/ 2018-06-08

DERMAGA

Di Akhir Mei 2018
Dahan pohon nangka itu mengetuk - ketuk bingkai jendela. Tidak sekali, namun sepanjang menit dalam beberapa jam terakhir. Angin terus menggerakkan dahan - dahan yang sudah lunglai itu tanpa arah. Angin ikut meresonansi dawai - dawai kenangan, memetik lembar - lembar cerita yang sudah kupatri dan kurangkai pada dinding memori.

Daun - daun di luar saling bercumbu, semakin nyaring mereka bergesekan. Terkahir aku menikmati desau pohon - pohon yang ditiup angin adalah ketika masih beseragam putih abu - abu; dahulu.

Mei 2007
'Hari ini aku meninggalkan dirimu. Bukan karena aku mau, tetapi aku harus begitu. Aku harus ke Jogja, jika kau ingin bahagia. Empat tahun, ya empat tahun, bukanlah waktu yang sedikit dan tidak usah kau menghitungnya setiap menit. Aku tidak menjanjikan apa - apa, tetapi percayalah, aku akan kembali sebagai orang yang berbeda. Kau tetaplah tinggal di sini, sembari menanti aku segera kembali. Biar kuberkelana mengejar sarjana ini di sana.'

KMP Roditha, armada ASDP Indonesia Ferry, tengah bersandar pada dermaga dua di pelabuhan penyeberangan Lembar, Lombok | 2012

Frasa - frasa itu aku tautkan pada senja di ujung dermaga ini, barangkali tempat terakhir aku dapat melihat simpul senyummu dengan kedua bola mata ini. Lembar, tempat terakhir aku berpijak pada hangatnya pulau ini. Sementara, biduk besi ini mulai menaikkan sauhnya, pertanda aku mulai memupuk rindu.

Juni 2010
Aku merogoh saku jaketku; mencari pemercik api. Aku sudah berada pada dek paling atas dari kapal penyeberangan ini; agar bebas mengasapi pagi yang masih muda. Ingin aku berdiri saja dalam mengarungi selat Bali, setelah semalaman lebih hanya duduk dan bersandar pada kursi nomor sembilan bus malam jurusan Yogyakarta - Mataram. Tidak banyak yang berubah antara aku dan laut yang sempit ini; satu langkah pertama untuk membabat tumpukan rindu apabila tiba dengan selamat di dermaga seberang. Terhitung lima kali sudah aku menyeberang sejak aku meninggalkan rumah dan aku mulai terbiasa menyaksikan pucuk timur pulau Jawa yang semakin menjauh. 'Pagi ini tiba di Ketapang, so, nanti sore kita merapat di Padang Bai', pikirku.

Pelabuhan Ketapang | 2008

Matahari mulai timbul malu -  malu dan sinar hangatnya beranjak menusuk pelan. 'Seperti yang pernah aku rasakan'. Sejenak kapal ferry ini berlayar zig-zag semakin ke timur.

Suatu pagi pada pertengahan tahun 1997
Aku dan bapakku bersusah payah mencapai dek paling atas kapal penumpang ini; tempat dimana aku dapat melihat dengan bebas pendar emas mentari pagi yang diserap oleh punggung - punggung perbukitan di sebelah timur dari pelabuhan Lembar. Aku terus mengoceh bertanya kepada bapak apakah nama dari masing - masing bukit itu sembari menujuk satu persatu puncak - puncaknya, namun tidak digubrisnya. Lantas aku pun meredupkan kata - kata dan hanya melemparkan pandangan pada barisan bukit yang tengah bermandikan binar sang baskara yang belum terlampau tinggi. Entah apa menariknya, tetapi itulah mozaik terbaik yang aku bingkai dalam perjalanan menuju kediaman eyang di Yogyakarta.

KMP Ferindo 6, armada ASDP Indonesia Ferry, dalam tripnya menuju Pelabuhan Padang Bai, Bali dengan latar belakang perbukitan pada teluk Lembar | 2010

09 April 2014
Pertama kali dalam sejarah aku mengambil cuti setelah menyandang predikat sebagai pegawai. Pertama kali dalam sejarah aku masuk pintu kapal ferry untuk mengarungi selat Lombok menuju Bali pada pukul tiga dini hari; bisa kupastikan, tidak ada pemotor lain sebelum aku yang terlebih dahulu memenuhi lambung kapal. Untuk pertama kalinya aku bisa memilih kursi pada dek teratas secara bebas; karena tidak tampak satu pun batang hidung penumpang lain yang berada di sana. Mungkinkah kapal ini: kosong?

