang maupun bayangan yang suram, kemudian mengkaitkannya ke era sekarang. Secara garis besar terdapat empat hal penting yang tergambar : (1) Cerita tentang klinik gigi, (2) Pertualangan cinta Arai, (3) Pembuatan kapal, dan (4) Pencarian A Ling.


Dimulai ketika Ikal menghadapi ujian akhir dengan dosen - dosen pengujinya dimana kala itu rasa nervous sajalah yang muncul dibenak Ikal. Lalu dilanjutkan dengan cerita kembalinya dia ke tanah air, ke kampung halamannya di Belitung. Mulai dari sinilah kita mulai di ajak bergerak bebas. Bagaimana dia menyambut tamu baru di kampungnya yang tak lain adalah dokter gigi pertama di kampungnya, bagaimana kisah Arai dan Zakiah yang akhirnya merit, bagaimana petualangan Ikal mencari A Ling sang dambaan hatinya di perairan Karimatra, jadikah Ikal menikah dengan A Ling ?. Tentu, hal ini akan dibahas dalam buku tersebut. Di selingi dengan banyolan - banyolan khas abang Boi, abang Andrea. Tak jarang aku tertawa sendiri, bahkan terbahak - bahak, ketika bang Andrea menyelipkan kata - kata konyol pengundang tawa. Lihat saja kocaknya Ikal ketika ditawari cabut gigi di klinik gigi yang baru di kampungnya atau ketika Ikal sedang disunat.

Terlepas dari itu semua, aku merasa novel ini masih kurang rasanya ketimbang 2 novel sebelumnya, yakni Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Cerita yang terlalu bertele - tele membikin pembaca menjadi tak sabar. Ceritanya terlalu imajinatif, bahkan terkesan mistis. Hal - hal perdukunan ikut dibawa - bawa, bahkan dibesar - besarkan pada sepertiga akhir cerita. Sehingga, bagiku, justru inilah yang membuat kesyirikan muncul. Selain itu, praktek perjudian terlalu dibesar - besarkan. Apapun dijadikan ajang judi, apapun dijadikan taruhan, bahkan memakan bola ping pong sekalipun. Maka dari pada itu, menurutku pribadi, buku ini masih belum layak untuk dibaca anak dibawah umur secara bebas, tanpa bimbingan orang tua.






Yang Satu Kategori

2 Komentar:

  1. wah betah juga ya mas baca buku setebal itu.saya lebih senang nonton tvnya aja..:)

    BalasHapus