Kosong | 2014

November 2009
Suasana di atas KMP. Tandemand, kapal ferry legendaris milik ASDP Indonesia Ferry, rute Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa - Pelabuhan Kayangan, Lombok cenderung ramai. Padahal sebelumnya ramalan cuaca menyatakan probabilitas gangguan oleh cuaca buruk cukup tinggi. Tidak ada hal yang spesial sore itu tatkala mesin kapal mulai menderu. Masing - masing penumpang sudah mulai menyibukkan diri untuk membunuh kebosanan terombang - ambing di atas selat Alas yang dikenal cukup ganas. Aku memilih duduk di sekitar kafetaria dengan rencana memesan segelas kopi oleh sebab kelopak dan bulu mata ini sudah tidak mau bernegosiasi lagi; ingin segera terpejam saja.

Salah satu armada penyeberangan selat Lombok | 2010

Suasana dek kafetaria mendadak penuh gelak tawa ketika ABK memutarkan kompilasi sitkom Mop Papua: Epenkah Cupentoh pada layar televisi. Aku turut memeriahkan suasana yang terlanjur cair itu dengan menyumbangkan tawa dalam intonasi yang seirama. Baru kali ini aku merasa para penumpang yang berlatar berbeda dapat sepakat untuk tertawa tanpa mengorek suku dan strata. Hingga kapal tersandarkan dengan sempurna, tiada seteguk air hitam yang lewat kerongkonganku.

24 Januari 2017
Kami sudah dapat meneropong samar - samar sembari menerka kapal ferry apa yang sedang bongkar muat di Pelabuhan Poto Tano sejak tiba di percabangan antara Poto Tano-Sumbawa-Taliwang. 'Pada dasarnya, semua kapal ferry di lintasan ini baik - baik dan sehat - sehat saja. Namun tetap saja, ada yang terbaik dari sekumpulan individu yang sudah baik', begitu ujar saudara sepupu itu; yang sudah teratur pulang-pergi melintas selat Alas. Kami sejatinya sedang tidak diburu waktu, sehingga kami memutuskan untuk menepi pada sebuah toko waralaba yang berada sebelum pintu masuk pelabuhan seraya menunggu kapal ferry yang sedang bersandar untuk berganti.

Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa dengan KMP Belida, armada ASDP Indonesia Ferry, yang sedang tertambat pada dermaga satu. | 2017

Benar saja. KMP. Kromomolin milik ASDP Indonesia Ferry yang kami tumpangi mampu mendahului kapal ferry lain yang terlebih dahulu sudah berlayar satu trip sebelum kami. 

04 November 2015
Kami pun saling pandang. Tiket pesawat udara untuk kami kembali dari Jakarta menuju Mataram pada tanggal lima esok sore sudah ada di tangan. Namun pagi ini, kami dihentakkan oleh kabar bahwa Bandar Udara Lombok terpaksa tidak melayani penerbangan akibat debu vulkanik Gunung Rinjani yang menggantung pada wilayah udara pulau Lombok. Sejurus kemudian, hidangan sarapan pagi yang telah tersaji mendadak terasa hambar; di tepi lidah pun air terasa kecut.

Tidak bisa. Aku tak bersedia terdampar lagi. Aku tidak bisa mengulur waktu hanya untuk menanti kepastian akan kembali beroperasinya bandara; dan tidak seorangpun yang dapat meramalkan kapan dan ke arah mata angin mana abu - abu itu akan menghiasi langit nantinya. Aku harus pulang dan itu pasti.

15 Maret 2012
Bus malam kami tiba pada ujung jalan by pass Ida Bagus Mantra, Bali ketika matahari merangkak bersiap untuk terbenam. Mulutku terkatup tiada bersela dan pikiranku semakin bercabang menjadi belukar ketika menyaksikan puluhan kendaraan besar pengangkut barang berbaris rapi mengarah ke timur; tidak lain adalah pelabuhan Padang Bai. Padahal paling tidak masih ada beberapa kilometer lagi menuju loket tiket kapal di area pelabuhan.

Setiba kami di pintu masuk pelabuhan Padang Bai, kondektur bus dalam simpul senyum mengandung kerisauan mengabarkan tidak ada aktivitas penyeberangan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Angin di luar memang bertiup kencang tiada berenggang. Muncul keraguan di antara penumpang lain, bahwa sekalipun menggunakan jalur udara, hasil pun akan tetap nihil; bahwa kami akan tetap terperangkap di Bali.

Empat setengah tahun bergulat dan akhirnya berhasil aku rengkuh kertas sakral bertanda tangan rektor; orang lazim menyebutnya sebagai ijazah. Dan aku, yang baru saja bertambah dua huruf namanya akibat gelar yang tersemat, terjebak di gapura terakhir sebelum masuk pekarangan rumah. Sepayah inikah perjalanan pulang bagi seseorang yang baru saja dicap sebagai sarjana? 

Tidak berhenti di situ. Baru saja aku turun dari masjid selepas menunaikan panggilan shalat Isya', sebuah panggilan telepon menggetarkan handphone-ku. Nama dari seseorang yang tidak biasa kuajak berbicara muncul di layar. Ia berkata bahwa ayah dari perempuan yang kelak aku dekap sebagai istriku, wafat magrib tadi. 

Dengan dihentikannya pelayaran dan terputusnya jalur udara, apa lagi yang bisa aku harapkan selain menelan perihnya tragedi ini.

08 November 2015
Keputusan memang telah ditentukan, bahwa kami mengubah rute penerbangan yang sebelumnya Jakarta-Mataram, menjadi Jakarta-Surabaya. Sekalipun kami memiliki kesempatan untuk terbang lebih mendekati Mataram dengan mendarat pada bandara Ngurah Rai, Denpasar yang juga terpaksa menerapkan sistem buka tutup mengantisipasi pergerakan abu vulkanik, kami tetap tidak ingin berjudi dengan ketidakpastian itu. Karena kami percaya, jalur darat-laut adalah jalur terbaik sebagai solusi problem ini.

Bus malam yang kami tumpangi dari Surabaya sejak senja kemarin telah tiba pada pintu masuk Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi subuh ini. Halaman parkir pelabuhan sudah cukup ramai dijejali barisan bus sarat penumpang. Aku lantas cepat menghakimi keadaan: kami pasti akan menunggu dan mengantri untuk waktu yang tidak sebentar. Dan waktu yang terus begulir menjadikan malam berbatas pada pagi.

Meninggalkan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dengan latar belakang Gunung Ijen | 2010

Lima tahun yang lalu, aku berjumpa pagi yang belum sepenuhnya bangkit dari pelukan malam di tempat yang sama, di sini. Aku biarkan pagi kali ini mengendap - endap membasahi wajahku dengan belaian cahayanya yang terurai di antara kabut. Aku tersenyum sambil bergumamam mengagumi, 'Kau tidak banyak berubah, wahai matahari muda'.

Bus kami akhirnya berhasil masuk manifes kapal penyeberangan Ketapang - Gilimanuk sekitar pukul sepuluh. Menanti hingga pukul sepuluh siang bukanlah hal yang mengejutkan bagiku. Aku pernah menanti hingga tiga hari tanpa bermodalkan kepastian. 

Pada penyeberangan lanjutan dalam lintasan Bali - Lombok, aku memilih untuk duduk memojok di luar ruangan bersama para penumpang lain berharap agar angin di lorong malam ini dapat merontokkan kegundahan yang timbul dalam beberapa hari terakhir yang telah berkecamuk dan terlanjur lekap di rongga dada. Malam turun dengan deras, bersemutkan gemintang. Kapal terus bergemuruh mencari daratan.

18 Mei 2012
Desas - desus mulai berhembus, bahwa hari ini syahbandar akan mencoba pelayaran pertama setelah empat hari vakum disegel cuaca buruk. Aku dan beberapa penumpang lain sudah sependapat: kami akan menyeberang dengan kapal pertama yang diberangkatkan, apapun itu. Kondektur bus kami pun sudah mengumumkan pada kami bahwa, bus diperkirakan memperoleh giliran masuk kapal ferry satu hari setelah pelabuhan kembali dibuka; karena sebenarnya sudah terdapat banyak kendaraan yang lebih dahulu parkir sebelum kami tiba kemarin. Aku mungkin tidak punya satu hari tambahan terkatung - katung di pelataran parkir pelabuhan penyeberangan ini. Sudah terlanjur keruh kalbu ini dikarenakan tidak dapat hadir pada saat pemakaman ayah dari calon istriku itu.

Pukul sebelas siang aku berjalan cepat dengan mengantongi tiket penumpang kapal penyeberangan menuju dermaga dua, berharap masih ada ruang untukku sebatas duduk bersandar pada rangkaian perjalanan yang kian menit kian melelahkan ini. Kutinggalkan sebagian barang - barang pada bagasi bus sembari aku titip pesan kepada sang pengemudi untuk sudi kiranya memberikan kabar apabila bus sudah tiba di Mataram esok hari. 

Kapal ferry itu bertolak menembus sisa - sisa amukan badai kemarin, membelah rentetan gelombang yang mengikat hati untuk tetap bermunjat dalam setiap kayuhan kapal ini melaju. Tidak pernah aku rasakan sebelumnya hempasan ombak setengah beringas yang menyebabkan kapal ferry ini berguncang tiada jeda. Namun, tekad bulat untuk segera kembali ke rumah lah yang menghapuskan kosakata 'takut' pada hari itu. Kapal ferry itu membelah laut dengan gagah dengan separuh penumpang yang mungkin menyimpan perasaan gelisah.

Aku melihat adikku sudah menanti pada pelataran parkir pelabuhan penyeberangan Lembar saat ramp door mulai menyentuh bibir dermaga.

Sepuluh Hari Terakhir Pada Ramadhan 2012
Terhitung sejak tahun ini aku tidak lagi membutuhkan mudik. Rasanya ada yang lenyap tak terganti; menjadi liang rindu baru hingga saat ini. Aku akan menyudahi pembelian tiket bus malam Yogyakarta - Mataram. Namun setidaknya masih ada yang dapat aku lakukan guna menambal keinginan untuk kembali menempuh perjalanan jauh itu. Jemari ini acap kali gatal menekan tombol remote televisi, mengganti kanal berita hanya sekadar menikmati sajian warta singkat tentang arus mudik. Aku tidak mampu memalingkan tatapan apabila sang jurnalis mengupas situasi di area pelabuhan penyeberangan sementara kamera tengah menyorot lambung kapal yang tengah lengket terikat pada tiang - tiang dermaga.

17 Februari 2017
Kami sedang berdiri menikmati senja di pelupuk sore ini di muka kapal. Aku dan istriku tidak pernah merencanakan perjalanan ini, bahkan tempat bermalam di Bali pun baru aku peroleh ketika kapal telah lunas keluar dari teluk Lembar. Sejak kami menandatangani buku nikah di tahun 2015, ini adalah bulan madu pertama kami ke pulau seberang. Sudah banyak tersusun rencana, tetapi realiasasi hampa.

Menuju pelataran senja di selat Lombok | 2017

Aku hanya ingin berbagi kisah kepada istriku, 'bahwa empat jam terapung di selat Lombok pernah tergambar di garis tanganku sebagai salah satu tahap yang harus aku lintasi untuk menebus rasa rinduku pada tatapan kedua bola matamu'.

Ku tawarkan padanya semangkuk mi instan dalam kemasan dan kukatakan padanya bahwa ini adalah hidangan terbaik untuk menghalau bekunya angin yang ingin menerobos kulit. Kutunjukkan padanya ujung barat dari pulau Lombok yang kerap aku jadikan patok penanda separuh perjalanan telah berhasil ditempuh. Kuceritakan padanya, dahulu aku pernah menyaksikan sekelompok lumba - lumba sekonyong - konyong muncul di permukaan meskipun hanya sekelebat saja. Aku ceritakan juga beberapa nostalgia ringan tentang suka dan duka menjadi manusia yang rindu untuk pulang.

Selfiception | 2017

Sementara di ufuk barat, sang surya sudah bersiap menutup sore dengan bias - bias lembutnya. Guratan jingga larut perlahan di garis tipis cakrawala. Angin turut mendesis dalam lirih. Kami memang belum tiba, tetapi titik kenangan telah terekam sejak detik ini.

06 Juni 2018
Setelah dua hari sebelumnya aku menempelkan jadwal resmi KMP. Legundi ke dalam ruang pembicaraan grup aplikasi Whatsapp milik kantor Dinas Perdagangan Kota Mataram yang bersumber dari laman aplikasi instagram ASDP Indonesia Ferry, beberapa rekan kerja yang memang berhajat ingin menempuh pelayaran Lembar - Tanjung Perak mulai menata rencana kapan akan bersama - sama memasuki kapal. Aku menyaksikan, mereka tengah menuding kalender dinding itu sembari bolak - balik melihat laman jasa penjualan online karcis kapal udara untuk membandingkan berapa besar ongkos transportasi apabila pada arus balik nanti mereka menggunakan jalur udara. Sejak awal sudah kusarankan kepada mereka agar baik saat berangkat maupun pulang nanti untuk tetap bersama - sama dalam kapal yang sama; dengan kata lain bedol desa.

Legundi, akhirnya akan menjadi tempat berteduh sepanjang perjalanan mudik itu ditempuh. Bayang - bayang pulang kampung itu kembali mengusik rongga jiwa menganga yang ingin kembali berlayar, segera.

08 Juni 2018
Aku ingin melihat dermaga; sekali lagi. Tempat cerita - cerita itu semua bermula serta bermuara. Aku ingin menyelami kembali aroma sinar mentari pagi sembari terbelai oleh sang bayu, menyisir koridor di hati yang kian hampa.

Dermaga 2 Pelabuhan Penyeberangan Padang Bai, Bali | 2014

Tahukah anda, bahwa hiburan yang gratis serta terdekat itu adalah menelanjangi bilah - bilah kenangan?

Ukirlah memori itu sekali lagi pada sepanjang laut yang dibelah oleh rasa rindu akan rumah. Ceritakan padaku nanti, apakah engkau sempat berbicara pada punuk - punuk ombak nan sunyi ini. Apakah ada senyum pada kelopak bibir itu mulai tersimpul tatkala sang biduk mulai panjang bersiul. Utarakan pada sinar pijar pagi itu tentang angin malam dalam pelukan temaram. Ceritakan pula padaku tentang dermaga itu; tiada jenuh melihat bahtera yang tengah berlabuh ini ingin lekas menjauh.

Tulisan ini berpartisipasi untuk meramaikan kompetisi blog "Asyiknya Naik Ferry" PT. ASDP Indonesia Ferry. #AsyiknyaNaikFerry

Seluruh gambar yang terdapat dalam badan tulisan adalah hasil pengambilan sendiri.
Pernah menonton film Coud Atlas (2012) ?  Tontonlah, nanti anda akan menikmati timeline yang juga akan terus bergeser. He-He-He.

40 komentar:

  1. Wah ini pengalaman sedang di kapal laut yach mas... asyikkk... :)

    BalasHapus
  2. Dermaga sering kita singgahi disaat saat mudik, asyik tuh lihat banyak kapal sandar di area dermaga

    BalasHapus
  3. Ya ampun, kenapa aku baper bacanyaaa.. Pemilihan diksinya bagus. Dududu.. Bahagia selalu bersama ya kang. Sehat2.. Aamiin

    BalasHapus
  4. suka bacanyaa... diksinya membuatku larut, larut pada cerita dan kenangan hingga aku merindukan lagi naik ferry...

    BalasHapus
  5. kenanganku dari dermaga Surabaya kala itu adalah sebelum dock, di tengah2 laut mabuk berat
    begitu lihat hamparan kayu di daratan, hilang seketika mabuknya

    BalasHapus
  6. Saya belum pernah ke pelabuhan sebelumnya jadi belum bisa bayangin dermaga laut kayak gimana. Tapi keren banget ceritanya mas, seakan saya ikut di dalamnya.

    BalasHapus
  7. Kenanganku di dermaga menatapmu tak berkedip
    samudra luas membiru
    sebiru rindu ini yang masih setia menunggu kepulanganmu

    BalasHapus
  8. Ingat lagunya Ebiet G Ade yang berjudul Camelia.

    BalasHapus
  9. Foto yang terakhir itu cakep banget mas. Suka suasananya :)

    BalasHapus
  10. Baca keseluruhannya jadi seperti ikut terhanyut ngerasain kisah panjang perjalanan ...

    Aku pribadi juga pernah ngerasain kerja di perantauan dengan kisah yang berliku (kayak novel kalo dibukukan 😁)

    Penasaran sama Epenkah Cupentoh .... , kayak apa itu sitkom nya ya ?

    BalasHapus
  11. Pengalaman yang luar biasa, saya pernah naik kapal dari bali kelombok tengah malam ombaknya besar bngt bikin takut, apalagi pas musim hujan

    BalasHapus
  12. Agak dibuat bingung sama tulisan yang bagian tanggal-tanggal itu sih mas. Loncat-loncat...jadi kudu flashback ke part A, misal tahunnya A. Flashback ke part B, misal pas baca tulisan di tahun B.

    Tapi overall, komentar saya sama kaya blogerainnya. Diksinya bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pernah menonton film cloud atlas? bintangnya tom hanks..

      saya terinspirasi dari film itu tentang loncat2 tanggal.. :)

      Hapus
  13. Pengalaman di laut begitu banyak. Tapi, kalau ke Yogya mungkin saat lebaran bisa menikmati endhog abang (makanan khas lebaran)

    BalasHapus
  14. Ferry memang membantu ya, di Kalimantan juga ada.

    BalasHapus
  15. akhirnya blog hebat ini kembali bergeliat dengan tulisan indah yang mengobok-ngobok hati terasa kembali teringat akan kenangan lalu , salam bang dari berpikir positif smp3lembang.blog

    BalasHapus
  16. Keren tulisannya...
    Semoga bisa juara...

    BalasHapus
  17. keren bisa punya dokumentasi tentang dermaga gitu, hehehe. Saluuut! Gud luck ya!

    BalasHapus
  18. Bahasanya mengalun puitis. Cuma bingung engan urutan waktu yang seakan tak urut. Jadi bingung karena tak terbiasa. Apa semacam kolase atau potongan mosaik kenangan. :)
    Ah, dermaga selalu punya banyak kisah. Sayang saya lom pernah ke sana. Dan lom pernah naik kapal. :)
    Semoga menang, ya, Mas.

    BalasHapus
  19. Bapeer..hiks..keren banget masya Allah,saya suka membacanya, semoga langgeng selalu..amiin

    BalasHapus
  20. sebuah pengalamn jika dituliskan menarik ya. cuman saya jadi bingung jadi terasa tak seiring urutan waktunya

    BalasHapus
  21. Seperti diary bersama dermaga..

    BalasHapus
  22. puitis banget, cocok jadi pujangga..
    well, moment mengejar impian memang layak untuk di abadikan..

    BalasHapus
  23. dermaga yang penuh dengan cerita...

    BalasHapus
  24. Keren kalimatnya. Serasa masuk ke dalam cerita itu. Dermaga tempat yg romantis

    BalasHapus
  25. Wow berasa baca diary. Jarang-jarang ada blogger yang nulis blog pake konsep seperti ini. Kreatif :)

    BalasHapus
  26. Sudah lama daku tak melihat dermaga.....

    selamat menyambut lebaran mas, mohon maaf lahir bathin :))

    BalasHapus
  27. aaah, sha serasa baca kenangan maju mundur. Dan istrinya sangat beruntung! :)

    BalasHapus
  28. Wah, pengalaman e naik kapal luar biasa banyak.. keren sekali, bisa sampai terdokumentasikan seperti ini..

    BalasHapus
  29. pengalamana yang luar biasa, soalnya saya belum pernah ke dermaga hehehehe. foto - fotonya juga super kereeennn :)

    BalasHapus
  30. ampuun... :D
    "Tahukah anda, bahwa hiburan yang gratis serta terdekat itu adalah menelanjangi bilah - bilah kenangan?"

    gratis, terdekat, tapi bisa pula terjauh, lho, kak.

    BalasHapus
  31. bahasanya berat, saya mah gak sanggup baca bang :D

    BalasHapus
  32. Udah lama ngga baca blog bahasa puitis begini. Seru juga :)

    BalasHapus
  33. Saya terakhir naik kapal pas ke kepulauan seribu. Pengalaman yang seru. Bisa melihat sunrise dan sunset dari atas kapal itu menambah manis perjalanan

    BalasHapus
  34. Membaca kisahnya dari bait per bait, dari satu subjudul ke subjudul yang lain, rasanya kayak gimana gitu. Apalagi ditulis dg bahasa sastra yang apik.
    Eh'hemmmm...

    BalasHapus
  35. Dermaga telah menjadi latar banyak kisah. Kisahmu dan banyak orang yang pernah menjejaknya. Cerita tentang pertemuan, mungkin juga perpisahan.
    Saia suka :)

    BalasHapus
  36. wah pengalaman naik kapal Ferry banyak sekali, kalo saya baru sekali doang waktu ke Pulau Sabang

    BalasHapus
  37. wah mantap, tidak bisa berkomentar apa-apa

    BalasHapus